Riwayat di Temukan Makam Syeh Quro

12
LEMAHABANG-.,PELITAKARAWANG-..Pada abad ke-17 seorang yang bernama Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias juga,Penganten Sambri.Beliau keturunan Munding Kawangi dari leluhurnya Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran yang di minta bantuaan oleh kesulatn Cirebon,untuk mencari di mana,adanya atau tempatnya Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syekh Quro.

Setelah adanya permohonan dari kesultanan Cirebon tersebut,Raden Somaredja dengan membawa pengawalnya dari,Kesultanan menuju kearah barat yaitu,ke daerah Cianjur,lalu.ke Bogor yaitu,ke dusun Citeurep menemui pangeran Sake turunan dari Syekh Maulana Yusuf dari Banten.

KEMUDIAN,Raden Somaredja menceritakan maksud dan tujuannya.Di tempat itulah,Raden Somaredja mendapat ilham untuk melanjutkan pencariannya ke daerah Karawang hingga sampailah di Kuta Tandingan.Dilokasi tersebut,beliau bertemu dan di sambut baik oleh Eyang Sarpi.Karena Raden Someredja orang yang baik hati dan cerdas,oleh Eyang Sarpi di angkat menjadi menantu atau di nikah kan dengan salah seorang putri angkatnya yang bernama Nyai Anisa.

Pernikahan Raden Someredja dengan Nyai Anisah,di karuniai tiga putra yaitu:
1.Raden Suryadiredja alias Dji’in
2.Raden Suryadidjaya alias Mian
3.Raden Suryawidjaya alias Embeh.

Dari ke tiga turunan inilah,yang telah menurunkan para pemimpin desa Pulokalapa dan Pengurus Makom Syekh Quro.sejak punya anak pertama Raden Suryaredja alias Dji’in,maka Raden Somaredja di sebut Ayah Dji’in dan Nyai Anisah istri nya di sebut Ma INI.Eyang Sarpi sebagai mertua dari Raden Somaredja,mengingatkan agar Raden Somaredja segera melanjut kan perjalanannya.

Seterusnya,Somaredja beserta keluarga dan para pengawalnya,melanjutkan lagi ke daerah Karawang sebelah Utara hingga sampai,ke salah satu perkampungan yang disebut Pulo kalapa dan sebelumnya,mereka sempat mampir dan istirahat di Kaliwedi.sampai di desa Pulokalapa pada tahun 1850 dan pada waktu itu,Lahannya masih rawa-rawa belantara.yang selajutnya di olahnya oleh Raden Somaredja,menjadi lahan pertanian yang subur.

Namun pada sewaktu pengelolaan lahan tersebut,ada sesuatu yang aneh,di suatu lahan yaitu,di Tanah Timbul.karena di situ selalu banyak binatang-binatang buas dan berbisa,seperti ular,harimau dan sebagai nya.Bahkan,di tempat itu setiap malamnya,terlihat oleh Raden Somaredja selalu munculnya cahaya yang bersinar,juga para pengikut Raden Somaredja pun ketika, membuka lahan tersebut banyak yang sakit.

Raden Somaredja semakin penasaran dan berniat untuk meneliti tempat itu.tetapi,setelah ada niatan tersebut di setiap tidurnya,Dia selalu bermimpi dan melihat seorang Ulama Besar yang berpakaian Jubah putih memegang tasbih,sedang bertawasul dan berdzikir kepada allah SWT .hingga tiga kali mimpi itu selalu muncul hal yang sama.Dengan berulangnya mimpi yang sama,lalu Raden Somaredja melakukan istikomah dengan hati yang tulus dan ikhlas.untuk memohon petunjuk dari Allah SWT.

Namun sebelumnya,Beliau melantunkan adzan terlebih dahulu di tempat tersebut,tiba-tiba ada yang menyahutnya,ketika selesai tawasul,di bacakannya salam,ada juga yang menyahutnya.ketika di lihat,di depannya ada cahaya yang bersinar dan bersuara serta mengatakan,bahwa beliau adalah Syekh Quro.tepatnya persis di atas tumpukan bata-bata yang ukurannya tidak sama dengan bata biasa.dan tempat itu sampai sekarang di sebut Kramat Pulobata.

 Makam Syekh Quro.
Atas temuannya itu,Raden Somaredja langsung melaporkan ke keraton Cirebon,sekaligus ingin adanya saksi atas temuan itu.Sehingga,sesuhunan Cirebon mengutus Juru Kunci Astana Gunung Jati yakni ,Kyai Talka atau Kyai Tolakoh,untuk segera pergi ke tempat dimana temuan Raden Somaredja tersebut.

Kyai Tolakoh dan Raden Somaredja setelah sampai di Pulobata, ternyata di tempat yang sama itu masih ada cahaya yang bersinar dan terbayang dan, kelihatan oleh keduanya.seseorang yang berpakaian jubah putih memegang tasbih yang sedang berdzikir.

Dan ketika di beri salam,bayangan orang yang sedang berdzikir itu,lalu menjawabnya sambil memberikan pesan,“ JAGA DAN PELIHARALAH TEMPAT INI,INSYA ALLAH AKAN MEMBAWA KEBERKAHAN UNTUK SEMUANYA“.

Setelah itu,bayangan dan sinar tersebut menghilang tanpa wujud.Pada waktu itu,bertepatan pada Hari Jum’at malam Sabtu Kliwon akhir bulan Rewah atau Sya’ban tahun 1277 H / 1859 M . Sejak itu,Raden Somaredja dan Kyai Talka melaporkan temuan tersebut ke kesultanan ,sehingga para ulama Kraton Cirebon berkunjung ke tempat tersebut.untuk melakukan istigosah bersama, dan ternyata semua sependapat dan meyakini ,bahwa di tempat itulah ,Keberadaan Makam Karomah Syeh Quro.Kemudian tempat itu diberi tanda,dengan membawa Batu Jahul / Batu nisan dari Cirebon.

Hal tersebut,di perkuat oleh Sunan Kanoman Cirebon yaitu, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin saat berkunjung ke tempat itu dan surat,penjelasan sekaligus pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII Nomor : P-062/KB/ PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 05 Nopember 1992 yang di tunjukan kepada kepala Desa Pulokalapa.Dari sejak itulah,Disetiap Jum’at malam Sabtu akhir bulan Sya’ban diperingati Haul Syeh Quro dan di setiap malam Sabtunya,ribuan jamaah mengadakan Dzikir / Tawasul Akbar di Makam Syeh Quro Dusun Pulobata Desa Pulobata Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang.

Atas amanah tersebut,Raden Somaredja memelihara tempat itu hingga wafatnya,pada tahun 1916 Masehi dan dimakamkan di Dusun Krajan I Desa puloklapa.Untuk mengenang jasa-jasanya, makam Raden Somaredja pun di setiap harinya ramai di kunjungi peziarah.

Sebelum Raden Somaredja alias Ayah jiin atau Pangeran Sambri yang turunan Munding Kawangi Raja Galuh Pakuan Pajajaran meninggal,Beliau memberikan pesan atau wasiat kepada turunanya,untuk melanjutkan melihara makam Syeh Quro dan Syeh Bentong dipelihara dan dikelola oleh turunan Raden Somaredja.

Demikian sejarah ditemukannya Makam Syeh Quro ini, di ambil dari keterangan Raden Suryadidjaya alias Bah Mian atau Mail ,putra kedua Raden Somaredjan yang ketika wafatnya berusia 105 tahun dan, di makamkan di dekat Makam Syeh Quro Pulobata pada tahun 1950 Masehi.

Ada pun turunan Raden Somaredja yang ke satu Raden Suryadireja ( Dji’in ) dan Raden Suryawidjaya ( Embeh ),setelah wafatnya di makamkan di dekat makam Raden Somaredja di dusun kerajan I desa Puloklapa.

Pada waktu pemerintahan desa di pimpim oleh lurah Anderan tahun 1926,turunlah peraturan dari pemda melalui surat Camat,bahwa di setiap tanah Gege atau Tanah Mati adalah,hak desa. Dan pada tahuin 1957,turun lagi peraturan bahwa,pengelola makam tersebut akan di ambil alih oleh Pemda.sehingga turunan Raden Somaredja merasa resah mempertahankan amanah.maka terjadilah suatu sidang dan,di lanjutkan dengan musyawarah yang dihadiri oleh turunan Raden Somaredja,Kepala Desa,Camat,Wedana,Bupati dan Residen Purwakarta. Musyawarah tersebut,menghasilkan suatu kesepakatan , Bahwa yang berhak mengelola makam Syeh Quro adalah pemerintah desa Pulokalapa dan, Turunan Raden Somaredja.

Melalui kisah ini,Sebuah pesan untuk kita semua,khususnya para pengunjung atau jamaah pecinta Waliyullah Syeh Qurotul;ain dan, Syehk Abdilah Dargom / Syeh Darugem atau Bentong,hendaknya tempat yang penuh karomah ini, Tidaklah di salah hartikan dan, di iklaskan segalan sesuatunya.Maka Insya Allah kita semua akan mendapat keberkahan-nya.Amiiien ya robbal alamiin…./Ikhtisiar @ redaski.
Posting Komentar