Kisah Pasien Sakit Jantung Meninggal di Rumah Sakit Bintang Lima "RSUD Karawang"

0

Karawang - PEKA-.Titih Maesaroh, 60 tahun, meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karawang Selasa dini hari, 31 Januari 2017. Rosman, seorang kerabat pasien mengatakan, Titih meregang nyawa ketika menunggu ruangan untuk dirawat. Pasien yang mengidap sakit jantung itu meninggal tanpa sempat mendapat ruangan.(01/2/2017)

Titin datang ke RSUD Kabupaten Karawang pada Senin, 30 Januari 2017. Namun, belum turun dari mobil, nenek asal Dusun Pondok Bales RT 01 RW 01, Desa Lemah Subur, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang itu ditolak oleh seorang satpam. "Ruangan penuh, silahkan cari rumah sakit lain" ujar Rosman, seorang kerabat korban, menirukan perkataan satpam. 

Saat itu, Rosman mengantar Titih ke RSUD Karawang. Ketika menepikan mobilnya di akses masuk instalasi gawat darurat, Rosman disambut seorang satpam berseragam hitam.  Satpam itu bertanya apakah apakah Rosman membawa pasien melahirkan. "Kalau bukan pasien melahirkan, silahkan cari rumah sakit lain," ujar Rosman. 

Sementara itu, Direktur RSUD Karawang, Asep Hidayat Lukman membantah telah mengabaikan pasien Titih. Ia mengaku sudah melakukan penanganan kepada korban. "Saya sudah menginstruksikan petugas untuk memasukkan Titih ke IGD. Walau dibaringkan di blankar," kata dia. 

Bahkan, tambah Asep, Titih sudah ditangani secara maksimal. "Kami sudah memberi infus dan obat - obatan yang dibutuhkan. Namun umur di tangan Allah. Kami hanya berusaha sesuai kondisi dan kemampuan kami," tutur Asep. 

Asep mengatakan, meski baru saja mendapat akreditasi tingkat paripurna bintang lima dari Joint Comision International pekan lalu, kapasitas RSUD Karawang tidak sanggup menampung pasien yang membludak setiap hari. "Ruang ICU kami hanya sanggup menampung 8 pasien," kata Asep saat dikonfirmasi. 

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karawang adalah salah satu dari empat rumah sakit di Jawa Barat yang mendapat penghargaan bintang lima dari Joint Comision International. Lembaga itu dikenal kerap mengakreditasi rumah sakit. Dengan titik berat peningkatan kualitas pelayanan medis dan keselamatan pasien. 

Untuk kualitas pelayanan, JCI melakukan penilaian mulai dari tingkat bawah atau ofice boy hingga direksi. Sedangkan penilaian kedua yaitu tentang keselamatan pasien yang ditangani rumah sakit.
 
"Untuk dua hal ini kita dinilai baik sehingga diberikan akreditasi paripurna bintang lima. Ini akreditasi paling tinggi yang diberikan dan di Jawa barat hanya empat rumah sakit yang mampu mendapatkan akreditasi paripurna bintang lima," kata Asep.#oca
Posting Komentar