Astagfirullah, Uang Hasil Pungli Digunakan Untuk Mabok

0
KARAWANG - PEKA - Astagfirullah, uang hasil praktik pungutan liar (Pungli) yang masih saja terjadi di Kabupaten Karawang, digunakan untuk "mabok". Bahkan dengan berbagai alasan nampaknya sudah mendarah daging di Kabupaten Karawang. 

Ilustrasi
Tak terkecuali Tugu Proklamasi Rengasdengklok yang menjadi tempat bersejarah dimulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tak luput dari praktek tersebut. 

Para pengunjung yang hendak menikmati wisata sejarah pun ketika memarkirkan motornya turut diminta sejumlah uang oleh beberapa anak muda dengan alasan sebagai uang kebersihan.

Seperti yang dialami  AG (26) , Warga Kecamatan Karawang Barat mengungkapkan, setelah ia memasuki wilayah Tugu Kebulatan Tekad dekat lapangan upacara, karena mencari handphonenya yang jatuh. Ia memarkirkan motornya di depan pagar, walaupun sebentar beberapa orang anak muda mendatanginya dan meminta uang dengan alasan uang kebersihan.

"Saya hanya sebentar memarkirkan motor di depan, kok tiba-tiba diminta uang kebersihan? tanyanya kepada anak-anak muda itu. Apakah uang ini masuk ke Pemerintah Daerah Karawang atau masuk kantong sendiri? setahu saya kebersihan sudah menjadi tanggung jawab Dinas terkait, UPTD Kebersihan kok masih diminta?," ucapnya.

Dirinya menyayangkan aksi pungutan-pungutan liar seperti itu, karena menurutnya Tugu Proklamasi merupakan tempat bersejarah yang membuat para pengunjung dari luar Rengasdengklok datang dan bahkan dari luar kota.

"Para pengunjung merasa keberatan jika diminta uang, bahkan dulu waktu tanggal 17 Agustus kemarin, 1 mobil ada yang diminta sampai Rp 5.000. Bagaimana para wisatawan merasa betah kalau niat ingin berkunjung saja harus diminta uang? uang itu larinya kemana? "jelasnya.

Dia mengungkapkan kekesalannya, karena dengan adanya pungutan tersebut membuat beberapa pengunjung tidak nyaman ketika melakukan wisata sejarah di Rengasdengklok apalagi yang sudah jauh-jauh dari luar kota datang hanya untuk melihat Rengasdengklok.

"Kalau masuk ke Pemda sih ya tidak apa-apa, tapi ini larinya kemana uang itu? Dikali ratusan kendaraan, nilainya cukup besar per harinya," pungkasnya.

Sementara itu, menurut salah seorang warga desa Rengasdengklok Selatan, Kusnadi, pungutan liar di tempat sejarah bukan merupakan hal yang baru, karena praktek ini sudah berlangsung cukup lama dan dibiarkan terus menerus, sehingga bertumbuh subur.

"Udah lama pak, ini mah udah biasa? Paling juga uangnya dipakai sama anak-anak muda buat mabok, kalau yang saya tahu sih seperti itu," pungkasnya.#oca-fr.
Posting Komentar