Bangun Infrastruktur Desa Besar-Besaran, Bahan Material Menipis - PELITA KARAWANG

Breaking

Post Top Ad

Selasa, 06 Juni 2017

Bangun Infrastruktur Desa Besar-Besaran, Bahan Material Menipis

KARAWANG - PEKA - Selama Bulan Ramadan, bisa jadi menjadi bulan yang bikin repot bagi Para Kepala Desa tahun ini. Pasalnya, segudang bantuan yang bersumber dari APBN, APBD 1 dan APBD II tumplek bersamaan yang semuanya sama-sama dibangunkan untuk sarana fisik. Namun, akibat banjirnya permintaan, stok material seperti pasir, semen hingga bebatuan mulai lambat terdistribusi akibat menipis.
Bahan Bangunan (Ilustrasi)
Kades Tegalsari Kecamatan Cilamaya Wetan, Nana misalnya. Dirinya tidak menampik adanya kemungkinan kelangkaan di sejumlah material untuk memasok kebutuhan sarana fisik di desa-desa. 

Pasalnya, mendistribusikan semen saja dari biasanya sampai paling lambat 2 hari, saat ini baru datang sekitar 1 mingguan. Tapi kebanyakan di desanya, Dana Desa yang dibelanjakan sebelum Romadon, agak lancar. Tidak tahu untuk saat ini. Karena, untuk membeli kebutuhan seperti batu split, batu belah, dan pasir, pihaknya belanja langsung ke sopir-sopir warga Tegalsari yang punya jaringan langsung. Itu dilakukan hitung-hitung bagian dari pemberdayaan masyarakat setempat, karena lebih murah dibanding di metrial pada umumnya.

"Semen saja, biasanya 2 hari, ini nunggu sampai semingguan, ya mungkin stoknya agak berkurang," Ungkapnya.
Senada dikatakan Kades Tegalurung, Karsim (40), di desanya untuk pembelian material sarana fisik sudah berangsur normal lagi, hanya diawal-awal cukup kewalahan akibat material datang terlambat.

"Alhamdulillah kang, di abi mah ayeuna lancar, waktu awal-awal doang rada kaboler." Ungkapnya.
Wakil Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Karawang, Ombi tak menampik, bahwa banyaknya permintaan desa-desa kaitan sarana fisik yang membutuhkan bahan-bahan material memungkinkan pasokan cukup keteteran di toko-toko bangunan, terutama sebut Ombi pasir dan batu split yang juga dirasakannya lambat pendistribusiannya datang ke desa-desa. Itu dimaklumi karena banyaknya permintaan, bahkan selain bahan-bahan menipis, harga yang ditawarkan juga seiring waktu mengalami kenaikan, yaitu antara Rp 50 - 100 ribuan.

"Ya Mungkin karena banyak permintaan, distribusinya juga jadi lambat datang ke desa-desa," Ungkapnya.#rs-fr.
Posting Komentar