Loading...

Dibuka Seleksi Kadishub Karawang

Masjid Megah Di Tempuran Padukan Arsitektur Negeri Timur Tengah

TERBITKAN PELITA KARAWANG on Senin, Juni 19, 2017

KARAWANG, PEKA - Dibangun selama 2 tahun terakhir, Masjid dilingkungan Pondok Pesantren Baitul Burhan Dusun Jarakah Desa Lemahduhur Kecamatan Tempuran berdiri super mewah. Tak kurang dari Rp 10 Milliar dihabiskan selama proses pembangunan Masjid yang bernuansa Negara - Negara Timur Tengah tersebut. Bahkan, Masjid yang bediri diatas tanah Wakaf hamba Allah asal Telagasari tersebut, memiliki bintang emas 22 Karat diatas kubah seharga Rp 450 juta.

Masjid Jumairoh Baitul Burhan
Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Burhan, KH Sofwan Abdul Goni mengatakan, Masjid Jumairoh Baitul Burhan ini masih dalam masa pembangunan yang diperkirakan menelan waktu 10 bulanan lagi, karena dalam rentang waktu setahun kedepan, tinggal finishing saja kesempurnaan masjidnya sepertu tempat  wudhu, gazebo (tempat istirahat_red), dan  taman-tamannya.  Selama masa pembangunan 2 tahun terakhir, masjid ini dibangun dari sumbangan, donatur dan hamba-hamba Allah tanpa sepeserpun mengandalkan anggaran dari Pemerintah. Berdiri diatas kolam ikan dengan 60 pancang yang masing-masing sedalam 7 meter. 

Masjid ini sengaja dibuat asritekturnya yang memadukan nuansa seni ukiran, bangunan dan kaligrafi ala negara-negara Timur Tengah. Nampak bagian depan gerbang utama seperti Masjid Nabawi, ukiran seni bunga-bunga seperti nuansa Masjidil Haram, mimbar dalamnya seperti Masjid Kuba. Semua itu dirancang oleh Arsitek asal Bandung yang diakuinya baru membangun bangunan Masjid se mewah ini. 

"Tinggi Masjid 20 Meter dengan pancang diatas kolam sedalam 7 meter dan jumlah pancang sekitar 60an, semua dirancang khusus." Ujarnya.
Selain itu, sambung Kiai yang akrab disapa Ajengan Wawan ini, Masjid Jumairoh Baitul Burhan memiliki keunikan tersendiri, sebab, selain menghabiskan cat kaleng berkualitas yang seluruhnya Rp 300 jutaan, juga dipasang lampu-lampu ornamen warna-warni saat malam hari, bahkan memiliki emas 22 Karat seharga Rp 450 juta dibagian bintang diatas kubahnya. Itu sebut Wawan, hasil dari sumbangan yang didatangkan langsung untuk ditempel diatas Kubah Masjid ini, tapi tidak pada bagian bulannya. Karenanya, masjid dengan ukuran nyaris sama seperti Masjid Agung Karawang seluas 50 x 30 meter ini bisa dikatakan menjadi masjid deretan termegah di Karawang. Tapi, sambungnya,  Mesjid Jumairoh ini tidak dibangun untuk rutinitas kegiatan Jumatan bersama masyarakat setempat, melainkan hanya sebatas tempat ibadah, pengajian dan kegiatan santri-santrinya dari berbagai Kabupaten/Kota di Indonesia. 

"Bintang dibagian atas kubah itu emas murni 22 Karat seharga Rp 450 juta, namun di bulannya itu bukan emas, hanya bintangnya saja. Alhmdulillah dapat dari dermawan," Ujarnya.
Lebih Jauh, Kiai Wawan menambahkan, dasar penamaan masjid "Jumairoh Baitul Burhan" sendiri sebutnya,  yaitu memiliki arti lemparan kecil seorang wanita, dengan kata lain Jumairoh/seorang wanita itu adalah kontributor tersebesar suksesnya pembangunan Masjid ini, sebab hampir 40 persen diantaranya penyumbang utama Masjid adalah dari seorang wanita. 

Begitupuun pemilihan warna Masjid kuning ke emasan dan perpaduan kuning dan putih susu, didasari lebih kental nuansa Timur Tengah saja, karena ornamen yang dibuat sendiri adalah perpaduan khas masjid-masjid di Timur Tengah.

"Penyumbang utamanya hampir 40 persen seorang perempuan, makannya kita namai Masjid ini "Jumairoh" atau lemparan kecil dari Seorang wanita, lemparan itu ya sumbangan," ujanya.
Baginya, sebut Wawan, hamba - hamba Allah tersebut digerakan hatinya oleh Allah untuk berpartisipasi membangun masjid Megah setinggi 20 meter bagi para santri ini. Dirinya selalu ingat pesan dari orangtuanya agar memperkaya pesantren dan jangan memikirkan untuk memperkaya diri sendiri. Sebab, memamg faktanya sambung Kiai Wawan, jika diantara pimpinan pesantren memperkaya diri sendiri sementara pesantrennya tidak diperkaya, kadang-kadang keberkahan pesentren berkelanjutannya menjadi tidak maksimal. Untuk itu, dirinya hanya berharap, pesantren dan sarana bagi santri bisa terus tercukupi, betapapun dirinya tidak memiliki apa-apa, karena keberkahan, kejujuran dan keberlangsungan pesantren lebih diutamakan, meskipun suatu waktu dirinya sudah kembali menghadap Allah SWT.

"Abah saya selalu berpesan, perkaya pesantren dan jangan memperkaya diri sendiri," Tutupnya.#rs-fr.

Previous
« Prev Post

Related Posts

Senin, Juni 19, 2017