Menengok Keunikan Masjid "Soeharto" Di Baros - PELITA KARAWANG

Breaking

Post Top Ad

Selasa, 06 Juni 2017

Menengok Keunikan Masjid "Soeharto" Di Baros

KARAWANG - PEKA - Dikenal sebagai Bapak Pembangunan dimasanya, Presiden Soeharto memang tak lekang dari ingatan masyarakat, termasuk warga di Kecamatan Tempuran.

Pasalnya, segudang prototype pembangunan masih banyak berdiri kokoh di Karawang. Salah satunya adalah Mesjid Jamiatul Amal di Dusun Baros RT 12/02 Desa Pancakarya Kecamatan Tempuran. Arsitek yang handal dimasa pembangunan, memiliki keunikan tersendiri dari Masjid yang bisa menampung lebih dari 1000 Jemaah ini, yaitu tanpa tiang.
Pelaku sejarah Pembangunan Masjid Jamiatul Amal Kecamatan Tempuran, Amil Ugih mengatakan, ditahun 1988 dirinya akrab dengan Kepala KUA Tempuran bernama Naif Damanhuri. Kala itu, Naif ini adalah pemilik lahan tanah bersama warga lainnya di Dusun Baros ini. Ditahun itu, kebetulan Camat setempat memberitahukannya bahwa ada program dari negara untuk pembangunan masjid-masjid besar yang saat itu akrab dengan nama "Masjid Soeharto".  

Spontanitas, tak lama lahan-lahan milik H Naif dan warga lainnya dibeli dan siap-siap pengajuannya. Tak lama berselang, benar saja bantuan Mesjid Soeharto ini turun dan dibangunkan oleh tim pekerja langsung dari Ibu kota. Kecuali sebut Ugih, urusan tanah dan pengarugannya dilahan 50 x 50 meter tersebut yang ditanggung swadaya tokoh dan masyarakat setempat.

"Saya dan Kepala KUA ditawari program Masjid Soeharto, ya kita ambil dan ajukan, alhamdulillah dikabulkan," ujarnya.

Lebih jauh Ugih menambahkan, disebut Jamiatul Amal, itu penamaan dari masyarakat sendiri, karena artinya adalah pembangunan sebelum fisik itu adalah berkat amal, dukungan dan support dari jemaah. Meskipun semasa pembangunan Masjid itu dilakukan arsitek dan pekerja dari Jakarta. Bahkan, yang membuatnya dan masyarakat kagum kala itu adalah masjid yang bisa menampung ribuan Jemaah dibangun tanpa tiang, karena semuanya berpancangkan dari pondasi dan sekat-sekatnya saja.

Belum ada sambung Ugih, dimasanya bahkan saat ini, yang bisa membuat Masjid tanpa tiang baik didalam dan diluar ruangan dengan ketinggian bangunan sekitar hampir 20 meteran. Wal hasil, Mesjid ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 8 Agustus 1982 lewat tandatangan Prasasti bersamaan dengan masjid-masjid serupa yang prototypenya sama, seperti Masjid At Tin Pedes, Masjid Lailatul Qodar Desa Ciwulan Kecamatan Telagasari dan beberapa Masjid lainnya di Karawang.

"Saat dikontrol, semua bangunannya sama tanpa tiang, sangat khas dengan 3 perundak atap diatasnya, itu ada dibeberapa Kecamatan, tapi saya lupa," Ungkapnya.

Meskipun dinamai Masjid Jamiatul Amal, masyarakat dimanapun tetap mengenangnya sebagai Masjid Soeharto, walaupun Presiden RI ke 2 itu belum pernah datang ke Tempuran. Sebab, tandatangan yang dibubuhkannya pada prasasti tersebut diantarkan wakil-wakil utusannya ke Mesjid. Hingga saat ini, Masjid yang sudah 3 kali renovasi ini masih terus diisi berbagai kegiatan keagamaan, mulai pengajian, kantor-kantor pusat Kecamatan seperti MUI, BAZ dan DKM, juga beragam kegiatan lainnya.

"Sudah 3 Kali renovasi, sekarang mah pake tiang diluarnya, dulu dalam dan luar tanpa tiang, ini keistimwaannya," Pungkasnya.
Kades Pancakarya, Atta Sutisna Jilun mengatakan, Masjid Jamiatul Amal berdiri sejak desa Pancakarya belum ada, karena masih masuk wilayah Desa Tanjungjaya. Melihat sejarahnya sampai saat ini, Masjid Soeharto ini tidak saja menjadi pusat kegiatan keagamaan dari Desa Pancakarya, akan tetapi juga menjadi ikon Kecamatan. Dimana ratusan pejabat Muspika Kecamatan, ribuan siswa SMP, Pemerintah Desa dan masyarakat melaksanakan kegiatan ibadah seperti Jumatan dan salat fardhu di Masjid ini.

"Masjid Soeharto ini jadi Ikon Kecamatan Tempuran, walaupun saat ini sudah banyak masjid-masjid yang lebih mewah," Pungkasnya.#rs-fr.
Posting Komentar