Ini 5 Fakta tentang Wasit Asal Karawang, Berprestasi

0
KARAWANG.-  Pertandingan dramatis antara Mitra Kukar dan Semen Padang berakhir dengan skor 2-1. Mitra Kukar akhirnya menang sebagai juara pada laga final Piala Jenderal Sudirman yang dihelat sejak 10 November 2015. Mitra Kukar sempat tertinggal terlebih dahulu pada menit ke-32. Keunggulan Semen Padang dihasilkan berkat umpan silang Irsyad pada Adi Nugroho. Melalui sundulannya, Adi Nugroho berhasil menjebol gawang Mitra Kukar.
Sialnya, Yu Hyun Ko diganjar dua kali kartu kuning yang mengakibatkan Semen Padang harus bermain dengan 10 punggawanya. Pada menit ke-78, Mitra Kukar berhasil menyamai kedudukan melalui tendangan bebas Michael Orah dari sisi sayap kanan. Yang lebih mengenaskan, pada menit-menit akhir babak kedua, Yogi Rahadian mampu menceploskan gol ke gawang Semen Padang. Yang menarik, wasit yang memimpin laga final ini mendapat penghargaan sebagai wasit terbaik dalam ajang pertandingan piala Jenderal Sudirman. Thoriq Alkatiri namanya. Nah, bila Anda ingin tahu siapa Thoriq Alkatiri, baca 5 penjelasan di bawah ini:
1. Wasit Muda Berprestasi
Thoriq Alkatiri mengawali karirnya di dunia sepak bola bukanlah sebagai wasit. Pria keturunan Arab ini pernah mewakili Purwakarta di Pialan Suratin U-17. Karena cedera, pria kelahiran 1988 ini, memilih untuk menjadi wasit, dan memulai kursus sebagai pelatih sejak tahun 2006.
Thoriq memimpin pertandingan sebagai wasit di divisi utama Liga Indonesia sejak tahun 2012. Artinya, usianya saat itu baru 24 tahun, dan menjadi wasit termuda di antara wasit-wasit lain di divisi utama Liga Indonesia. Pada tahun 2013, Alkatiri dinobatkan sebagai wasit terbaik kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2013/2014 edisi Februari versi Komite Media PSSI.

2. Memiliki Sertifikasi FIFA
Wasit muda asal Karawang yang baru saja mendapatkan penghargaan sebagai wasit terbaik dalam ajang Piala Jenderal Sudirman ini, berhasil mendapatkan sertifikat FIFA pada tahun 2014. Artinya, pria lulusan Universitas Pendidikan Indonesia ini, sudah berhak memimpin laga-laga internasional seperti The Asian Football Confederation (AFC) bila lolos dalam kualifikasi yang ditentukan FIFA.

3. Sekilas tentang Marga Alkatiri
Alkatiri merupakan salah satu marga Arab Yaman. Dalam bahasa Arab, Alkatiri ditulis dengan al-katsiri. Marga ini merujuk pada salah satu tokoh pembesarnya, yaitu Katsir bin Malik. Agar dalam bahasa Indonesia lebih mudah diucapkan, maka berubah menjadi katir, bukan katsir.
Marga Katsir merupakan penduduk asli Yaman yang bukan berasal dari keturunan Rasulullah Saw. Sementara marga seperti al-Kaf, al-Habsyi, al-Atas, dsb, itu merupakan marga Arab yang nasabnya bersambung pada Nabi Saw.

Selain Alkatiri, pemain terbaik dan top skor pada Piala Jenderal Sudirman ini diraih dua pemain asal Mitra Kukar, Yanto Basna, dan Patrick Dos Santos Cruz, pemain berkewarganegaraan Brazil. Keduanya juga mendapatkan hadiah yang sama dengan Alkatiri.

5. Wasit yang Paling Banyak Bertugas di PJS
Walaupun usianya muda, namun jam terbang Thoriq di Piala Jenderal Sudirman (PJS) lebih banyak dibanding wasit-wasit yang lain. Bola.com mencatat bahwa dari 17 wasit dalam 42 pertandingan, Thoriq Alkatiri bertugas memimpin 5 kali pertandingan hingga akhir babak 8 besar.
Jadi, hingga akhir final kemarin, Alkatiri memimpin 7 kali pertandingan, yaitu saat laga semi final antara Pusamania Borneo FC melawan Semen Padang di putaran pertama, dan laga final PJS.

Sumber: Berbagai Sumber
Posting Komentar