Kurang Kompeten Kelemahan SDM Indonesia

0

KARAWANG-.Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dakhiri menilai angkatan kerja yang kurang kompeten menjadi salah satu kelemahan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

"Padahal, faktor kompetensi ini merupakan kunci yang akan menjadi kekuatan dalam berkompetisi di tengah persaingan global," katanya .

Oleh karena itu, menurut dia, pihaknya menghadirkan Politeknik Ketenagakerjaan yang mulai merekrut mahasiswa angkatan pertamanya pada tahun ajaran 2017/2018 sebagai respons dari minimnya kompetensi angkatan kerja yang memerlukan keterlibatan para pemangku kepentingan (stakeholders).

"Dewasa ini konflik hubungan industrial kian kompleks, oleh karenanya butuh SDM yang terampil di bidang ketenagakerjaan. Jika semua stakeholdersketenagakerjaan memiliki pemahaman yang memadai, maka konflik-konflik yang muncul akan tertangani lebih baik," katanya.

Hanif mengatakan, hadirnya Politeknik Ketenagakerjaan ini merupakan "Proyek Bandung Bondowoso", atau cepat terbentuk, yang turut didukung Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur.

Bandung Bondowoso adalah cerita rakyat Jawa mengenai sepak terjang seorang pemuda bernama Bandung Bondowoso yang mampu membuat seribu candi (Candi Sewu) dalam semalam suntuk. Candi keseribu dalam cerita itu adalah Candi Prambanan yang perwujudan Roro Jonggrang di Jawa Tengah.

Dalam waktu yang terbilang singkat, Hanif menyatakan, Politeknik Ketenagakerjaan itu sudah beroperasi dengan 90 mahasiswa sebagai angkatan pertamanya.

"Animonya pun tinggi karena saat pendaftaran dibuka ada 2.506 peminatnya. Tapi, seleksi akhirnya meloloskan 90 mahasiswa saja," katanya.

Ada tiga jurusan yang dapat dipilih di Politeknik Ketenagakerjaan itu, yakni diploma empat (D4) Keselamatan dan Kesehatan Kerja, kemudian D4 Relasi Industri dan diploma tiga (D3) Manajemen SDM.

Keistimewaan atau keunggulan Politeknik Ketenagakerjaan tersebut, menurut dia, lulusannya tak hanya mengantongi ijazah ketika menyelesaikan pendidikannya, tapi juga sertifikat kompetensi sesuai studi yang dijalani.

"Sertifikat kompetensi ini merupakan tiket untuk memasuki arena persaingan global," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir sependapat dengan pentingnya peran sertifikat profesi menuju lapangan kerja profesional.

"Sayangnya, dewasa ini masyarakat Indonesia masih berorientasi pada gelar akademik. Akhirnya, yang banyak hadir pun ialah institusi pendidikan yang berbasis sains, bukan vokasi," katanya.

Ia mengatakan, saat ini Indonesia hanya memiliki 16 persen institusi pendidikan berbasis vokasi, sisanya masih berbasis sains.

Padahal, ia membandingkan, di Tiongkok proporsinya justru terbalik karena 70 persen institusi pendidikannya berbasis pada vokasi.

"Pola pikir seperti ini harus diubah karena gelar akademik tidak menjamin kemampuan dan keterampilan akan suatu bidang. Justru kompetensi yang diperoleh dari pendidikan vokasi yang menjadi penentu persaingan nantinya," demikian M. Nasir.