Buruh Tani Karawang Sudah Tersisih,Ini Buktinya

0
KARAWANG-,Kemajuan teknologi dibidang pertanian adalah hal yang ditunggu oleh para petani.Mereka berharap kemajuan teknologi tani tersebut bisa mengirit biaya,waktu dan utama hasil panen yang maksimal.Namun pada kenyataan kemajuan yang diharapkan belum bisa memaksimal hasil panen seperti para penggarap sawah di Kecamatan Tempuran Karawang.(6/11/2017).

Kondisi tersebut katanya akibat hama dan penyakit yang makin gencar menyerang dan harga obat-obatan sangat mahal selain kurangnya sosilaisasi dari dinas Pertanian dalam hal PPL.Dan untuk dana persatu hektar  tak kurang dari 10 juta biaya dibutuhkan dimasa kini,menurut narasumber.

Ternyata dibalik keluh dan kesah para penggarap sawah akibat hasil kurang maksimal,ada yang menarik lagi yakni mulai tersisihnya tenaga atau buruh tani di Karawang.Di zaman dulu ada istilah buruh ngarit atau ngagebod namun posisi tersebut tergantikan oleh hadirnya mesin perontak gabah.

Sebut saja Esem namanya,ia warga asal Desa Cikuntul Kecamatan Tempuran.Saat di temui beres ngeprik (ambil sisa padi dipetakan sawah bekas mesin rontok,red),menyebutkan,bahwa dirinya kesulitan mendapatkan gabah seperti ia alami dulu karena para penggrap sawah tidak lagi memperkerjakan buruh tani .Sekarang mah jang ga gampang memiliki padi seperti dulu karena ga bisa ikut ngarit atau ngagebod karena para penggarap sawah lebih memilih menggunakan jasa mesin rontok,ungkap Esem.

Paling-paling bisa ngeprik doang,tambahnya.

Kemudian kata Esem,sekarang mah kalau mau punya gabah  harus nyeblok,itu pun kalau dipercaya oleh pemilik sawah kalau ga ya apalagi kecuali kerja ngeprik atau ngasag,ucapnya lirih.

Saya sebagai buruh tani kalau panen jaman dulu bisa punya gabah lumayan banyak karena hasil bawon (bayaran buruh tani dari pengarap sawah berupa gabah,red),sekarang mah sulit banget ah,pungkas Esem.