Karawang Sedang Dijajah Bank Emok,Ini Fakta dan Akibatnya

0
Karawang-. Kelompok SPP di Unit Pengelola Kegiatan (UPK) sudah jarang bisa diandalkan lagi dalam penagihan setoran. Pasalnya, jeratan Bank emok mulai kronis melanda para nasabah UPK akhir-akhir ini. Akibatnya, selain menomor duakan setoran ke UPK, macetnya pemasukan akibat jeratan ban emok, juga mengancam kolektibilitas tinggi di internal UPK lantaran macet setorannya.(14/11).

Hal itu diungkapkan Bendahara UPK Tempuran, Dede Suryani. Ia mengaku, dari 140 kelompok SPP, hampir semuanya ikut serta meminjam modal juga ke bank emok. Bahkan, akibat macet setoran pada uang simpan pinjam UPK, ia harus turun langsung menagih ke kelompok-kelompok SPP. Saat turun, sebutnya, ia sering dapati hasil nihil karena kebanyakan nasabah justru memprioritaskan setoran ke bank emok, padahal setoran ke UPK hanya berkisar Rp 150 ribuan perbulan, sementara ke bank emok mingguan dengan nominal yang hampir sama,"  Cape pak, saya nagih ke kelompok malah bilang gak ada karena uangnya di pake setor ke bank emok," ujarnya.

Dede menambahkan, saat verifikasi jelang peminjaman diluar dugaan bahwa si A dan si B bisa meminjam uang ke bank emok ditengah perjalanan, karenanya saat ini ia terus menagih, apalagi pada kelompok yang ketuanya juga terlilit bank emok. Sebab, jika macet terlalu lama, kolektibilitas  UPK juga terancam." Ditengah perjalanan siapa yang tahu ternyata banyak nasabah terjerat bank emok," keluhnya.

Ketua UPK Tempuran, Karna mengatakan, Bank emok bentuknya koperasi maupun PT tetap saja menjerat lapisan masyarakat, bahkan yang tanpa usaha sekalipun. Dengan pinjaman yang dilonggarkankan tanpa jaminan, masyarakat sangat mudah tergiur tanpa berpikir besaran bunga yang menjeratnya. Itu pula yang dialami beberapa nasabah UPK, sampai-sampai lembaganya di nomor dua kan dalam hal setoran, padahal aset yang diberikan adalah uang negara, sehingga jika macet berlarut akibat memprioritaskan bank emok, diakui Karna pihaknya bisa keteteran menangani kolektibilitas tunggakan yang akan semakin tinggi. Parahnya juga sebut Karna, ada beberapa nasabah yang sukarela agungkan sertifikat tanah dan lainnya ke UPK akibat habis jeratan oleh bank emok. Sementara UPK, tidak pernah meminta agunan ataupun jaminan lainnya mana kala nasabah menunggak, karena yang diminta UPK adalah seorang berupa uang. Itu mungkin, akibat banyaknya masyarakat yang sudah kewalahan akibat pinjaman bukan di satu pos bank emok saja, tapi dibeberapa yang lainnya."  Kalau dinomor duakan terus ya kolektibilitas tunggakan kita akan tinggi,"ujarnya.


Penulis:Ruri
Editor : Farida
Posting Komentar