Soal Komplek Syekh Quro ,Ini Pesan Keturunan Raden Sumadireja - PELITA KARAWANG

Post Top Ad

bkd
Soal Komplek Syekh Quro ,Ini Pesan Keturunan Raden Sumadireja

Soal Komplek Syekh Quro ,Ini Pesan Keturunan Raden Sumadireja

Share This
Karawang,- Wacana pembangunan komplek makam Syekh Quro di Pulomasigit Dusun Pulobata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang, kembali menggeliat tahun ini. Namun, ada titipan pesan dari turunan ketujuh Raden Sumadireja atau Abah Jiin penemu makam Syekh Quro, sebelum tanah komplek makam itu beralih menjadi Aset daerah, yaitu soal pengelolaan komplek makam yang tidak boleh digarap diluar keturunan, baik petugas kebersihan, kuncen makam dan pengelolaan lainnya.

Dikatakan Keturunan ketujuh Raden Sumadireja alias Abah Jiin, Nawi, pihak keturunan dan tokoh berkeyakinan dalam satu masa Masjid Syekh Quro ini akan menjadi masjid terbesar di Asia dan entah kapan masanya itu tiba. Namun, ditengah hiruk pikuk pembangunan komplek makam Waliyullah yang berulangkali tertunda, pihaknya selaku keturunan ketujuh dari Abah Jiin sudah menerima jika ada pengembangan dan revitalisasi komplek makam oleh pemerintah, namun dengan syarat,para pengelola di dalam komplek makam, harus para keturunan dari Raden Sumadireja. Ini sebut Nawi,bukan maksud dari hasrat keinginan penguasaan komplek makam, namun tidak lain adalah sebagai suatu etika dan pesan khusus para sesepuh agar bisa diwujudkan, mulai petugas kebersihan, kuncen makam dan lainnya." Sesepuh dan para keturunan Abah Jiin sudah terima jika ada revitalisasi komplek makam, cuma dengan syarat itu " Katanya.

Dengan keterlibatan para turunan Abah Jiin ini, etika masyarakat dan sesepuh sudah sangat baik. Namun, sambung Nawi, bukan berarti menafikan peran masyarakat dan pemerintah desa, sebab para keturunan Abah Jiin juga terbuka atas keterlibatan pemerintah desa maupun masyarakat sekitar, namun itu diluar komplek makamnya, seperti pengelolaan parkir, karcis, kebersihan, ekonomi dan lainnya, karena yang dipesankan pihaknya hanya didalam komplek makam saja sebagai adab dari leluhur yang sudah menemukan Makam Syekh Quro tersebut. "Pemerintah Desa dan masyarakat masih bisa terlibat seperti biasa, tapi itu diluar komplek makamnya," Katanya.

Nawi menambahkan, selama proses ajuan anggaran ke Provinsi sebesar Rp 33 Milyar, pihaknya berharap, lahan diseputaran komplek makam segera dialihkan ke aset daerah,  karena, proses pembangunan tidak akan terlaksana kalau tanah yang akan dibangunkan pesantren dan Masjid Syekh Quro ini belum resmi di legalkan sebagai aset daerah. Untuk itu, realisasi Rp 33 Milyar ini sudah batal dua kali dengan alasan teknis, sehingga jangan sampai ini bisa kembali batal, hanya gara-gara urusan tanah. Ia berharap, segala maksud dan niat baik untuk revitalisasi makam ini bisa berjalan lancar, baik dari tokoh, sesepuh dan pemerintahnya kompak memajukan wisata sejarah di Desa Pulokalapa ini,  " Saya menduga batalnya pembangunan ya karena soal tanah yang belum beralih menjadi Asset Daerah," Ujarnya.
Posting Komentar

Post Bottom Ad

budpar'