Diduga Calo Gabah di Karawang Kangkangi Petani dan Tengkulak


PELITAKARAWANG.COM-.Jika ada yang menyebut Tengkulak alias bandar yang menjadi pemain harga gabah dilapangan, nampaknya sudah jarang terjadi lagi. Pasalnya, keganasan Calo gabah saat musim panen, sudah banyak mengangkangi tengkulak dan petani. Tak tanggung-tanggung, mata rantai calo dari mulai calo wilayah sampai calo harga, meraup untung Rp 10 ribu perkwintalnya, ulah para calo juga kerap memanfaatkan selisih harga gabah dari tengkulak ke petani.(21/05/2018).

"Kalau harga kering dan mahal, memang masih untung, tapi kalau murah masih di calo, ini makin mencekik petani." Kata petani asal Desa Kiara Kecamatan Cilamaya Kulon, Agus Suryana (58).

Calo wilayah, sebutnya sudah marak dan dianggap lumrah karena memang tiap desa selalu ada, yang lebih merepotkan lagi adalah calo yang mengganjal harga gabah yang juga dari Tangkulak, dalam artian sudah petani ditawari harga, Tengkulak atau bandar pemilik modal uangnya  juga digentak, sehingga harga ke petani itu sesukanya calo, padahal tengkulak sudah memberi sen harga, tapi dipotong oleh Calo dengan selisih Rp 2 - 3 ribuan perkilogram gabah." Kalau yang wilayah sih selalu ada, tapi yang bikin pusing juga itu calo yang suka ganjel harga," keluhnya.

Petani asal Lemahabang, Kari (45) mengatakan, segerombolan calo semakin membuat resah para petani setiap kali panen, apalagi di musim panen kering dengan harga yang dianggap menguntungkan. Calo gabah adalah mereka yang menawari petani ke Tengkulak atau bandar, sehingga tengkulak dengan petani tidak bisa transaksi langsung. Karena dengan ada calo gabah itu, harga dari Tengkulak Rp 500 ribu perkwintal misalnya, calo gabah mengeksekusi harga ke petani Rp480 ribuan perkwintalnya, sehingga dalam satu kwintal petani kehilangan harga Rp 20 ribuan, jika dikalikan dengan tonase sudah berapa juta calo meraup untung dari "Comblang' harga tersebut. Yang lebih parah sebut Kari, uang dari Tengkulak sudah dibayarkan ke Calo untuk kemudian diteruskan ke Petani pemilik, justru masih dihutang, bahkan tak sedikit merugi dan uangnya dibawa Calo bertahap,  karena tangkulak bayar lewat Calo, tidak langsung ke petani. " Harga dari Tengkulak mah stabil, tapi dipotong selisih sama Calo biasanya, walaupun Rp 20 ribu perkwintal, tapi kalau tonase kan berapa jutaan, mending dibayar langsung, banyaknya juga dihutang. Sementara jatah Calo itu dibayar Cash dari Tengkulaknya, " sesal Kari.

Petani asal Desa Karangtanjung ini menambahkan, belum beres calo gabah, ada juga calo wilayah yang tugasnya cheking mobil truck angkut gabah. Mereka menjatah Rp 10.000 perkwintalnya, bayangkan sebut Kari,  jika disatu desa petani ratusan hektar dengan angkutan truck lebih dari 10 unit saat panen, karena jika dirata-rata 1 truck dengan tonase 5 ton saja Rp 1 jutaan, calo wilayah dapati Rp 10 juta sehari. Kondisi ini membuat petani kewalahan, sebab biaya modal juga masih panjang, belum lagi sekarang ini sawah itu lokasinya jauh ke perkembangan, karena jarang ada yang Sudi ngangkut, petani memanfaatkan jasa ojek gabah dari sawah sampai ke perkampungan, biayanya Rp 7- 10 ribu setiap 3 karung diangkut. " Tak jarang sesama Calo juga ribut karena selisih harga beda dari yang satu dengan yang lain, sebab bisnis jatah ini sangat menguntungkan,," katanya.

Ia berbicara seperti ini sebut Kari melanjutkan, bukan karena anti pada calo, tapi alangkah lebih baiknya pemerintah menertibkan lebih rapi dalam sebuah wadah koperasi atau lainnya dibawah pengawasan kepolisian atau TNI. Sebab, permainan harga tidak jadi soal bagi petani karena sifatnya tawar menawar, tapi antar calo ini nanti yang bikin resah masyarakat. " Saya gak anti calo, silahkan nyari duit mah, cuma yang wajar saja, bersaing antar calo dan harga sepatutnya, kalau bisa tengkulak bayarnya langsung ke petani, selama ini kan enggak," herannya.

Diberdayakan oleh Blogger.