Kisah Pilu Kakek Sebatang Kara, Bermodalkan Alat Musik

PELITAKARAWANG.COM -  Hidup bermodalkan alat musik lawas dijalani Kakek renta bernama Abah Rohim diusia mudanya. Kakek kelahiran 1939 yang tinggal di Dusun Tegalwaru RT 11/ 07 Desa Tegalwaru ini kecamatan Cilamaya Wetan ini menjali kehidupannya sendiri dibalik gubuk bambu tanpa anak dan istri, bahkan tanpa data kependudukan yang lengkap seperti KTP el dan KK, Gakin yang menggeluti seni musik ini hanya mengandalkan uluran tetangganya untuk sekedar makan dan minum.

"Kabeh jenis musik gah bisa, zaman muda mah sering ngamen, dari dulu juga tinggal disini, sekarang sudah banyak yang di rasa," tutur Abah Rohim.

Dirinya tinggal sendirian saja di rumah, makan , minum bahkan sakit dirinya hanya urus sendiri. Karena jika keluar, juga tidak punya data-data kependudukan. "Pasrah saja, gak punya siapa-siapa mah, " ujarnya.

RT setempat, Encek mengatakan, Abah Rohim hanya memiliki KTP Siak yang kelahirannya asal Subang. Tinggal di Tegalwaru, diakuinya memang sudah lama, namun kehidupannya ia jalani sendiri digubuk sejak lama. Sebab, konon sudah menikah dengan orang Subang, tapi tidak dikaruniai anak sampai meninggal istrinya, kemudian Bah Rohim ini kembali menikah dengan orang Dusun Parean Muara, dan dikaruniai dua anak, yang satu meninggal dan yang satu perempuan sampai saat ini belum tahu, karena belum pernah menengok ke Tegalwaru bertahun-tahun. 

Kabar yang tidak pernah jelas, Bah Rohim memilih hidup sendiri saja dimasa tuanya. "Ya sudah nikah dua kali, istrinya ya sudah meninggal semua, anaknya juga yang satu sudah meninggal, dan yang satunya gak tahu dimana," katanya.

Kades Tegalwaru, Aruji Atmaja mengatakan, menyikapi Bah Rohim diakuinya sempat bingung, karena jangankan dapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk lansia termasuk Beras Sejahtera (Rastra), data kependudukannya saja tidak dimiliki. Begitupun rumah, gubuk dan tanahnya juga bukan hak milik, melainkan nempong di tetangganya bertahun-tahun mengatakan, untuk itu kiranya, secara pribadi ia memohon kepada pemerintah minimalnya Pemkab, supaya Orang Jompo mendapat ini bisa ada subsidi berupa santunan setiap bulan, karena PKH dan BPNT saja masih banyak yang kurang valid, contoh Abah Rohim yang ahli seni musik ini, seharusnya memang jadi sasaran, tapi kenyataannya tidak pernah dapat program apapun dari Pemerintah, " yang jelas Jompo seperti Abah Rohim ini tak punya, tidak usaha dan  sebatangkara juga tidak di perhatikan sama sekali." Rumahnya nempong, kamarnya juga dibikinkan sama Ketua RT setempat," ujarnya.
Diberdayakan oleh Blogger.