• Breaking News

    KTNA Cilamaya Minta Pengadaan Open Padi

    PELITAKARAWAG.COM - Setiap musim, kerawanan padi basah berpeluang terjadi. Namun, mengantisipasi harga gabah yang anjlok mendadak akibat faktor alam, pengadaan Dryer alias mesin open padi mendesak diperlukan untuk menopang harga gabah ditingkat petani.

    Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Cilamaya Wetan, Ratam Sudiar mengatakan, sejauh ini apa yang menjadi persoalan petani masih belum dijawab oleh Pemkab. Utamanya bantuan-bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) yang selama ini turun. Masalah normalisasi saluran yang banyak rusak membuat petani kewalahan dalam hal pengairan yang menjadi kebutuhan dasar tanaman padi. 

    Sebab, saluran yang mampet, membuat arus air macet dan mengancam pertanaman, apalagi golongan air di wilayah hilir. Maka secara kelembagaan dan kelompok tani, banyak yang berharap agar Pemkab bisa menjawab semua kebutuhan air itu setidaknya dengan normalisasi kali dan saluran ." pertama yang diharapkan itu ya normalisasi lah di perbanyak, air di wilayah hilir itu kan sangat di butuhkan," Katanya.


    Ratam menambahkan,  setiap kali panen, harga gabah selama ini sulit di raba, karena diterpa angin dan hujan saja seperti rebah sudah basah mendadak dan membuat harga spontan anjlok. Maka, karena gabah basah perlu adanya pengadaan Dryer atau alat open padi. Ini diperlukan agar harga gabah stabil dan tidak harus mengeluhkan omsetnya menurun. Tapi sayangnya sebut Ratam, open padi selama ini hanya ada swadaya yang rata-rata ada di penggilingan padi. 

    Untuk itu, pengadaan untuk memperbanyak agar kiranya ditambah Pemkab, dengan kapasitas 10 - 20 ton. Itu demi stabilisasi harga gabah di lapangan, minimalnya satu desa satu. " Petani keluhkan harga gabah kalau anlok akibat basah, maka perlu dilengkapi dryer atau alat open padi kapasitas 10-25 ton minimalnya satu desa satu unit," Katanya.

    Senada dikatakan Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Karawang, Fradifta Akbar. Persoalan paling krusial bagi petani yang dibutuhkan itu komplek, tapi sekurang-kurangnya ada tiga, yaitu pengairan, pupuk murah dan harga. Maka Pemerintah sebut Abay, harus hadir menjawab tiga persoalan itu, sebab selama pupuk mahal dan  sulit pengairannya dan harga yang tidak bisa stabil, mustahil petani bisa sejahtera. Karena, diplbanderol harga Rp 4,5 ribu perkilogramnya saja, gabah itu belum bisa menjawab modal utama. 

    Karenanya, ia berharap, apa yang menjadi rekomendasi KTNA Itu bisa dijawab optimal, baik normalisasi untuk salurannya lebih optimal, pupuk mudah dan murah hingga harga yang stabil dan penopangnya seperti dryer tersebut. " Tiga hal yang harus dijawab pemerintah itu adalah normalisasi, pupuk dan stabilisasi harga gabah," Katanya.
    Posting Komentar


    Post Bottom Ad