'Gincu' Artis di Kontes Caleg, Cara Instan Parpol Keruk Suara


PELITAKARAWANG.COM - Partai-partai politik peserta Pemilu 2019 baru saja mendaftarkan bakal caleg DPR ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Latar belakang bakal caleg DPR yang didaftarkan parpol cenderung beragam. Dengan kata lain, tidak hanya politikus saja yang diusung menjadi calon wakil rakyat.

Salah satu latar belakang bakal caleg DPR yang diusung sebagai bakal caleg DPR yakni pegiat dunia hiburan atau artis. Fenomena artis nyaleg ini selalu menarik perhatian publik saat pemilu berlangsung.

PDIP, dengan bangga mendaftarkan sejumlah artis ternama. Partai pemenang Pemilu 2014 itu mendaftarkan Krisdayanti, Ian Kasela, Angel Karamoy, Jeffrey Woworuntu, Kirana Larasati, dan Harvey Malaiholo.




NasDem tak mau ketinggalan. Mereka mendaftarkan Nafa Urbach, Olla Ramlan, Manohara Pinot, Wanda Hamidah, Tessa Kaunang, Syahrul Gunawan, Farhan, Jonathan Frizzy, dan beberapa artis lain. NasDem pun mengusung atlet tinju ternama Chris John.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga ikut-ikutan. PKB mendaftarkan Farhat Abbas, Tommy Kurniawan, Sundari Sukoco, dan beberapa artis lainnya.

Pun demikian dengan beberapa partai politik lain yang juga mengusung sejumlah pesohor dari dunia hiburan.

Kedangkalan Parpol Memahami Politik

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menyayangkan sikap parpol yang tak sungkan mendaftarkan artis sebagai bakal caleg. Menurutnya, fenomena tersebut menggambarkan bahwa parpol mendegradasikam kualitasnya sendiri hingga ke titik terendah. 

"Yakni tak lebih sebagai event organizer saja," ujar Haris, Rabu (18/7).

Haris menilai iktikad parpol mengusung artis sebagai bakal caleg adalah implikasi dari parliamentary threshold atau ambang batas parlemen 4 persen. Merujuk dari UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu, parpol dapat lolos ke parlemen jika meraih suara nasional lebih dari 4 persen.



Menurut Haris, parpol cenderung pragmatis demi meraih suara di atas 4 persen. Sikap pragmatis itu kemudian dilakukan dengan mengusung para artis, terutama yang populer, untuk menjadi bakal caleg DPR. Haris menegaskan bahwa itu dilakukan parpol semata-mata demi meraih banyak suara dan mengamankan kursi di parlemen.

Faktor lain yang membuat parpol tak sungkan mengusung artis, menurut Haris, lebih berkutat kepada masalah prinsip. Faktor ini tidak kalah mengkhawatirkan.

"Tidak adanya komitmen ideologis parpol terhadap arah politik dan demokrasi kita ke depan, sehingga memilih cara instan," katanya.

Fenomena mengusung artis sebagai calon wakil rakyat meski tak punya pengalaman politik juga menunjukkan bahwa parpol semakin dangkal dalam memahami representasi politik yang diemban oleh wakil rakyat di parlemen. 

Tidak tanggung-tanggung, Haris pun menyatakan bahwa parpol kini semakin berjarak dengan rakyat.

"Partai begitu fasih bicara kepentingan rakyat, tapi mereka tidak mengerti apa esensi yang dipidatokannya kecuali sekadar gincu belaka," ujar Haris. 



Keadaan ini yang membuat parpol semakin tak merakyat. Padahal rakyat adalah asal parpol itu berpijak untuk kemudian diwakilkan di parlemen.


"Parpol semakin terasing dari bumi tempat mereka berpijak," lanjutnya.

Kegagalan Parpol dalam Kaderisasi


Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengutarakan hal yang tak jauh berbeda. 



Adi menilai parpol telah gagal melakukan kaderisasi dengan baik. Akhirnya, tokoh populer yang direkrut dan diusung demi mengamankan kursi di parlemen.



"Jalan pintasnya adalah merekrut figur populer untuk diusung. Tentu ini fenomena ironis," ujarnya.



Adi menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada yang menjamin artis dapat memperoleh banyak suara saat berkontestasi dalam pemilu. Dia mengamini popularitas artis yang mentereng. Namun, dalam perhelatan demokrasi, kadang tidak sesepele itu.


Caleg, lanjut Adi, mesti memahami persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah pemilihannya. Dengan kata lain, tidak hanya sekadar rajin turun blusukan serta menyapa warga, caleg harus memahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat beserta permasalahannya.

Terlebih, masyarakat semakin hari semakin pandai. Popularitas semata tidak bisa dijadikan senjata tunggal untuk meraih perhatian warga.

Menurut Adi, lazim bilamana artis yang menjadi caleg kesulitan mendapat perhatian masyarakat di dapilnya. Pertama, karena artis belum terlalu pandai dalam memahami permasalahan serta menjabarkan solusi dalam janji kampanyenya.

Kedua, tidak lain dan tidak bukan karena artis mendapat sentimen buruk dari masyarakat. Adi mengatakan bahwa wajar apabila masyarakat pesimis dengan artis yang menjadi caleg. Apalagi jika tidak memiliki pengalaman politik sama sekali.

"Jadi wajar jika rakyat menanyakan kapasitas dan kompetensi mereka. Apalagi kiprah artis yang sudah jadi anggota DPR di Senayan, nyaris tak ada bunyinya. Mereka itu semacam ornamen saja dalam demokrasi," kata Adi.



Sumber : CNNIndonesia.com
Posting Komentar