• Breaking News

    Di Medsos Sudah Mulai Perang Kampanye Pemilu Presiden 2019

    PELITAKARAWANG.COM – Seorang pakar tentang media sosial, Ismail Fahmi, memperingatkan publik bahwa perang kampanye Pemilu Presiden tahun 2019 melalui media sosial sudah dimulai. Kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah saling serang dengan berbagai cara dan metode.


    Metode yang paling lazim, kata Ismail, ialah menyebar aneka pesan dengan tanda pagar atau tagar tertentu hingga menjadi perhatian publik luas atau trending topic. Misalnya, tagar #2019GantiPresidden, yang mengampanyekan hal positif pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno namun sekalian menyerang kubu lawan.


    Namun, menurut pendiri Drone Emprit itu, tak semua kampanye melalui media sosial itu riil dikerjakan oleh orang. Sebab sebagian malah berbentuk akun-akun robot meski di balik itu semua ada orang yang mengendalikannya. Pola itu dipakai oleh semua tim kubu pasangan capres-cawapres.


    “Kedua kubu menggunakan robot. Robot ini bisa memiliki jutaan akun yang menyebarkan teks-teks tertentu dengan hashtag (tagar) masing-masing,” kata Ismail dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne pada Rabu malam, 21 Agustus 2018.


    Salah satu cara agar tagar-tagar kampanye itu efektif menyebar, kata Ismail, penting hingga menjadi perbincangan luas publik atau disebut trending topic kalau di media sosial Twitter.


    Namun mengusahakan satu tagar menjadi trending topic tak selalu alamiah, melainkan ada metode teknologi atau robot tertentu. Metode itu dapat menjamin satu tagar menjadi trending topic dengan mudah meski berbiaya.


    “Biayanya antara sepuluh juta sampai lima belas juta rupiah per lima jam untuk bisa trending topic. Publik sebenarnya tidak melihat pesannya, tapi hanya hashtag-nya,” kata Ismail.


    Dia memperingatkan, pola-pola perang kampanye melalui media sosial itu akan lebih dahsyat di masa mendatang, bahkan sampai Pemilu Presiden selesai. Semua kubu akan lebih giat memproduksi konten-konten kampanye hal positif calon jagoannya dan sekaligus konten-konten negatif untuk kubu lawan.


    Masalahnya, kata dia, tak semua konten yang diproduksi itu bersifat positif. Sebab hal yang sering terjadi justru hanya caci-maki atau sumpah serapah maupun semacam kampanye negatif (black campaign). Bahkan, sebagian besar pengguna media sosial hanya melihat judul yang provokatif tanpa membaca atau menyimak substansi pesannya.


    “Itu pembodohan. Orang hanya melihat judul, isi artikel tidak peduli lagi. Ini berbahaya, kita harus melalukan sesuatu. Publik tidak murni terpecah menjadi dua, ada yang di tengah. Nah, yang di tengah itulah yang bisa diharapkan sebagai juru penengah,” ujarnya.

    Posting Komentar


    Post Bottom Ad