Inilah Kisah Nyata Nasib & Sikap Guru Honorer di Karawang

PELITAKARAWANG.COM.- Walaupun masih ngebut berupaya jadi CPNS jelang pendaftaran CPNS umum 19 September nanti,  sebagian guru honorer Kategori 2 (K2) memilih legowo jika pemerintah menggugurkan nasibnya sebagai PNS, menyusul aturan batasan usia dan ijasah yang diskriminatif. Alih-alih bisa beralih jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (P3K) dengan hak dan kewajiban yang sama dengan PNS kecuali tanpa tunjangan pensiun, para guru honorer K2, juga masih memintai kejelasan status P3K yang selama ini dianggap belum jelas juntrungannya.(13/9/2018).

Guru honorer K2 SDN Sumurgede 1, Dyah Sukmawati S.Pd mengatakan, ia mulai mengajar sejak tahun 1989 dan sempat terhenti sebelum akhirnya kembali mengajar ditahun 2002. Sudah tiga SD yang ia lalu sebagai tempatnya mengajar dan mengabdi untuk pendidikan. Saat ini, usianya sudah kepala 4 dengan status yang juga masuk Kategori 2 sejak 2005. Betapa sakit hatinya ia, sebut Dyah, karena disaat yang baru-baru sudah ada yang jadi PNS tanpa pertimbangan TMT, ia disalip banyak dengan dugaan yang ia anggap sebagai manipulatif. Demonstrasi tak jarang ia ikuti, baik ke Jakarta dan Bandung agar kiranya, hak menjadi CPNS bukan lagi sebatas mimpi, tapi berbuah kenyataan.Namun, sampai moratorium habis, dan wacana penerimaan CPNS ini digelindingkan 19 September dengan sikap pemerintah yang cuek atas lamanya pengabdian K2, sakit hati yang bertubi-tubi sudah tidak bisa terbayangkan lagi. " Sakit hati sering, apalagi yang bukan seangkatan ada beberapa yang nyalip jadi CPNS duluan dengan TMT yang dugaan saya manipulatif, sekarang juga usia dibatasi, sudah gak bisa bilang apa-apalah," Kata Dyah yang juga nyambi jadi tukang Warteg makanan siap saji ini.

Dyah menambahkan, tidak pernah ada keadilan yang memihak pada K2, karena walaupun pihaknya siap legowo digugurkan aturan, tapi tawaran P3K yang lama didengungkan juga belum pernah jelas prosedur, mekanisme dan teknisnya seperti apa sampai saat ini. Karena, ibarat jatuh tertimpa tangga, yaitu sudah digugurkan CPNS, menjadi P3K juga belum pernah jelas, apa iya sambungnya, Pemerintah Daerah sanggup biayai kesejahteraan P3K yang selama ini ditawarkan pusat kepada honorer diatas usia 35. Oleh karenanya, walaupun masih berharap ada keajaiban bagi K2 jadi CPNS , pihaknya juga siap menerima resiko apapun. Bahkan, kalaupun ada arahan mogok kerja, demo dan lainnya sebagai wujud protes pada pemerintah sebelum 19 September misalnya,ia memilih berdiam diri saja. " CPNS gugur saya siap legowo walaupun gak adil, tapi menjadi P3K yang ditawarkan juga sampai saat ini kan gak jelas,"Kata Honorer K2 yang berpenghasilan Rp 850 ribu perbulan ini.

Novi Purnama, Sekretaris Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Karawang, mengatakan, hasil Rakorda kemarin disebutkan bahwa usulan dari masing-masing kab/kota se Jabar ingin melaksanakan langkah persuasif terlebih dahulu,  yaitu audience dengan DPRD Dan Bupati sebelum pembukaan CPNS digelar 19 September ini. Baru kalau tidak ada kesepakatan, maka seluruh honorer K2 se Jabar Akan mengadakan aksi serentak di masing- masing kabupaten/kota. Usulan yang diharapkn adalah agar seluruh honorer K2 diangkat seluruhnya menjadi PNS walaupun bertahap.Bukan hanya yang usia dibawah 35 tahun saja, bahkan kalau bisa juga dibuatkan kepres/inpres/perpu untuk mengakomodir seluruh honorer K2 bisa diangkat PNS." Kita mau audiensi dulu dengan Bupati dan DPRD, kalau gak ada kesepakatan, ya kita se Jabar siap demo dimasing-masing Kabupaten/Kota ," Pungkasnya.
Posting Komentar