Sekilas Perjalanan Sedih Seorang Guru Honorer di Karawang,Ini Riwayatnya

PELITAKARAWANG.COM-.Kurang dari 10 persen Honorer K2 dibawah usia 35 tahun, disebut berpeluang jadi CPNS. Namun, mimpi itu masih membuat cemas salah seorang guru Honorer K2 dari SDN Muara 1 Musyofiyudin S.Pd.Pasalnya,walaupun usianya dibawah 35,namun Ijasah asli miliknya hangus terbakar dalam musibah kebakaran yang menimpa rumahnya pada Oktober 2017 lalu. Pendaftar CPNS yang mensyaratkan bukti fisik otentik ijasah asli tersebut, membuatnya bingung, karena Ijasah Strata 1 pengganti, dikeluarkan dengan tanggal dan tahun yang kemungkinkan berbeda dari Ijasah hasil kelulusannya tahun 2013 lalu.

"Duh,saya mah bingung, iya sih usia saya masih 33 tahun, karena waktu jadi honorer K2 usia saat itu 21 tahun, masalahnya itu Ijasah dan dokumen saya hangus semua terbakar saat kebakaran 2017 lalu," Keluh Musyofiyudin.

Ia menambahkan, rumahnya yang berlokasi di Dusun Eretan Selatan RT 06/01 Desa Cilamaya, dilalap si jago merah 2017 lalu. Membuat cepat ijasah baru ke sekolah, juga jauh-jauh saat itu, karena saat Mts dan Aliyah,ia bersekolah di Jawa Tengah, sementara perkuliahannya untuk mendapat gelar S1 di Universitas terbuka. Ijasah S1 ini sebutnya, bisa dikeluarkan penggantinya, namun tanggal dan tahunnya tentu akan dikeluarkan berbeda dari Ijasah tahun kelulusannya dulu di 2013,sehingga jelang pembukaan CPNS 19 November ini, ia balik cemas dan bingung, karena dokumen yang ia miliki hilang terbakar. " Kalaupun ada ijasah pengganti, ya dikeluarkannya itu bukan tahun kelulusannya di 2013, apakah itu bisa? " Tanyanya.

Lebih jauh ia menambahkan, ada sedikit harapan, yaitu Copyan ijasah aslinya ada saat pemberkasan ditahun 2013 lalu ke BKPSDM. Ia menaruh harapan besar, agar ijasah Copyan itu bisa dijadikan dasar, tetapi apakah tetap harus ijasah asli, tanpa keterangan apapun?.Sementara dirinya, sudah kadung kehilangan ijasah asli karena alasan musibah ini. " Kalau ijasah pengganti yang dikeluarkan kampus, itu nanti kekuatannya sama atau enggak dengan yang sudah hilang," Katanya .

Manusiawi sambung Musyofiyudin, jika dirinya bermimpi ingin bisa menjadi CPNS, apalagi peluang itu terbuka, sebab di Cilamaya Wetan ini, hanya ada dua orang guru Honorer K2 yang usianya dibawah 35. Namun, bukan berarti pihaknya juga mengesampingkan para honorer tua yang usianya diatas 35, sebab, ia juga prihatin, akibat pembatasan usia itu, honorer yang sudah sepuh pengabdiannya tidak dicover dalam saringan CPNS ini, bahkan, Kakaknya sendiri yang juga ketua Forum Honorer K2 Cilamaya Wetan, harus sampai meninggal dunia diusia 45 tahun tanpa status PNS."Kita memang terbuka peluangnya, tapi ijasahnya ini jadi persoalan setelah musibah. Saya juga ikut prihatin atas pembatasan ini, sehingga banyak K2 sepuh yang tidak bisa dicover jadi CPNS," Katanya.
Posting Komentar