Desa Sudah Maju, Nominal Dana Desa Turun

PELITAKARAWANG.COM - Dari 14 Desa di Kecamatan Tempuran, Desa Pancakarya menjadi desa paling buncit besaran dana desa paling kecil ditahun 2018. Dibanding desa lain yang sudah diatas Rp 800 juta hingga Rp1,4 Milyar, Desa ibu kota Kecamatan ini hanya diguyur Rp700 jutaan saja. Usut punya usut, Desa dengan guyuran kecil ini, dianggap pemerintah pusat sudah maju ketimbang desa lain yang dalam ketegori tertinggal.

Kades Pancakarya, Atta Sutisna Jilun mengatakan, dalam menyusun rencana pembangunan, pemerintah desa tentu menyesuaikan dua hal, pertama mana yang prioritas dan mana yang skala prioritas. Munculnya dua hal tersebut, sambungnya, karena anggaran yang diguyur dari pemerintah itu terbatas, sehingga pemerataan itu perlu bertahap. Contohnya, sebut Jilun, disaat desa lain mendapat Rp1 Milyar lebih dana desa tahun 2018, Desanya ini hanya dijatah Rp700 jutaan, angka ini jadi paling buncit dibanding 13 desa lainnya di Tempuran. kejanggalan besaran kecil ini membuatnya bertanya-tanya hingga konsultasi langsung ke Jakarta, hasilnya memang benar. Itu karena, desa Pancakarya dianggap sudah maju, dan dana desa dengan nominal besar itu diberikan kepada desa yang masih tertinggal, salah satu contohnya adalah Ciparagejaya. " Kita dianggap sudah maju, sehingga dana desa ditahun ini hanya Rp700 jutaan, padahal desa lain sudah diatas Rp1 Milyar," Katanya disela-sela Minggon Desa Rabu (5/12).

Lebih jauh Jilun menambahkan, akibat itu pihaknya harus memilah, mana prioritas dan yang jangka panjang, disisi lain juga ia tidak faham, apa standar desa tertentu bisa dianggap maju dan tertinggal oleh pemerintah pusat. Terlepas dari hal itu, besaran buncit itu faktanya memang dirasakannya, walaupun, ditahun 2019 mendatang ada tambahannya, yaitu hanya Rp75 juta. " Ya tahun depan meningkat sih, nambah ya sekitar Rp75 juta dalam pagu mah," Katanya.

Pengelola Paud Desa Pancakarya, Teti Suhertini mengatakan, dengan keterbatasan dana yang ada, pihaknya apresiasi perhatian pemerintah desa, khususnya ke lembaga Paud yang ada di desa. Pasalnya, ditahun 2015 , selain dibangunkan fisik dan mebeler, saat ini Dana Desa yang diterima Pemerintah Pusat juga masih kebagian untuk penambahan honorarium guru Paud. Pasalnya, selama ini guru paud hanya mengandalkan honor Rp200 ribu perbulan, dan sesekali kebutuhan lain di cover dari dana SPP orangtua siswa Rp7,5 ribu perminggunya. Jumlah ini sudah jauh dibanding tukang kuli bangunan sekalipun yang sudah di banderol Rp150 ribu perharinya. Oleh karena itu, ia berharap perintah desa selalu prioritaskan pendidikan yang ada di desa, baik fisik maupun kelembagaannya selain infrastruktur lainnya. " Ya walau terbatas, kita juga Alhamdulillah selalu ada perhatian penambahan honor guru paud dari ana desa, " Ungkapnya.
Posting Komentar