Karawang Deklarasikan Pencegahan Stunting

PELITAKARAWANG.COM - Civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Deklarasi pencegahan Stunting di Tempuran Minggu (9/12). Selain di bacakan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Unpad dr Med Setiawan, Deklarasi juga di ikuti Perwakilan Staff Kepresidenan, Bupati, siswa dan warga setempat.


Ketua panitia Kampanye Zero Stunting dan Deklarasi pencegahan Stunting atau kerdil, dr Masriski Agun mengatakan, Kegiatan para mahasiswa dan civitas akademika Unpad, sudah berjalan 6 bulan, ada 30 kegiatan TPM yang dilakukan, mulai dari pencegahan Stunting, bidang olahraga, kebidanan dan kesehatan anak. 

Pada 6 Desember sebutnya, pihaknya baru mulai start di layanan Poned dan penyuluhan, kemudian di tanggal 8 Desember pihaknya bersama 300 Mahasiswa STIKES dan siswa sekolah terus melakukan penyuluhan. 

Semuanya diterima dengan baik, tentu saja ini tidak lepas dari peran serta seluruh fakultas dan juga Pemkab Karawang yang sudah bersedia memberikan peluang untuk pihak Unpad, berkontribusi dan memberikan pengabdian langsung di masyarakat. " Ada 30 TPM kegiatan yang kita lakukan, Alhamdulillah semua berjalan lancar," Ujarnya.

Dekan fakultas kedokteran, dr Med Setiawan mengatakan, kegiatan civitas akademika yang di namai academic health System (AHS) ini adalah rangkaian yang di mulai sejak 2017.  Awanya di lakukan mulai dari Jabar selatan, dan merambah ke Bekasi, tepatnya Muara Gembong, dan sekarang sebutnya di Tempuran Karawang,  karena kecamatan ini adalah representatif masalah dan capaian kesehatan yang menurutnya perlu intervensi kesehatan. Fokusnya adalah masalah Gizi atau Stunting. Ia Berharap, kegiatan ini tak terhenti lewat pencanangan dan deklarasi, tapi digarap dan bisa berkelanjutan, utamanya ini dikaitkan dengan program pendidikan profesi. "Kita sedang mengupayakan dukungan visi penguatan Tri Dharma, khususnya pada Kwalitas bidang kesehatan. "Katanya.

Bupati Karawang dr Cellica Nurachadiana mengatakan, kegiatan TPM yang libatkan mahasiswa serta Dosen yang semuanya turun di bidang kesehatan, ini membuktikan aplikasi dan perhatian khusus kepada Karawang. Khusus Stunting, ia sampaikan bahwa di Karawang ada13 balita yang di indikasikan mengalami Stunting. Dari  ada 13 orang di 13 desa itu, ia check ternyata 10 desa yang di kunjungi  menolak dan membantah ada Stunting, dan 3 desa membenarkan. Stunting ini jadi prioritas pusat, maka perlu intervensi semua pihak, baik kesehatan dan stakeholder lain. 

Karenanya, Karawang berupaya terus meningkatkan kualitas kesehatan ditengah badai migrasi yang banyak. Salah satunya adalah membangun sarana infrastruktur Puskesmas dimana tahun 2020 semuanya sudah rawat inap, kemudian membangun RS Tipe C di Rengasdengklok dan Rumah sakit khusus Paru dari DBHCT Rp180 Milyar di Jatisari, sehingga kalau ada Stunting akan diselesaikan tuntas dan cepat. " Di kita ada 13 Stunting, tapi 10 diantaranya membantah saat saya kunjungi," Ujarnya.
Diberdayakan oleh Blogger.