Awas, Foto Warga Miskin di Jual Belikan

PELITAKARAWANG.COM - Media sosial bisa jadi kesempatan bagi oknum meraup rupiah. Bukan saja mudah upload jual beli barang online, tapi juga gambar  warga miskin, bisa dimanfaatkan oknum komunitas peduli sosial.

Kades Pancakarya, Atta Sutisna Jilun mengatakan, masyarakat sekarang memang sering upload dan memviralkan setiap kejadian, bahkan rumah reot dan warga sebatang kara. Alih-alih berjiwa sosial, kadang-kadang foto itu, menyita perhatian komunitas sosial. 

Mereka, sebut Jilun, sering datang ke desa dan mempertanyakan sejauh mana peran desa, sampai-sampai dengan tameng foto yang di dapat, mereka menggalang dana dan terus-terusan meng-upload. Baginya, niat baik itu bagus, hanya saja ia balik curigai, ketidaktahuan kondisi sosial sebenarnya, namun mudah menggalang dana, bagaimana pertanggungjawabannya. 

"Dengan mudah merngupload fisik rumah dan dramatis pokoknya, katanya mau Galang dana. Tapi, kalau terkumpul, bisa di pertanggungjawaban tidak? " tanyanya.


Jilun, malah mengaku jengkel dengan oknum komunitas sosial yang sering melakoni pekerjaan upload masyarakat tidak mampu dengan kata-kata dramatis. Seharusnya, sebelum di upload konfirmasi dulu kepada pihak desa, apakah sudah dapat jatah Rulahu misalnya, atau Program Keluarga Harapan (PKH) atau belum. Tapi yang ada, dengan enteng ia katakan "Menjual belikan" foto warga miskin untuk dalang dana. "Saya curiga wajar, kan orang jadi banyak empati, kirim duit ke rekeningnya, apa betul di berikan semua, atau cari untung, " sesalnya.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Tempuran, Leo Fitriana mengatakan, masyarakat jangan mudah merasa empati dengan mengirim uang kepada pihak yang sembarang upload warga miskin yang di dramatisir. Ternyata, yang sering datang justru oknum komunitas sosial yang tidak jelas pertanggungjawaban keuangan hasil penggalangan dananya. 

Ada baiknya, kalau merasa empati dan mau menyumbang, itu bisa lewat PSM desa dan TKSK yang jelas dan rapi dalam mengelola keuangan dan pertanggungjawabannya. "Empati boleh saja, tapi soal transfer uang dari yang minta galang dana, harus selektif juga, "ujarnya. 

Ia mendengar, ada warga menderita tumor misalnya, atau penyakitan di upload, kemudian menyebut sudah sampai ada yang menyumbang ratusan juta di himpun, berapa yang diberikan kepada sasarannya juga tidak jelas. "Wajar kades pada curiga, sebab pengelolaan dana galang bantuan dana itu, gak jelas pertanggungjawabannya, " pungkasnya.

Tidak ada komentar