Bulog Targetkan Sergap 20 Ribu Ton Pertriwulan

PELITAKARAWANG.COM - Gabah petani yang rebah dan di banderol di bawah Harga Pokok Pemerintah (HPP) Rp4 ribu perkilogram, tidak serta merta bisa diserap Bulog. Pasalnya, selain mengukur tingkat rendemen atau kadar air dan kekeringannya, kualitas yang di beli lembaga plat merah itu, juga harus bagus, agar distribusi dan kualitas beras juga baik.

Deni Kurniadi Wakasub Divre Karawang - Bekasi mengatakan, serapan gabah memang program Bulog. Tapi, yang di beli Bulog kepada petani, bukan di dasari kondisi sawah yang rebah atau juga harga yang sudah di bawah HPP. Tapi, berdasarkan cek lapangan dengan kualitas yang baik, kadar air yang sesuai inpres dan rendemennya sesuai. 

Jadi, masyarakat tani yang ingin gabahnyaa di beli Bulog, tidak harus menunggu harga rendah di pasaran tangkulak, tetapi saat kualitas bagus juga siap di serap, bahkan selama seminggu terakhir, pihak Bulog Karawang sudah sergap 60 ton, dimana harganya di banderol di kisaran Rp4,2 ribu, atau diatas HPP. Sebab, kualitas beras yang di beli baik, maka distribusi berasnya juga baik untuk masyarakat. "Seminggu terakhir kita serap 60 ton, tentunya yang tidak basah dan standar 14 persen, " ujarnya.

Deni menambahkan, serapan gabah tidak harus menunggu permintaan masyarakat tani, tetapi pihak Bulog turun langsung juga bisa chek kondisi gabah di musim panen. Apalagi, sebutnya, dalam triwulan ini, Bulog Sub Divre Karawang-Bekasi ini menargetkan 20 ribu ton gabah petani di serap pihaknya. " Sergap itu program wajib, selama sesuai SOP, seperti apa kualitasnya, bahkan kualitas super langsung di serap, harga diatas HPP, juga kita siap, " ujarnya. 

Sebelumnya, Kadistanhutbunak Karawang Ir Hanafi Chaniago tak menampik, bahwa gabah akibat cuaca dan rebah menjadi anjlok harganya baru-baru ini. Pihaknya, sudah minta ke bulog, utamanya sebagai tim serapan gabah (sergap), untuk memantau dan segera beli gabah hasil panen petani yang sudah di bawah HPP. Memang, sambungnya, kedepan perlu terobosan daerah- daerah panen dimusim hujan perlu alat pengering (dryer), sehingga jual hasil panen dengan harga stabil. " Kita minta Bulog pantau harga, bila perlu beli gabah petani yang harganya sudah dibawah HPP, " ungkapnya.


Hanafi menambahkan, masalah harga anjlok, tidak semata-mata tugas dinas pertanian, tapi hanya memantau dari mulai produksi menghasilkan padi dan beras, setelah itu ada dinas lain yang mengurus distribusi dan harga barang/komoditi. "soal harga, itu tidak semata tugas Dinas Pertanian, kita pantai saja dari mulai produksi sampai beras, distribusinya sudah dinas lain, " katanya.

Tidak ada komentar