BLK,SMK dan Politeknik Harus Dipastikan Benar Tingkat Keahlian dari Kelulusannya

PELITAKARAWANG.COM-.Guna memperkuat link and match antara dunia pendidikan dengan dunia industri, pemerintah akan mendorong industri-industri di tanah air untuk mendirikan Politeknik.
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengemukakan, kalau vokasi link and match itu kerja sama antara industri dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), seperti yang sudah dilaksanakan selama ini. Sedangkan yang politeknik itu kemarin beberapa industri yang membangun Politeknik, seperti Indorama. Mereka sudah membuat, kemudian juga yang baru kemarin ground breaking itu juga Astra.
“Nah, tentu model seperti itu kita replikasi di tempat lain,” kata Airlangga kepada wartawan. (17/05).
Saat ditanya apakah ada insentif untuk industri yang bersedia membangun Politeknik,Menperin mengemukakan, kalau ada kebutuhan mereka bangun, pemerintah fasilitasi. Salah satu adalah dengan fasilitas perpajakan.
Disampaikan Menperin,setelah Astra dan Indorama yang membangun Politeknik, yang lain nanti akan mengikuti sesudah aturan insentif perpajan diterbitkan. “Nanti kami akan beritakan,” ujarnya.
Lalu menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengemukakan,banyak industri yang sebenarnya lowongan banyak tapi pelamarnya atau yang bekerja akhirnya sedikit, tidak sesuai dengan lowongan.
“Kenapa? Karena mismatchMismatch-nya bukan mismatchbidang tapi mismatch keahlian,” kata Bambang .
Jadi, lanjut Bambang, Presiden minta untuk BLK (Balai Latihan Kerja), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), sampai Politeknik dipastikan benar tingkat keahlian dari kelulusannya atau keterampilan dari lulusannya itu sesuai dengan permintaan pasar kerja.
“Jadi artinya kita tidak boleh jalan sendiri dari sisi supply tapi melihat dari sisi demand. Jadi di Ratas berikutnya, nanti akan fokus di sisi demand-nya tadi,” terang Bambang.
Foto ilustrasi : pelajar SMK belajar
Saat ditanya wartawan apakah itu berarti akan ada evaluasi di SMK, BLK, dan Politeknik, Menteri PPN/Kepala Bappenas itu mengatakan, Mendikbud, Menristekdikti, Menteri Tenaga Kerja diminta untuk melihat seperti apa.
Menurut Bambang,mereka tadi sudah memaparkan, ada SMK yang tidak berkualitas, segala macam. Persoalannya sekarang kan kita tidak bisa mulai dari nol. Jadi, kita harus memanfaatkan yang ada.
“Nah yang ada ini, bukan masalah jumlah, rasio guru,segala macam,tapi masalah kecocokan dari keahlian dan keterampilan kelulusan dengan yang dibutuhkan pasar kerja. Jadi, sisi supply harus mendengar sisi demand-nya,” ujar Bambang.
Diakuinya, jika di SMK juga sudah ada cluster cluster seperti pariwisata,industri,maritim,dan segala macam. Tapi ia menekankan, mungkin bidangnya sudah sesuai, tapi kan masalah keahliannya belum.
Menteri PPN/Kepala Bappenas enggan menjawab pertanyaan seberapa buruk SMK kita.Ia mengingatkan fakta bahwa ada lowongan, yang lamar lebih kecil, yang kerja apa lagi. “Itu menunjukkan tingkat keahliannya belum cocok. Mungkin bidangnya sudah tapi keahlian kan nggak, harus diupayakan,” tegasnya.
Karena itu,lanjut Bambang,perlu perbaikan kualitas di sektor pendidikan, termasuk kualitas di perbaikan gurunya. (ES).
Diberdayakan oleh Blogger.