Rabu, Agustus 28, 2019

Cellica Tolak Rencana PT KAI Tutup Perlintasan

 


PELITAKARAWANG.COM-.Bupati Karawang, Hj.Cellica Nurrachadiana menolak rencana PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta yang menutup perlintasan sebidang liar di petak Jalan Karawang-Klari menyusul terjadinya kecelakaan Kereta Api Argo Parahyangan dengan bus.


"Kami akan berupaya agar tak ada penutupan perlintasan sebidang secara permanen di titik itu," katanya saat meninjau lokasi kejadian kecelakaan kereta dengan bus, di Karawang.

Di antara alasan penolakan penutupan perlintasan sebidang di Desa Warung Bambu itu karena pelintasan tersebut merupakan akses jalan alternatif bagi masyarakat.

Alasan lainnya,perlintasan sebidang itu bisa membantu mengurai kemacetan yang terjadi di jalan utama di  Jalan Wirasaba Johar-Telukjambe.

"Kami menghargai keputusan PT KAI yang akan menutup pelintasan sebidang itu. Tapi kami akan  mengupayakan agar tak sampai ditutup," kata dia.

Pemkab Karawang sendiri telah mengundang PT KAI Daop 1 Jakarta untuk membahas persoalan itu.

Menurut dia, solusi yang bisa diupayakan di antaranya meningkatkan status pelintasan sebidang itu menjadi sebidang yang terdata atau legal.  

"Jadi intinya, kami akan mengajukan jalur perlintasan sebidang resmi," kata dia.

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta berharap agar Pemkab Karawang mencari solusi mengenai keberadaan pelintasan liar atau pelintasan kereta tanpa palang pintu di wilayah Karawang.

"Diharapkan setelah kejadian kecelakaan kereta dengan bus di Karawang, seluruh pelintasan liar bisa ditutup atau dicarikan solusinya oleh pihak terkait," kata Manajer Humas Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa.

Pada Senin siang (26/8), terjadi kecelakaan Kereta Api (KA) Argo Parahyangan dengan bus Agra Mas nopol T-7915-DC, di pelintasan sebidang liar, di petak jalan Karawang-Klari KM 67+2, Desa Warung Bambu, Karawang.

Peristiwa itu mengakibatkan bus yang dalam kondisi kosong terseret hingga terbalik. Meski tidak ada korban jiwa, kejadian itu juga mengakibatkan sejumlah perjalanan kereta api lintas Karawang terganggu.

Selain itu, kecelakaan antara kereta dengan bus tersebut juga mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana jalur rel di lokasi kejadian.

Eva menyampaikan, solusi atas keberadaan pelintasan liar bisa dilakukan dengan membangun jembatan layang (flyover) atau terowongan (underpass). Bahkan bisa juga dengan membangun pelintasan resmi.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yakni Undang Undang Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian, pihak yang bertanggung jawab menutup perlintasan sebidang ialah pemerintah kabupaten setempat.  

Sebelumnya ,PT KAI Daop 1 Jakarta menutup secara permanen pelintasan sebidang liar di sekitar lokasi kecelakaan bus dengan Kereta Api (KA) Argo Parahyangan, di Desa Warung Bambu, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

"Penutupan pelintasan liar (palang pintu pelintasan liar) itu langsung dilakukan sejak (26/8) hingga Selasa dini hari. Alasan utama, keselamatan," kata Manajer Humas Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa, dalam keterangan tertulis yang diterima di Karawang, Selasa (27/8).

Ia menyesalkan musibah kecelakaan Kereta Api (KA) Argo Parahyangan dengan bus Agra Mas nopol T-7915-DC di pelintasan sebidang liar, di petak jalan Karawang-Klari KM 67+2, Desa Warung Bambu, Karawang.

Meski tidak ada korban jiwa, tapi sejumlah perjalanan KA jarak jauh dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen serta sebaliknya mengalami gangguan.

Ribuan pengguna jasa kereta api juga mengalami dampak keterlambatan perjalanan KA dari dan menuju wilayah Daop 1 Jakarta. Selain itu, kecelakaan tersebut juga menyebabkan rusaknya sarana dan prasarana jalur rel di lokasi kejadian.

Atas hal itulah pihak PT KAI Daop 1 Jakarta menutup pelintasan liar tersebut. Selama ini pelintasan liar itu dijaga oleh warga setempat dengan menggunakan palang pintu manual.

Eva menyampaikan, meskipun keberadaan pelintasan sebidang liar bukan tanggung jawab PT KAI, namun untuk keselamatan dan keamanan PT KAI Daop 1 Jakarta berinisiatif menutup pelintasan itu secara permanen.

Hal itupun sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Sementara itu, untuk jumlah pelintasan yang ada di wilayah Daop 1 Jakarta sebanyak 463 pelintasan. Terdiri atas 162 pelintasan sebidang yang dijaga dan 301 pelintasan sebidang liar.

Untuk pelintasan yang sudah dibangun tidak sebidang melalui fasilitas fly over dan underpass ads 59 pelintasan.

Menurut Eva, selama ini PT KAI juga telah berupaya melakukan penutupan sejumlah pelintasan sebidang untuk keselamatan bersama. Tapi proses tersebut seringkali mendapatkan perlawanan dari masyarakat setempat.

Diharapkan setelah kejadian kecelakaan kereta dengan bus di Karawang, seluruh pelintasan liar bisa ditutup atau dicarikan solusinya oleh pihak terkait. Itu bisa dilakukan dengan fly over atau underpass, membangun pelintasan resmi, dan lain-lain.(ant).

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

KABAR KRIMINAL

Banner

BERITA TERBARU

Untuk Menghubungi Admin.

Back to Top