Senin, September 02, 2019

Ini Hasil Perabaan Cakra Institute Terhadap Peluang Calon Bupati Karawang

 

 PELITAKARAWANG.COM-. Pilkada Karawang masih setahun lagi. Namun, sejumlah bakal calon Bupati sudah berjibaku dengan ragam "tebar pesona", baik melalui baligo, menggerakkan opini hingga rekrutmen jaringan relawan lapangan dan dunia Maya. Cakra Institute, memiliki catatan tersendiri dari hasil survey yang di rilisnya, utamanya bagi sejumlah nama yang di gadang-gadang maju dalam bursa panggung Pilkada tahun 2020 mendatang. 

"Walau terbatas, tapi sebagai bagian dari masyarakat Karawang yang memiliki kepentingan besar terhadap hasil proses politik, Tim kecil yang dibentuk oleh Cakra Institute sudah melakukan survei langsung dan hasilnya kami jadikan bahan diskusi internal pada dua hari lalu. " kata Deputi propaganda dan komunikasi publik Cakra Institute, Hilman Tamimi.

Proses surveinya, sambung Hilman, menyasar berbagai segmen pemilih kota-desa, laki-laki-perempuan, millennial-tradisional, kelompok ekonomi mapan – ekonomi lemah, pendidikan menengah tinggi - pendidikan dasar/non pendidikan, ASN – non ASN, juga kader simpatisan – non partai.
Beberapa point menarik yang dihasikan dan bisa dijadikan referensi bagi warga masyarakat serta pihak-
pihak yang berkepentingan antara lain,  sebagian warga masyarakat tidak puas dengan kepemimpinan Cellica-Jimmy,  karena janji-janji 
kampanye yang pernah disampaikan oleh pasangan tersebut masih banyak yang belum terwujud. Namun demikian, Cellica digandrungi oleh mayoritas pemilih perempuan dan segmen pemilih yang berfikir simple, karena sosok Bupati Karawang itu dirasa komunikatif, humble, fashionable. mengikuti zaman dan 
tidak menjaga jarak dengan warganya. "Sebagian Kemudian, sambung Hilman , Akhmad Zamakhsari (Jimmi) sebagai wakil bupati incumbent dipersepsikan memiliki visi-misi yang jelas dan lebih tegas dalam mengambil keputusan. Langkahnya terkait persoalan pengangguran, 
nasib Persika,ataupun pembangunan infrstruktur dipersepsikan oleh public sebagai antitesa dari sosok cellica yang serba lamban dan cenderung autopilot. Namun semangatnya yang menggebu-gebu, telah memunculkan persepsi di sebagian masyarakat lainnya, bahwa Jimmi adalah pemimpin yang arogan, over reaktif, serampangan dan sering blunder dalam menyampaikan pernyataan-pernyataannya, baik sebagai pejabat publik maupun sebagai politisi. Mayoritas pemilih, sebutnya, saat ini menginginkan tampilnya sosok-sosok baru diluar Cellica dan Jimmy. " Pandangan 
tersebut muncul dari segmen pemilih yang menyukai eksperimen, tidak terikat oleh fanatisme 
parpol ataupun organisasi tertentu. Terutama sekali kelompok pemilih millennial, aparatur Sipil 
Negara (ASN), dan pemilih dari kelompok yang mapan secara ekonomi serta berpendidikan 
menengah tinggi, " ungkapnya.
Selanjutnya, muncul banyak nama alternative diluar incumbent, dan yang lebih banyak disebut 
yakni nama Gina Fadlia Swara (politisi gerindra) serta Acep Jamhuri (sekda/birokrat). Nama Gina Swara, dipersepsikan sebagai perempuan yang cemerlang dalam karir politik, sederhana, representasi dari kekuatan 02 yang merupakan pemenang PilPres di Karawang, dan trah dari mantan Bupati Ade Swara yang masih memiliki banyak loyalis. Sedangkan munculnya nama H. Acep Jamhuri, karena beliau dipersepsikan sebagai figure yang 
lebih netral bukan bagian dari Parpol manapun, disamping memiliki kemampuan pemikiran dan pekerja keras, birokrat yg sukses dan berhasil, diterima oleh berbagai kalangan, teruji dalam sisi manajerial pemerintahan, serta mempunyai jejaring (networking) yang bisa diandalkan. Adapun nama-nama lain diluar keempat orang tersebut, juga muncul dalam hasil survei Cakra Institute, 
namun belum cukup dominan popularitasnya. " Sangat kecil kemungkinan muncul pasangan calon dari perseorangan yang diakibatkan aturan Pemilukada saat ini lebih rumit dibanding Pemilukada Karawang 2015, sehingga membutuhkan 
kesiapan dokumen persyaratan dan logistic yang berlipat pula, " katanya. (Rdi)

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

BERITA TERBARU

Back to Top