Sabtu, Oktober 05, 2019

Warga Karawang-Bekasi Salat Istisqa di Sungai Cibeet yang Mengering

 


PELITAKARAWANG.COM - Puluhan warga Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi menggelar Salat Istisqa atau minta hujan di Sungai Cibeet yang mengering, Sabtu (5/10/2019) siang. Warga di dua kabupaten itu berharap kekeringan segera berakhir.


Meski berbeda wilayah administratif, puluhan warga itu bergantung kepada Sungai Cibeet yang menjadi perbatasan Karawang dan Bekasi. Warga Desa Pasiranji, Kecamatan Cikarang Pusat dan warga Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, menggantungkan hidup pada sungai itu. Namun saat ini, sungai kering, alhasil sejumlah sawah, sumur dan kebun warga tak mendapat suplai air yang cukup.

"Ini merupakan kekeringan terparah dalam sepuluh tahun terakhir. Lihat saja sungai sampai kering. Sebelumnya tak pernah Sungai Cibeet kering seperti ini," kata Hasbi Sudrajat, tokoh agama dari Pasiranji kepada wartawan usai Salat Istisqa.


Untuk kebutuhan sehari-hari, warga biasanya memanfaatkan genangan-genangan air yang tersisa di sungai tersebut. Warga pun kerap mandi dan mencuci di genangan-genangan yang tersisa di Sungai Cibeet.

Hasbi berharap pemerintah turun tangan membantu warga mengatasi kekeringan parah tahun ini. Sebab, bagi mereka, air merupakan kebutuhan pokok selain pangan dan sandang. "Mudah-mudahan hujan segera turun dan air sungai kembali mengalir," harap Hasbi.

Sebelumnya, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana telah menginstruksikan Salat Istisqa di seluruh wilayah Karawang. Berdasarkan data yang dihimpun BPBD setempat, kemarau panjang melanda Karawang hampir 7 bulan terakhir. Setidaknya 14 ribu hektare sawah terdampak kekeringan.

"Dua puluh persen sawah kita terdampak kekeringan. Kemarin saya meninjau sawah Pakisjaya dan Karawang Selatan pasokan air memang kurang optimal," kata Hanafi Chaniago, Kepala Dinas Pertanian Karawang.

Untuk menanggulangi dampak kekeringan, Pemkab Karawang telah meminta tambahan debit air ke Perum Jasa Tirta 2 selaku pengelola saluran irigasi. "Kita minta dari 660 menjadi 700 kubik air per detik," kata Hanafi.

Hanafi menuturkan, kemarau panjang juga membuat saluran irigasi seret. Alhasil, sejumlah sawah warga tak mendapat pasokan air yang layak. Di Kecamatan Jayakerta dan Pakisjaya misalnya, sebanyak 3 ribu hektare sawah kering tak terairi. "Kalau gagal panen atau puso, stok beras di Jawa Barat bisa terpengaruh," kata Hanafi.


sumber : detikcom

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

BERITA TERBARU

Back to Top