Rabu, November 27, 2019

Harga Ayam Anjlok, Kementan Musnahkan 7 Juta Bibit Bulan Depan

 


PELITAKARAWANG.COM - Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam hidup (livebird) berlebih dan menyebabkan harganya anjlok.Untuk itu,para petani yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) meminta Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kebijakan pemusnahan 10 juta bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu.


Menjawab keluhan petani tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Sugiono menyebutkan bahwa pihaknya akan mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi DOC final stock (FS) dengan pemusnahan atau cutting telur tertunas (HE) sebanyak 7 juta butir mulai 1 Desember 2019.

"Berdasarkan rapat koordinasi perunggasan tanggal 19 November 2019, diputuskan untuk melakukan pengurangan HE umur 19 hari sebanyak 7 juta per minggu berlaku mulai 1 Desember 2019," kata Sugiono dalam keterangannya, Rabu (27/11/2019).Dengan kebijakan tersebut, maka di bulan Desember 2019, total cutting HE dilakukan terhadap 28 juta butir. Pemusnahan tersebut akan mengurangi stok DOC FS sebanyak 26,6 juta ekor di bulan Desember.

"Sehingga target total pengurangan HE pada Desember 2019 sebanyak 28 juta butir. Dampak dari cutting HE pada Desember 2019 dimaksud secara nasional akan mengurangi produksi DOC FS dari pembibit sebanyak 26.600.000 ekor," papar dia.Ia mengungkapkan, kebijakan pemusnahan 7 juta HE per minggu ini akan berlaku sampai dengan bulan Maret 2020.Dengan langkah tersebut, Sugiono berharap harga livebird di tingkat peternak bisa mengalami kenaikan dan berada pada level yang stabil."Harga livebird ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan adanya cutting HE diharapkan dapat berpengaruh pada peningkatan harga livebird," pungkasnya.

Sebagai informasi, peternak rakyat mengaku rugi hingga Rp 2 triliun karena harga livebird anjlok dan berada level Rp 16.000-17.000 per kilogram (kg).Padahal,harga acuan livebird yang diatur dalam Permendag nomor 96 tahun 2018, batas bawahnya sebesar Rp 18.000/kg."Hari ini kalau di Jabar mungkin lebih murah lagi karena masuk dari Jateng ke sini, itu kira-kira Rp 16.000-17.000/kg. HPP kita Rp 18.000," jelas perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng, Parjuni ketika berunjuk rasa di depan kantor Kemendag, Jakarta Pusat.


sumber : detikcom

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

BERITA TERBARU

Back to Top