Sabtu, Februari 08, 2020

Ini Penyebab Banjir di Karawang yang Memaksa Warga Mengungsi

 

PELITAKARAWANG.COM - Banjir di Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, telah surut, Jumat (7/2/2020).

Warga yang mengungsi kembali ke rumah mereka masing-masing.

"Warga berangsur kembali ke rumah," kata Camat Cilamaya Wetan, Basuki Rahmat.

Basuki menyebut, selama musim penghujan tahun ini, sudah tiga kali wilayah Cilamaya dilanda banjir. Penyebabnya adalah Sungai Cilamaya meluap.

"Ini ketiga kalinya banjir datang selama musim hujan kali ini," kata dia.

Sebelumnya, pada Kamis (6/2/2020), banjir melanda Dusun Cipancuh dan Perumahan Pratama Permai, Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamayan Wetan, Kabupaten Karawang.

Ketinggian air bervariasi. Akibat banjir tersebut, sedikitnya 518 rumah terendam banjir dan 1.700 orang terdampak.

Sebagian warga juga terpaksa mengungsi.

Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, telah memetakan bencana banjir berikut penanganannya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Karawang Acep Jamhuri mengatakan, secara garis besar tiga wilayah langganan banjir di Karawang adalah Karangligar, Perumahan BMI di Cikampek, dan Cilamaya.

Sebagai langkah preventif, Acep menyebut, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait sudah melaksanakan kajian penangan banjir, mulai dari mengusulkan pembangunan situ atau embung hingga normalisasi sungai.

"Bersama Gubernur Jabar, Kementerian PUPR dan stakeholder terkait evaluasi tindakan preventif banjir beberapa waktu lalu," kata Acep ditemui di kantor Pemkab Karawang.

Banjir Karangligar

Acep menyebut banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, disebabkan meluapnya Sungai Cibeet dan Cipamingkis.

Pemerintah berencana membangun bendungan Cibeet untuk penanganan banjir tersebut.

Rencana pembangunan bendungan sempat ditolak warga Bogor lantaran dianggap tidak berwafaat bagi warga setempat.

Akhirnya disepakati dibuat dua bendungan. Satu untuk mengairi wilayah Bogor dan satu lagi untuk penanganan Sungai Cibeet.

"Bupati Bogor sepakat untuk membantu menyosialisasikan kepada masyarakat. Sudah tidak ada masalah," katanya.

Acep mengungkapkan, pembangunan bendungan akan dimulai tahun ini dengan anggaran sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun.

Banjir di perumahan BMI

Acep menyebut banjir di Perumahan BMI, Cikampek, akibat meluapnya Sungai Cikaranggelam yang juga dipenuhi sampah.

Luapan sungai tersebut juga ditengarai akibat limpasan air dari sekitar kawasan BIC yang lebih dulu masuk ke Situ Kamojing.

Selain mengangkut sampah dan normalisasi Sungai Cikaranggelam, Pemkab Karawang mengusulkan pembangunan situ atau embung di lahan Kementerian PUPR di sekitar kilometer 71 tol Jakarta-Cikampek yang dikelola Perum Jasa Tirta II.

"Jadi nanti air tidak menggelontor langsung ke Situ Kamojing. Ketika debit air penuh baru dibuka," katanya.

Pihaknya, kata dia, tengah melakukan kajian terkait penanganan Sungai Cikaranggelam.

"Sedang dikaji. Saya rasa karena ini menyangkut kebencanaan, maka setelah kajian selesai akan langsung dibangun," katanya.

Banjir Cilamaya

Banjir di Cilamaya disebabkan melimpasnya Sungai Cilamaya.

Acep menilai, banjir tersebut merupakan kiriman dari Kabupaten Purwakarta dan perbatasan Kabupaten Subang.
Apalagi, kata dia, terjadi perubahan fungsi lahan di wilayah Purwakarta yang cukup signifikan.

"Banyak wilayah hijau yang dirubah jadi industri sehingga airnya melimpas ke Bendung Barubug yang kemudian membuat Sungai Cilamaya meluap," katanya.

Menurut Acep, Sungai Cilamaya juga belum pernah dilakukan normalisasi. Olah karenanya, pihaknya berkoordinasi dengan pihak terkait akan nelakukan normalisasi.

Selain itu, Pemkab Karawang juga akan mengusulkan pembangunan situ untuk menampung air sebelum masuk ke Bendung Barubug.

"Setelah itu baru dibagi ke Sungai Cilamaya dan Sungai Ciherang," tambahnya.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana mengungkapkan, pihaknya terus berupaya mencari solusi untuk menggulangi banjir, baik jangka pendek dan panjang. Pengerukan sungai juga dilakukan.

"Banyak persoalan yang perlu disikapi serius dan melibatkan banyak pihak, misalnya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)," katanya.


Cellica juga meminta semua pihak tetap waspada. Sebab, berdasarkan prakiraan Badan Meterologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan instensitas tinggi akan berlangsung hingga Februari 2020.




(kompas.com)

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

BERITA TERBARU

Back to Top