Pemerintah Tidak Akan Biarkan Penodaan Tempat Ibadah Agama Manapun
PELITAKARAWANG.COM-. Dalam bagian lain pidatonya saat menerima penghargaan World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation (ACF), di New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (30/5) malam waktu setempat atau Jumat (31/5) pagi WIB , Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengemukakan, sejak hari pertama kemerdekaan, bangsa Indonesia memiliki aspirasi untuk menjadi bangsa yang bersatu di dalam
perbedaan. Satu bangsa dimana para warga negaranya yang terdiri dari berbagai suku, keyakinan dan nilai-nilai, hidup bersama dalam harmoni. Satu bangsa yang dibangun atas ketentuan hukum.
“Hari ini, kami telah menempuh jalan yang panjang untuk mewujudkan visi tersebut. Namun demikian, pencapainnya tidaklah mudah. Kami melakukannya dengan kerja keras, keberanian dan kegigihan,” kata Presiden SBY dalam acara yang dihadiri oleh mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Henry Kissinger itu.
Sungguhpun demikian, menurut Presiden SBY, demokrasi Indonesia tetap merupakan satu proses yang berkelanjutan. Kebangsaan kami terus menerus diuji. Indonesia masih tetap menghadapi sejumlah tantangan. Kantung-kantung intoleransi tetap ada. Konflik komunal terkadang masih mudah tersulut. Sensitivitas keagamaan kadangkala menimbulkan perselisihan, dimana kelompok-kelompok masyarakat mengambil tindakan secara sepihak. Riak radikalisme masih tetap ada.
Namun Kepala Negara meyakini, bahwa hal itu bukan merupakan permasalahan yang hanya dihadapi oleh Indonesia, tetapi merupakan fenomena global. “Sejatinya, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan. Kami harus terus memajukan transformasi Indonesia seraya mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut,” ujar Presiden SBY.
Ia menyebutkan, Pemerintah Indonesia tidak akan mentolerir setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun dengan mengatasnamakan agama. Pemerintah tidak akan membiarkan penodaan tempat-tempat ibadah agama manapun atas alasan apapun.
“Kami akan selalu melindungi kaum minoritas dan memastikan tidak ada yang terdiskriminasi. Kami akan memastikan bahwa mereka yang melanggar hak-hak orang lain akan diganjar hukuman yang setimpal,” terang Presiden SBY.
Presiden menegaskan, bahwa pemerintah akan melakukan berdasarkan kemampuan yang ada untuk memastikan bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan kelompok etnis, serta semua umat beragama—Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya—dapat hidup berdampingan dalam kebebasan dan persaudaraan.
Menurut Presiden SBY, Indonesia akan senantiasa menjadi negara dimana terdapat rumah tempat ibadah yang berlimpah. “Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 255.000 mesjid. Kami juga memiliki lebih dari 13.000 pura Hindu, sekitar 2.000 kuil Budha, dan lebih dari 1.300 kuil Konghucu. Dan, kami memiliki lebih dari 61.000 gereja di Indonesia, lebih banyak dibandingkan di Inggris Raya atau Jerman. Dan banyak dari tempat-tempat ibadah ini dapat ditemui di sepanjang jalan yang sama,” terang Presiden SBY.
Presiden SBY menegaskan, Indonesia juga akan terus menjadi kekuatan bagi perdamaian dan kemajuan. “Sebagai bangsa yang ikut andil bagi perdamaian dunia, Indonesia akan terus mengirimkan misi-misi perdamaian ke wilayah-wilayah konflik di seluruh dunia,” ungkap SBY.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, menurut Presiden SBY, Indonesia akan terus melakukan yang terbaik untuk membangun jembatan antara dunia Islam dan Barat.
Sementara sebagai bangsa dengan sejarah toleransi yang panjang, Indonesia akan selalu menyuarakan secara tegas moderasi, yang diyakini merupakan pelawan terbaik ekstremisme.
Adapun sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia,lanjut Presiden SBY, Indonesia terus memberi contoh bahwa demokrasi, Islam dan modernitas dapat hidup bersama dalam simbiosis positif.
“Sebagai bangsa yang dibangun atas dasar keharmonisan agama, Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam kerja sama antar-keyakinan,” tutur SBY.
Menurut Presiden SBY, Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi Aliansi Peradaban (Alliance of Civilizations) di Bali. “Kami secara aktif memajukan persatuan diantara agama-agama anak cucu Nabi Ibrahim sehingga akhirnya dapat hidup bersama dalam damai seutuhnya di Abad ke-21 ini,” papar Presiden SBY.
Pemberian penghargaan Worls Statesman Award 2013 itu antara lain dihadiri oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, mantan Menlu Amerika Serikat Henry Kissinger, Menlu Marty Natalegawa, Dubes RI di AS Dino Patti Djalal, dan Ketua Komunitas Muslim New York Imam Shamsi Ali.
(SK/ES) www.pelitakarawang.com