PUISI "Ibu Tanah Airku"

"Ibu Tanah Airku"
ilustrasi: model 

Ibu Tanah Air menabur bunga pusara

Tanah dipijak bersemayam jiwa perwira 
Lagu keroncong mengenang gerilya dan jam malam 
Lupa kapan terakhir kali ibu tersenyum 

Ibu Tanah Air kusam berkebaya 
Kain lawas melilit terkoyak
Keriput rupa meradang raga 
Terseok langkah melepuh luka

Ibu tanah air tak lagi elok rupa
Tanah berlubang borok bernanah
Hutan sirna berasap bara
Sawah berlantai beton menjulang angkuh tertawa

Ibu tanah air dalam sejarahnya sendiri terhempas
Semua terampas persengkokolan dan keserakahan
Semua terjual demi komisi penguasa edan 
Semua tergadai dibalut hutang asing tanpa agunan

Ibu Tanah Air hatinya remuk binasa 
Rindu pejuang kehormatan dibela 
Pahlawan sejati tersingkir mati
Penghianat sok suci berlomba minta medali

Ibu Tanah Air lidahnya kelu menahan pilu
Rakyat tak mampu kehilangan buku
Rakyat sakit harga obat selangit
Rakyat melarat di rumah sewa sekarat 

Ibu Tanah Air menggugat ikrar yang tak tuntas
Keadilan ditentukan penguasa biadab 
Kesejahteraan hanya angka di atas kertas
Kemanusiaan tak lagi beradab

Ibu Tanah Air kehilangan cinta anak anaknya
Padahal di sini terlahir dan mati di tanah satu merdeka satu bendera
Kemana perginya ikrar para pemuda?
Kemana proklamasi dituju satu bahtera jelajah samudera?

Ibu Tanah Air nyanyi sendiri lagu pusaka 
Tak gentar sorak bergetar
Revolusi perlu sedikit lagi derita dan bersabar?
Setidaknya Merah Putih masih berkibar

(Syriana, 16 August 2012)

0 Komentar

X
X