Notification

×


Iklan

Surat Terbuka " M .Gde Siriana Yusuf"

Wednesday, January 01, 2014 | 03:50 WIB Last Updated 2013-12-31T20:50:51Z
Karawang-.PELITAKARAWANG.COM-. Ini adalah perasaan saya yang sangat dalam yang ingin saya share kepada teman-teman FB & pembacaPELITAKARAWANG.COM

Mohon maaf, tulisan ini cukup panjang, jadi mohon dibaca pelan-pelan dan diulang-ulang agar bisa dimengerti dan diresapi. Jika ini dianggap baik dan bermanfaat silakan di share kepada teman-teman lainnya.
gde
Surat Terbuka untuk teman-teman M .Gde Siriana Yusuf

"Aku Ingin Menjadi Bagian dari Resolusi Indonesia"

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Adik-adik tercinta dan bapak/ibu yang saya hormati.
"Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu  yang mungkin bisa kau rindu
 Karena langkah merapuh tanpa dirimu
 Karena hati telah letih..."

Sebelum saya menulis surat ini, saya sedang mendengarkan lagu "Dealova" karya Opik yang sering di nyanyikan oleh Once Dewa. Lagu ini tiba-tiba memberikan saya inspirasi untuk menulis surat ini kepada teman semua, bahwa saya ingin menjadi bagian dari Resolusi Indonesia di awal tahun 2014 ini.

Resolusi yang berarti  harapan yang sungguh-sungguh dari bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan-perubahan agar dapat menjalani kehidupan bernegara dengan lebih baik. Ya...perubahan itu selama ini hanya menjadi mimpi indah yang selalu dirindukan oleh rakyat Indonesia.

Betapa selama ini negara berjalan amat rapuh, karena tanpa kepemimpinan yang secara jujur sungguh-sungguh memperjuangkan kehidupan rakyat kecil....betapa kebanyakan rakyat sudah letih lahir batin mengharapkan hasil dari reformasi 1998 yang ternyata seperti kentut; bunyinya terdengar keras...sekali saja lalu hilang dan hanya meninggalkan bau busuk berkepanjangan.

Ketika terjadi reformasi 98 saya baru saja mulai bekerja, tetapi bersama teman-teman aktivis kampus dulu kami mendukung semangat reformasi ini dengan membentuk Solidaritas Profesional Untuk Reformasi (SPUR). Kami melakukan aksi di depan gedung BEJ Sudirman (Sekarang BEI) 2 hari sebelum Soeharto menyampaikan mundur dari jabatan Presiden. 

Setelah reformasi bergulir beberapa bulan, saya memutuskan kembali menjalani kehidupan normal, berkeluarga dan bekerja. Bagi saya, biarlah kawan-kawan yang lain melanjutkan dunia politiknya. 

Bertahun-tahun reformasi berjalan, ternyata harapan rakyat tidak pernah terwujud. Penyimpangan-penyimpangan pemegang jabatan pemerintahan maupun anggota dewan yang bersumber pada KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) justru semakin menjadi-jadi, sejalan dengan banyaknya penguasa-penguasa kecil yang lahir dari era Otonomi Daerah. 

Semangat anti KKN yang dulu menjadi awal lahirnya gerakan reformasi, justru saat ini sudah jarang terdengar. Tetapi perilakunya terdengar setiap hari di media massa. Kenyataan ini mengusik kembali semangat perlawanan yang dulu pernah saya simpan, dan puncaknya ketika saat ini saya berusia 43 tahun, saya membulatkan hati untuk masuk ke dalam sistem. 

Mengapa? Karena saya merasa jika sistem selalu diisi oleh orang-orang yang perilaku politiknya sama buruknya,  maka tidak akan pernah ada perubahan menuju Indonesia lebih baik. Bagi saya dengan hanya menghukum para koruptor tanpa juga merubah sistemnya maka tidak akan membawa banyak perubahan. Setiap orang baru yang masuk ke dalam sistem yang rusak maka dia akan ikut menjadi rusak. Proses ini harus dihentikan. Harus diputus. SEGERA sebelum terlambat !

Ada pengalaman sedih yang sampai sekarang saya masih mengingatnya. Suatu hari di tahun 2009, menjelang maghrib di daerah Bintaro, Tangerang Selatan, saya menyaksikan seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun sedang berjalan bersusah payah karena memikul tumpukan cobek batu di pundak kiri dan kanan. Jalannya terlihat limbung, antara mau jatuh dan tidak, bergoyang ke kiri dan kanan.

Saya perhatikan tumpukan cobek batu itu yang menurut saya sangat berat untuk anak seusia dia, bahkan bagi anak usia 15 tahun. Saya perhatikan dari jauh saja, sampai kemudian dia kelelahan dan duduk di di pinggir jalan, yang kebetulan dekat dengan sebuah restoran keluarga. 

Dalam kelelahan dia menatap ke restoran itu, menyaksikan pengunjung anak-anak yang sedang bermain-main penuh canda tawa. Dia hanya bisa menatap. Saya yakin dia pasti sangat dahaga dan lapar karena ini menjelang maghrib. Tapi melihat tumpukan cobek yang masih tinggi, dia pasti juga tidak punya uang, bahkan untuk membeli sekedar air putih. 

Hati saya terpanggil untuk mendekatinya, dan seperti seorang ayah lainnya ada keinginan untuk membantunya dengan membeli cobek jualannya meski saya tahu tidak memerlukannya. Anak itu bernama Asep, dari Pandeglang. Dia ke Bintaro naik kereta. Asep tidak sekolah lagi karena kedua orangtuanya yang miskin sangat membutuhkan tenaganya membantu mencari nafkah. 

Saya melihat wajahnya yang lugu, dan terlihat penuh keikhlasan menjalani kehidupan yang berat ini. Tapi tetap saja namanya anak-anak, jika melihat anak-anak sebaya bermain maka itu menarik perhatiannya juga. Tidak terlihat adanya wajah sedih dan dendam pada keadaan, di mana seharusnya dia seperti anak-anak lainnya yang asyik bermain-main bersama teman-teman. 

Saya teringat wajah anak-anak saya, saat itu yang paling besar berusia 12 tahun, adiknya 10 tahun dan 8 tahun. Saya membayangkan bagaimana perasaan saya jika mereka mengalami nasib seperti Asep. Saya tidak bisa berkata apa-apa. 

SEDIH! Segera saya keluarkan uang untuk Asep tetapi saya tidak membeli cobeknya. Saya memintanya agar dia membeli makanan dan sisanya untuk ongkos naik kereta. Di mobil, hati saya tiba-tiba tersentuh oleh sesuatu yang amat dalam. Mata terasa panas dan setitik air mata tak lagi bisa dibendung. Pertemuan dengan Asep mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. 

Tetapi di sisi lain, saya juga marah mengapa anak-anak ini dibiarkan bekerja oleh orang tuanya dan negara. Orang tuanya mungkin tidak ada pilihan, meskipun tetap saja salah. 

Tetapi negara? Di mana dirimu saat anak-anak membutuhkan perlindungan dan pertolonganmu? Saya sangat menyesal tidak dapat menawarkan utnuk memeberikan bantuan yang lebih. Karena memang saya tidak pernah lagi bertemu dia. Pernah sekali waktu saat melintas di jalan yang sama saya melihatnya, tetapi karena saat itu sedang mengejar waktu maka saya teruskan perjalanan. 

Suatu waktu lagi saya memang sengaja menunggu di jalan yang sama, tetapi Asep tak pernah terlihat lagi. Saya sadar, pemberian uang dari orang-orang yang iba pada nasibnya bukanlah jalan keluar yang tepat untuk Asep. Bukan soal dia bisa makan saja dengan pemberian uang itu. Dia butuh perlindungan negara. 

Butuh kasih sayang negara! Sampai saat ini wajah Asep masih saja terbayang, dan dia menjadi inspirasi saya untuk terjuan ke politik demi memperjuangkan pendidikan yang layak bagi anak-anak Indonesia. Sampai saat ini pula, jika teringat peristiwa itu, air mata saya menetes lagi, seperti halnya saat menuliskan surat ini.

Dengan penuh keyakinan akhirnya saya memohon doa restu pada ibunda tercinta. Ibu yang telah berjuang mati-matian agar ke-4 anaknya bisa lulus kuliah setelah ayah saya meninggal saat saya masih kuliah. Alhamdullilah saya beserta adik-adik telah bekerja semua dan berkeluarga, berkat doa dan pengorbanan ibu. Maka ibu saya memberikan restunya, asalkan saya menjadi wakil dari daerah pemilihan Karawang-Purwakarta-Kab.Bekasi, di mana Jatisari Karawang adalah tempat kelahiran Ibu. Sementara Ayah saya berasal dari Bali. 

Saat itu, saya belum bergabung dengan partai apapun. Hanya karena kemudahan dari Allah SWT maka saya masuk dalam daftar Caleg Partai Hanura tanpa diminta uang sepeserpun. 

Dan ini semakin menguatkan tekad saya untuk terus berjalan memperjuangkan idealisme saya dan mengikuti tahapan-tahapan pemilihan dengan cara yang benar. Bagi saya jabatan itu adalah hadiah atau juga amanah dari Tuhan, yang penting lakukan pekerjaan yang ada di depan mata kita sebaik-baiknya. Jangan bicara hasil di saat kita belum memulainya.

Ketika saya menjalani sosialisasi, turun langsung bertemu dengan masyarakat, saya mengalami ujian yang belum pernah saya alami sebelumnya. Ternyata sebagian masyarakat telah lama terjebak dalam cara pandang dan perilaku yang salah dalam berdemokrasi. Ini akibat pendidikan politik yang salah selama ini. Faktor uang menjadi hal yang sangat penting. 

Bagi masyrakat pemilih, tidak ada uang maka tidak ada dukungan. Lebih baik mendapatkan uang dari Caleg sekarang karena setelah Caleg terpilih tidak akan mengunjungi masyarakat lagi selama 4 tahun. 

Di tahun ke-5 baru datang lagi karena akan ada pemilihan anggota dewan lagi. Sedangkan dari sisi Caleg mendapatkan jawaban, karena sudah diterima uangnya di depan, maka dia tidak bisa membagikan dana reses lagi setelah terpilih. Ini menjadi semacam lingkaran setan, saling menyalahkan dan saling curiga. 

Tidak ada hubungan tulus dan saling percaya. Seperti transaksi di pasar saja. Inilah yang menjadi hambatan saya ketika pertama kali bersosialisasi ke masyrakat. Perlu waktu dan usaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa saya tidak seperti itu dan tidak akan pernah menempuh cara-cara itu. 

Pertama memang saya tidak punya uang untuk memenuhi keinginan-keinginan di luar kemampuan saya. 

Kedua, saya ingin bahwa perjuangan saya diawali dengan cara-cara yang benar, sehingga saya akan tenang nantinya dalam bekerja sebagai anggota dewan yang memperjuangkan keadilan buat masyarakat, tidak akan terganggu oleh hal-hal yang berkaitan dengan pengeluaran dana untuk kampanye yang melebihi batas kewajaran. Akhirnya saya memutuskan bahwa dalam sosialisasi ini saya juga harus memberikan pendidikan demokrasi yang benar, terlepas nantinya akan mendukung saya atau tidak. Saya yakin sekali, masih banyak masyrakat yang juga berpikiran sama dengan saya, seperti halnya saya yakin bahwa perubahan Indonesia lebih baik akan dapat diwujudkan. Karena itu saya berharap, tahun 2014 nanti, akan banyak orang-orang muda seusia saya yang dipilih oleh rakyat, agar mereka mampu menyuarakan perubahan di DPR, melawan sistem yang sudah rusak dan karatan.

Maka dengan segala kerendahan hati saya menyampaikan kepada teman-teman FB bahwa saya berniat untuk mengikuti pemilihan anggota DPR-RI Dapil Jawa Barat VII (Kab. Bekasi, Karawang dan Purwakarta) dari Partai Hanura dengan nomor urut 7.  

Bagi teman-teman yang memiliki ide dan pandangan yang sama dengan saya, maka saya mohon dukungannya untuk menyuarakan semangat perubahan ini. Jika melihat timeline di FB saya, memang banyak kata-kata indah dari puisi-puisi dan quotes saya. 

Tapi kata-kata indah saja tak cukup demi mewujudkan perubahan itu. Kita perlu satukan tekad, rapatkan barisan dan bergerak serentak dalam menebar benih-benih perubahan itu. Niscaya gelombang perubahan yang masih bayi dalam kandungan ini akan menjadi gelombang-gelombang besar dari segenap partisipasi masyarakat dan pada waktunya nanti akan melahirkan kehidupan rakyat  Indonesia yang adil dan sejahtera. 

Awal Tahun 2014 adalah saatnya Bangsa Indonesia menetapkan resolusinya. Harapan-harapan bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh untuk menjadi bangsa bermartabat, adil dan sejahtera. Dan saya dengan penuh kesadaran ingin menjadi bagian dari resolusi itu. Dan sekali bergerak maju, tidak ada kata mundur lagi!

Tak lupa saya memohon doa dari seluruh teman-teman. Semoga Allah meridhoi perjuangan kita. Dan semoga segala perbedaan di antara kita tidak akan mengurangi kesungguhan kita dalam perjuangan ini. Amiin.

Beberapa jam lagi kita akan berganti tahun. Teman-teman yang punya acara selamat menikmati malam kebersamaan itu. Bagi teman-teman yang sendirian,  tidak perlu sedih. Bersama saya, kita akan jadikan keheningan di sekitarmu untuk lebih merasakan kehadiran alam semesta dan melatih kepekaan kita atas kehidupan ini. 

Selamat menyambut tahun baru 2014, sampai berjumpa lagi di TPS tanggal 9 April 2014 agar perubahan yang kita inginkan dapat mewujud selaras.

Wassalamualaikum Wr Wb.

M. Gde Siriana Yusuf
Jatisari, Karawang,  

@Redaksi 2013 Email : pelitakarawang@gmail.com
×
Berita Terbaru Update