Notification

×


Iklan

Awas Pergerakan Politik Adu Domba di Pilkada Karawang

Monday, June 22, 2015 | 04:01 WIB Last Updated 2015-06-21T21:01:41Z

Karawang, PEKA. - Kata DOMBA tak mau kalah populer dengan Kambing hitam dalam faktanya atau di dunia politik,kedua bintang ini memang saudara serumpunnya.

Dalam dunia politik sepertinya Kambing hitam dan Domba  tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana.Domba seakan ditemukan di sembarang tempat, dan selalu siap diadu, tinggal tanya saja,ayo  wani piro,nanti ana mainkan.
Ilustrasi

Maka tak heran setiap hari kita menemukan praktik adu domba di tengah masyarakat. "Domba-domba" tersebut semakin hari semakin banyak dan semakin reaktif, juga semakin atraktif sebagai bahan "tontonan" aduan.

Politik adu domba dalam bahasa kampungnya disebut devide et impera. Maksudnya, istilah tersebut adalah bahasa kampungnya orang-orang Belanda, sang penjajah itu kawan.

Disebut Belanda sang penjajah, karena istilah tersebut selalu dikaitkan dengan politik adu domba yang dimainkan sang penjajah untuk memperluas daerah jajahannya.

Bukan Belanda modern yang kita kenal sekarang. Belanda sebagai sebuah bangsa yang sekarang adalah sebuah bangsa yang sangat demokratis dan sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia untuk memperoleh keadilan, juga sangat transparan dalam pengelolaan pemerintahannya.

Mereka pasti malu membalik lembaran sejarah, bahwa dulu pada abad ke-17, di bawah bendera kompeni VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau perusahaan Hindia Timur Belanda di Batavia, orang-orang Belanda itu paling gemar memainkan politik adu domba,dan H.Rhoma Irama pun menggarap sebuah lagu Adu Domba lalu melejitkan namanya.

Politik adu domba atau politik pecah belah sebenarnya adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

Dalam politik adu domba ini konflik sengaja diciptakan.Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang kekuasaan, entah itu kekuasaan di pemerintahan, di partai, kelompok di masyarakat, dan sebagainya.

Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan, dibantu atau dipromosikan, pada saat yang sama mereka yang tidak bersedia bekerjasama,ya dipinggirkan.

Ketidakpercayaan terhadap pucuk pimpinan partai atau kelompoknya sengaja diciptakan agar partai atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid.Adakalanya tidak hanya ketidakpercayaan, bahkan permusuhan pun disemai.Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah.

Dan gilanya,praktik itu menjadi sangat subur di tengah proses pelaksanaan pilkada saat ini.

Belanda penjajah itu misalnya, menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya sendiri.

Misalkan,Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan.

Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di tengah media yang sangat liberal, praktik adu domba itu menjadi tontotan sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan,saling tuding, saling caci-maki,saling sikut dengan intrik-intrik politik yang sangat kasar dan kejam. (dan memang nyata terjadi di lapangan), Penggiringan isu dilakukan sedemikian rupa untuk saling menghancurkan,Masya Allah dampaknya,tak bisa di hindarkan biasa rakyat jadi korban dan di korbankan.

Kalau masyarakat kita suka diadu-adu, mudah terpancing isu, melalap mentah-mentah berbagai desas-desus sehingga tanpa pikir panjang langsung terlibat dalam konflik, maka kita sebenarnya masih hidup seperti di era VOC, atau kita tak lebih dari domba yang siap diadu kapan saja dimana saja.

Apakah kita mau diadu domba di Pilkada Karawang nanti,Subhanallah.

Namun tapi seperti ada yang   tidak waras,siapa yang jadi bupati ko  ada " orang " yang repot-repot hendak memainkan politik warisan penjajah tersebut.#Kiriman Dion.
×
Berita Terbaru Update