Notification

×


Iklan

Berkat Burung Hantu, Panen Padi di Desa Pasirmulya Karawang Melimpah

Saturday, January 25, 2020 | 17:03 WIB Last Updated 2020-01-25T10:13:44Z
PELITAKARAWANG.COM - Berkat burung hantu, panen padi di Desa Pasirmulya, Kecamatan Majalaya,Kabupaten Karawang,Jawa Barat, melimpah.

Padahal, sebelumnya petani di desa ini kerap mengalami gagal panen karena serbuan tikus.

"Rata-rata 10 ton per hektare. Ada yang lebih, tergantung pemupukan dan perawatannya," ujar Saepudin, petani sekaligus Ketua Tim Perawatan Penangkaran Burung Hantu di Desa Pasirmulya, Jumat (24/1/2020).

Hasil panen melimpah tersebut berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya, sebab warga kerap mengalami gagal panen dikarenakan serangan tikus.

Saat itu, lanjutnya, petani rata-rata hanya memanen dua hingga tiga ton per hektare.

"Seringkali malam rencana mau panen, paginya sudah enggak ada. Di sini sebelumnya endemis tikus," ujar Saepudin.

Kepala Desa Pasirnulya Rosadi Satra Setia Mulya menyebut hasil panen melimpah itu merupakan buah dari memerangi tikus dalam waktu yang tak sebentar.

Dia bersama warganya telah melakukan berbagai upaya untuk memerangi serbuan tikus.

Padahal, Rosadi tahu betul, Karawang termasuk desanya lumbung padi di Jawa Barat bahkan nasional.

"Kami tidak ingin hanya lumbung semata, tak ada padinya. Saya berpikir keras sejak pertama menjabat kepala desa pada 2008," katanya.

Rosadi mengaku belajar pada materi rantai makanan pada pelajaran Biologi sewaktu menimba ilmu di sekolah.

"Saat itu kami menggunakan garangan (musang) dan 70 persen berhasil. Namun musuhnya pemilik bebek karena musangnya mengganggu bebek-bebek mereka," katanya.

Rosadi kemudian meminta pendapat banyak orang, termasuk Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari, Karawang, untuk berkonsultasi.

Setelah mendapat saran itu, Rosadi kemudian mengajukan pemberantasan tikus dengan burung hantu ke Dinas Pertanian.

"Saat itu pada 2012, pertama datang 10 burung hantu jenis Tyto Alba, namun mati satu," katanya.

Setelah itu, kata dia, tahapan dimulai dari pelestarian, penangkaran, hingga pelepasliaran 25 ekor burung hantu.

"Bagi yang belum sambil menunggu, saya imbau untuk membuat tempat transit burung hantu, di mana biasanya mereka membutuhkan tempat untuk mengawa tikus sebelum memburunya," pungkas Rosadi.


sumber. : kompas.com
×
Berita Terbaru Update