PELITAKARAWANG.COM-.Sebelumnya sudah terkabarkan akan semarak praktek jual beli birahi online menggunakan jasa mucikari atau germo yang bermula komunikasi via media sosial atau medsos.

Satpol PP Karawang Disebut Tutup Mata Akibat Maraknya Penjual Birahi dan Mucikari Online

Akibat peristiwa tersebut membuat pemuka agama,pemuda dan masyarakat menyesalkan dan mendesak agar Pemkab dan Polres  bertindak cepat guna menggulung sindikat penjual birahi mucikari online di Tanah Karawang.

Kemajuan Kabupaten Karawang diberbagi bidang pastinya tidak bisa terpisahkan dengan sisi negativenya.Mungkin yang tak bisa dihindari salah satunya adalah marakanya dunia malam.Berkaitan hal tadi,saya minta Pemkab segera terjunkan Saptpol PP juga Polres Karawang untuk bertindak tegas karena pastinya sebagai warga asli tidak mau kota Pangkal Perjuangan ternodai hal-hal maksiat.Akibat maraknya maksiat berupa prostitusi online akan merusak tatan kehidupan di masyarakat dan secara umum membuat moral hancur secara perlahan tapi pasti,ungkap Yusuf Firdaus satu tokoh masyakarat di Karawang.

Inilah sisi negative dari kemajuan atau kecanggihan teknologi jaman kekinian.Itu ada akibat salah guna peruntukannya oleh penggunanya.Untuk itu,saya meminta pula kepada pejabat daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kominfo untuk gencar mensosialisasikan bahaya gadget bila salah guna,pinta Firdaus.

Jaman now,sambungnya,jangan kan orang dewasa.Untuk anak -anak seusia PAUD-SD saja sudah pinter banget main game di handpone.Semua makin serba canggih cara dunia barat menghancurkan negera kita makin nyata makanya para  orang tua pun harus lebih bahkan ekstra ketat untuk mengawasi anaknya disaat pegang mainan berupa HP atau tablet (android,red).Karena tak sedikit kasus kriminal atau satu peristiwa tak pantas terjadi di Tanah Air yang menimpa anak atau remaja bermula dari meniru dalam youtbe atau sejenis medsos lainnya,pungkasnya.

Sebelumnya terkabarkan pula,aparat Kepolisian Resor Kudus,Jawa Tengah,mengungkap praktik prostitusi melalui akun facebook dengan mengamankan satu pelaku yang berperan sebagai muncikari.“Pelaku yang diamankan tersebut bernama Bahrowi asal Desa Tanjung Karang,Jati, Kudus,yang merupakan mucikari,”kata Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai di Kudus,Jumat.

Foto : Hanya Ilustrasi
Keberhasilan jajarannya mengungkap prostitusi “online”tersebut,kata dia, berawal dari pengembangan informasi dari masyarakat,kemudian ada petugas yang menyamar sebagai pelanggan yang hendak bertransaksi.Selanjutnya,kata dia,pada 6 Juni 2016,mucikari tersebut datang bersama dua perempuan yang diduga sebagai pekerja seks komersial mendatangi Hotel Artha Kudus turut Desa Jati,Kecamatan Jati,Kudus.
Petugas yang mengetahui pelaku bersama dua PSK, katanya, langsung mengamankan mereka bertiga untuk dimintai keterangannya.Dari tangan pelaku, berhasil diamankan sebuah sepeda motor, telepon genggam dan uang tunai Rp800 ribu.“Masyarakat kami imbau untuk berhati-hati agar tidak ada keluarga yang menjadi korban atas kejahatan prostitusi,”ujarnya.
Tersangka Bahrowi mengakui,menjalani pekerjaan sebagai muncikari baru dijalaninya sejak enam bulan lalu.“Jumlah pelanggan yang memesan juga tidak banyak karena hanya dari kalangan tertentu yang memang berminat,” ujarnya.
Dari setiap transaksi, dia mengaku, mendapatkan bagian sebesar Rp100 ribu.Terkait dengan perempuan yang disediakan,kata dia,tidak ada paksaan,karena pekerjaan mereka selama ini memang seperti itu.Bahkan, lanjut dia,mereka yang menawarkan diri untuk dicarikan pelanggan dengan tawaran bagi hasil setiap transaksi Rp100.000.“Semua yang perempuan yang ditawarkan tidak ada yang berusia di bawah umur,” ujarnya.Akun facebook yang dijadikan ajang promosi, kata dia,memang miliknya sendiri.
Hingga kini,akun facebook milik pelaku yang di dalamnya terdapat sejumlah foto kaum hawa dengan berpakaian seksi masih tetap aktif dan belum dihapus.Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal 296 jo pasal 506 KUHP tentang tentang Kejahatan Kesusilaan (Prostitusi).
Sesuai dengan pasal 296 (KUHP), tersangka diancam pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.Selain pasal 296 KUHP,pelaku juga terancam jeratan pasal 506 KUHP dengan ancaman pidana kurungan paling lama satu tahun,mengingat pelaku diduga mengambil keuntungan dari pihak lain menggunakan modus prostitusi.***sh