Notification

×


Iklan

Di Kunjungi Mentan, Ini Peringatan Petani Karawang

Sunday, June 07, 2020 | 15:07 WIB Last Updated 2020-06-07T08:07:19Z
Menteri Pertanian RI Yasin Limpo kunjungi panen raya bersama Wakil Gubernur, Kapolda dan Pangdam Siliwangi di areal pesawahan Desa Bayurlor Kecamatan Cilamaya Kulon, Sabtu (6/6) kemarin. Selain di pamerkan sejumlah Alat Mesin Pertanian (Alsintan) seperti Combine Harvester dan Transplanter, Mentan yang di dampingi Anggota DPR RI Dedi Mulyadi ini juga secara simbolis menyalurkan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada sejumlah petani setempat. Namun, bagaimana sebenarnya para petani sikapi kunjungan Menteri dengan sejumlah kendala yang di hadapi di sektor pertanian di Karawang? Apakah kehadiran Mentan yang juga politisi senior Partai Golkar tersebut, sudah menjawab segudang permasalahan pertanian ? 

Kata Petani asal Cilamaya, Soeharto. Kehadiran menteri pertanian memang menyimpan banyak harapan yang kompleks untuk menjawab tantangan pertanian di era saat ini. Sebab, ia sebagai petani justru mengaku kecewa terhadap segudang bantuan yang di gulirkan masih belum optimal. Misalnya, sebut Soeharto, bantuan Alsintan yang turun selalu melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), karena kenyataan di lapangan, baik Combine, traktor, transplanter dan alat lainnya lebih banyak menguntungkan Gapoktan. Termasuk juga pengadaan bantuan benih, yang terkadang sia-sia karena tidak tepat waktu, tidak sesuai pemerataan varietas tanam, bahkan jelek kualitasnya. "Mentan harusnya bisa menjawab permasalahan petani di Karawang, karena selama ini yang paling banyak diuntungkan dari seabreg bantuan adalah Gapoktan, bukan petani dan buruh tani, "katanya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan permodalan cukup dengan memaksimalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR)  Pertanian dan subsidi pupuk. Begitupun, bagi perusahaan saprotan harus melakukan riset dan demplot dengan produk yang produksinya agar tidak menyesatkan petani. "Yang harus di optimalkan itu permodalan di KUR dan subsidi pupuk, " sarannya.

Soeharto menambahkan, dari sisi harga dan regulasinya, Pemerintah harusnya bisa intervensi aktif untuk mengimbangi harga pasar saat terjadi turun harga drastis. Pemerintah dan Bulog tiap Kabupaten, harus sanggup membeli gabah petani dengan harga yang tidak merugikannya, sarannya sebut Soeharto, pemerintah kiranya membuat resi gudang padi dengan sistem gadai sehingga petani dapat berkompetisi harga dengan pasar. "Kalau tidak mampu beli gabah petani saat anjlok, pemerintah harusnya bisa buat resi gudang padi dengan sistem gadai, " Katanya. 

Kades Rawagempol Wetan H Udin Abdul Gani mengatakan, kunjungan Mentan belum bisa memuaskan petani di Karawang, karena praktek percaloan hingga pengendalian harga gabah di petani tak pernah di perhatikan. Terakhir, musim panen yang di ringsek dengan rebah, harga gabah sudah dekati Harga Pokok Pemerintah (HPP) di level yang kurang menguntungkan. Sehingga, petani yang tidak punya modal, di jual dengan harga Rp420 ribu perkwintal saja mau, karena saking butuhnya. Yang lebih menyedihkan, sudah harganya murah, tengkulaknya juga membayar dengan tempo hutang alias tidak kontan, jadi kesannya memang petaninya sendiri yang butuh harga. Padahal, program semisal Serapan Gabah Petani (Sergap) Bulog, sudah bagus, tapi ternyata nihil realidssi dilapangan. "Mau Dirjennya, mau Menterinya yang datang, tetap saja harga gabah mah yang berkuasa Tangkulak dan Calo, karena kenyataannya, pemerintah tidak bisa intervensi apapun kecuali menyaksikan panen raya, " Sindirnya. (Rd)
×
Berita Terbaru Update