Notification

×
Copyright © Pelitakarawang.com Kabar Karawang Terkini, Aktual Dan Terpercaya

Iklan

Siapa Peduli Pendidikan Keagamaan di Karawang ?

  Kabar   Karawang
, June 21, 2020 WIB Last Updated 2020-06-21T03:47:29Z
Pendidikan keagamaan di Karawang dianggap masih belum sepenuhnya pro mendapat perhatian serius Pemkab Karawang. Hampir setiap tahun, bantuan-bantuan yang hendak turun bagi lingkungan pesantren, Madrasah, DTA, hingga para asatidz, acapkali pasang surut. Banyak contoh konkrit bahwa pendidikan agama Selakau di "Cueki" Pemkab, mulai sempat tersendatnya insentif guru-guru ngaji, Amil dan merbot, maupun terlupakannya Syahadah/Ijasah DTA sebagai poin pra syarat masuk SMP Negeri yang padahal warisan Peraturan Daerah (Perda) DTA terus mengikat sejak Era Dadang S Muchtar. 

Tidak cukup sampai situ, anggaran milyaran yang digelontorkan Pemkab dalam bentuk Karawang Cerdas (Kacer), ternyata tidak sampai menyentuh pendidikan Madrasah Aliyah (MA), padahal keberadaan MA juga setara hak nya dengan SMA, SMK maupun Paket C yang di Ganjar setiap tahunnya Rp1,2 juta persiswa pertahun, lantas kemana Kacer buat porsi Madrasah Aliyah (MA) selama ini ? 

Maksud ingin membentuk karakter masyarakat yang berakhlak dan ber Imtaq sebagaimana visi misi Pemkab yang hampir tercantum setiap tahun, Kota ini seakan lupa atas peran serta Para Penyuluh Agama Non PNS yang tersebar ratusan orang di berbagai Desa dan Kecamatan.

Kesibukannya memberikan penyuluhan dalam bentuk pengajian binaan lintas spesisliasi baca tulis Qur'an, narkoba, radikalisme hingga urusan zakat dan keluarga untuk masyarakat, sejauh ini masih belum mendapat perhatian khusus dari Pemkab. Sementara, peran penyuluh honorer lain seperti Penyuluh Pertanian, Penyuluh KB, Penyuluh Perikanan dan Penyuluh Lain non Agama, secara khusus Pemkab porsikan duit APBD Milyaran setiap tahun untuk tambahan stimulan menunjang kinerjanya setiap bulan, betapapun di kisaran Rp1 - 1,5 Juta di luar honor pasif dari Kementrian dan Lembaganya. 

Baru -baru ini, masyarakat lumbung padi ini di viralkan lagi dengan pendidikan keagamaan berbasis pesantren yatim di Gempol Desa Kertamulya Kecamatan Pedes yang bangunannya super sempit di gubuk-gubuk kecil diatas bantaran kali dan tanah pengairan (GG) tak jauh dari hamparan pemakaman. Pesantren yang di huni 30 santri tersebut, harus berjibaku menghidupi santri yatim dengan makanan alakadarnya dari hasil bumi secara langsung.

Anehnya, maksud ingin membantu lembaga pendidikan, pengetatan Bantuan Sarana Keagamaan (Bansara) menyulitkan pemangku keagamaan di kampung-kampung dengan mewajibkan status badan hukum. Sehingga, saat ini, jarang ada lagi Musala, Masjid dan Lembaga kegamaan dibantu lewat aspirasi/pikir DPRD maupun Pemkab, Jarang ada lagi Bantuan Sosial (Bansos) untuk menghidupi para santri supaya belajar beternak, berkebun atau bertani.

Entah, Karena semua sibuk berpolitik, sampai lupa esensi tujuan berpolitik adalah kemaslahatan orang banyak?Atau, benar-benar tidak tahu? Padahal, peluang untuk membantu sektor keagamaan terbuka lebar. Siapa, Peduli Pendidikan Keagamaan di Kota Ini ?  (Red)
Komentar

Tampilkan

  • Siapa Peduli Pendidikan Keagamaan di Karawang ?
  • 0

Terkini