Warga Membutuhkan Bupati Karawang Bukan Bupati Hebat di Medsos & Menang di Polling

Iklan Semua Halaman

Loading...

Warga Membutuhkan Bupati Karawang Bukan Bupati Hebat di Medsos & Menang di Polling

Redaksi
Saturday, June 13, 2020
Beredar kabar Pilkada 2020 akan dilanjutkan pemilihannya pada tanggal 9 Desember mendatang,dan munculnya beragam polling untuk Bacalon (bakal calon,red) bupati Karawang,mendapatkan tanggapan dari serius dari warga.(13/6/2020).

Saat ini hampir semua calon pemilih sudah cerdas dan sulit digiring-giring dengan opini publik atau hadirnya polling-pollingan.Terlebih para pemilih sudah juga bisa membaca gelagat kekinian,jadi ga ngaruh banget pergerakan sebatas begituan,sebut Ahmadi,di Tempuran.

Bagus-bagus saja buat polling Bacalon dan tebar pesona oleh kandidat atau tim suksesnya demi memiliki tolak ukur selain ngarep yang memungkinkan dapat mendulang suara,tapi hasil obrolan hampir di setiap peloksok desa dengan warga pemilih di Karawang.Mereka hampir sama mengucapkan akan mencari yang terbaik menurut hatinya masing-masing,tambah pria yang berusia 45 tahun ini.

Saya yakin,sambung dia,sekuat apapun uang yang dimiliki kandidat bupati Karawang namun tetap harus berhitung ulang untuk maju dan bisa memenangkan Pilkada di masa pandemi Corona. 

"Bukan hanya uang yang gede dibutuhkan tapi juga harus segera dipikiran cara bersosialisasi ke bawah. Karena diduga pada waktunya akan banyak mendapatkan hambatan dan tantangan selain situasi rentan penyebaran virus juga peta politik sudah berubah banyak",Ungkapnya.

Ahmadi pun sebutkan,mendadak munculnya polling atau bentuk lain pengiringan opini tertentu via media massa atau medsos tak cukup untuk bisa menduduki Karawang 1 dan 2. Modal jadi pimpinan bukan hanya ektabilitas atau kepopuleran semata utama dimasa pendemi namun kepedulian yang tulus berupa sikap dan interaksi sosial menjadi modal dan kebutuhan (tuntutan,red) setiap kandidat dan tim kemenangan.

Jual-jual kandidat lewat polling,baik itu melalui lembaga resmi atau medsos sangat ga ngaruh di Kabupaten Karawang.Pemikiran itu,imbunya,akibat indikator SDM dan tingkatan edukatif masyarakat dibawah sudah berubah,jangan anggap semua warga pemilih merupakan model pemilih tahun 90-an,tegasnya.

Dulu mungkin saja,seseorang dengan kepintarannya bisa ngoceh untuk menjual jagoannya.Tapi ingat seiring jaman tak sedikit warga Karawang sudah menjadi sarjana, atau mereka saat ini sudah banyak belajar dari pengalaman-pengalaman pemilihan langsung , selain sudah banyak yang terpelajar dan memiliki kajian serta pertimbangan sendiri untuk memilih calon pimpinannya."Intinya,warga Karawang pasti ga mau lah mempunyai bupati yang hebat di medsos atau menang di polling tapi ga bisa kerja.Polling akan terkapar pasti oleh voting rakyat pada waktunya", Pungkas Ahmadi.**ts