Notification

×


Iklan

Sekilas Cerita Ayam Jago Ciparage Asal Tempuran Karawang

Wednesday, September 09, 2020 | 06:39 WIB Last Updated 2020-09-08T23:46:21Z

Ayam aduan ternyata tidak hanya dari Thailand saja loh, dari Indonesia juga terdapat ayam Ciparage yang merupakan salah satu ayam aduan juara dan banyak diminati bahkan sampai manca negara.


Ciparage sendiri merupakan nama dari sebuah daerah di Karawang Jawa Barat, nah ayam Ciparage inilah ayam aduan primadona dari daerah tersebut.

Ayam Jago September

Menurut sejarah yang kami temukan, Ayam jenis ini diperkirakan sudah ada di daerah Ciparage pada saat daerah tersebut menjadi salah satu dari pusat perdagangan laut Internasional. Para pedagang dan saudagar dari Timur tengah seperti Arab, India, Pakistan, bahkan juga dari Eropa singgah di daerah ini untuk berdagang.


Dahulu transaksi perdagangan tidak hanya menggunakan uang tapi juga dengan cara barter, beberapa pelancong asal Asia timur tersebut biasanya membawa Ayam Aseel dari pakistan sebagai media tukar dengan rempah-rempah dan barang-barang yang ditemukan di karawang.

Selamat Milad Kecamatan Tempuran ke 38. ( 9 September 1982- 9 September 2020)

Terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa malah Ayam Ciparage merupakan ayam asli hutan Karawang tertua, ada yang postur badannya besar dan ada juga yang kecil.

Tetapi memang versi pertamalah yang paling masuk akal, karena postur ayam ciparage sendiri justru lebih kecil dari pada ayam bangkok dan ayam-ayam aduan sejenisnya. Ayam Aseel inilah yang merupakan kemungkinan cikal bakal persilangan dengan ayam hutan karawang sehingga menghasilkan ayam Ciparage.


Walapun diperkirakan justru Ayam hutan Indonesia merupakan ayam yang tertua, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ayam Aseel dari Pakistan lah cikal bakal munculnya ayam-ayam aduan juara yang salah satunya adalah Ayam Ciparage itu sendiri.


Tetapi sekarang ini peminat dari Ayam Ciparage sudah sangat jarang ditemukan. Kepopuleran ayam ini kalah jauh dibandingkan dengan Ayam Bangkok, Birma, Pakhoy, entah karena lebih kecil atau faktor lainnya.. tetapi ayam ini sudah hampir tidak pernah penulis lihat muncul di kalangan.


Harga Ayam Ciparage ini sendiri juga cukup mahal, karena jarangnya masyarakat yang mengembangbiakkan dan memelihara ayam ini, tentunya Indukan Juara sangatlah susah didapatkan apalagi kalau tidak pernah di gunakan untuk adu ayam.


Kesempatan inilah yang harusnya kita ambil, sambil menjalankan hobby juga tentunya melestarikan budaya-budaya yang asli dan orisinil dari Indonesia.


Ayam lokal kesayangan Adipati Singaperbangsa ini, kembali jadi perbincangan lantaran varietas ayam jenis itu sudah sangat langka dan jarang ditemukan di wilayahnya, seperti Ciparage, Sumurgede dan Manggungjaya Kecamatan Cilamaya Kulon.


Ade Cahya, kuncen makam Adipati Singaperbangsa Karawang mengatakan, jenis ayam ini sudah sangat langka. Tapi, ia berani memastikan ada warga yang masih memilikinya. Hanya saja, akan sangat tertutup dan tidak akan pernah ada yang tahu. Sebab, ayam dengan harga selangit berjalu warna emas ini, cenderung dimistiskan. Kalaupun ada yang punya, jangankan ke orang lain, dengan tetangga saja akan tertutup. “Ayam jenis ini masih ada, tapi sangat langka. Gak tahu siapa yang punya juga akan tertutup,” katanya.


Kades Manggungjaya Kecamatan Cilamaya Kulon, Dedi Embun mengatakan, ayam Ciparage yang legendaris dan jadi maskot Porpemda, sampai saat ini masih ada walaupun tergolong langka. Hanya saja, tidak sembarangan orang yang bisa menemui ayam kesayangan bupati pertama Karawang ini. Kadang-kadang ayam ini tidak menampakan diri saat banyak orang, bahkan mistisnya di komplek makam Singaperbangsa juga sering ada yang mendengar ayam-ayam Ciparage berkokok dengan suara khas yang panjang dan nyaring, tapi saat diperiksa selalu tidak ditemukan. “Ayam itu masih ada, cuma gak sembarang orang bisa melihatnya,” ujarnya.

Kades Sumurgede Yahya Sulaeman mengatakan, Ciparage dulu wilayahnya meliputi Sumurgede, Ciparage, Tempuran dan Manggungjaya. Maka endemik ayam ini tidak akan jauh dari lokasi ini. Memang sulit mencarinya, dan kebanyakan yang punya saja akan menutup. Sebab, anak itiknya saja, kalau ada terjual diharga Rp300 ribu dan kalau sudah dewasa mencapai puluhan juta. Ciri dari ayam Ciparage ini adalah jalu emas, bulu merah emas dan saat beradu dengan veriates ayam apapun tidak pernah terkalahkan. “Harganya mahal kalau ada, tapi sulit ditemui dimananya juga tertutup,” ungkapnya.


Sementara itu, Bupati Karawang Cellica Nurachadiana mengatakan, ayam Ciparage masuk di museum sebagai ayam khas asli Indonesia mampu mengalahkan ayam Burma. Mentalnya petarung cepat, tajinya akurat dan gaya beradunya mematikan, bahkan mampu kalahkan lawan yang posturnya lebih besar. Ayam petarung ini juga adalah milik kesayangan Adipati Singaperbangsa. Sehingga, tidak salah jika Karawang sebagai tuan rumah, mengangkat ayam Ciparage ini sebagai maskot. Itu, sebut Cellica, merupakan cerminan masyarakat Karawang yang memiliki mental petarung, pejuang dan berdaya saing. “Sifat petarung, ini menggilhami jadi lambang-lambang masyarakat Karawang yang bermental pejuang dan juga daya saing daerah,” pungkasnya.


Versi lain , Ayam Ciparage dilaporkan Nataamijaya, berada di daerah Karawang Jawa Barat, tepatnya di desa Ciparage Jaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Keberadaan Ayam ini sempat diangkat menjadi salah satu fauna khas Kabupaten Karawang . 


Ayam Ciparage bersifat ayam aduan, bentuk badan sedang, lonjong dan lebih kecil dari ayam Bangkok. Jengger berbentuk pea dan leher juga kaki besar dan panjang. Warna bulu umumnya berwarna hitam dan kuning emas. Namun pada tahun 2004, Iskandar et al, melaporkan bahwa ayam ini dapat dikatakan punah karena sebagian besar pemelihara sudah menggantinya dengan ayam keturunan Bangkok.***Berita dari berbagai sumber

×
Berita Terbaru Update