Iklan

Kabar Hebat, Indonesia Bentar Lagi Bakal Miliki Satelit Komunikasi Terbesar di Asia

Redaktur
Wednesday, 18 August 2021, 21:39 WIB Last Updated 2021-08-18T14:41:30Z

Tidak lama lagi Indonesia bakal memiliki satelit multifungsi terbesar di Asia. Namanya Satelit Republik Indonesia atau dikenal SATRIA-1. Satelit yang punya kapasitas 150 gigabyte per second (Gbps) itu memiliki kemampuan tiga kali lebih besar dari total sembilan satelit yang digunakan Indonesia saat ini.

Adapun sembilan satelit komersial yang kini beroperasi itu terdiri dari lima satelit nasional dan empat satelit asing, dengan total seluruh kapasitas transmisi sebesar 50 Gbps.

Rencananya, satelit itu akan diluncurkan dan beroperasi pada 2023 mendatang. Sosok satelit itu memiliki dimensi tingginya mencapai 6.5 meter dan usia operasionalnya sekitar 15 tahun dengan menggunakan teknologi Very High Throughput Satellite. Indonesia adalah negara keempat yang staelitnya menggunakan teknologi ini setelah Luksemburg, Kanada, dan Amerika Serikat. Satelit ini akan meng-cover seluruh wilayah di Indonesia dengan total keterjangkauan 116 spotbeam - yang terakses internet.

Adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny Gerard Plate, pada Rabu (18/8/2021) meletakkan batu pertama proyek infrastruktur telekomunikasi satelit multifungsi SATRIA-1 di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di tempat inilah nantinya akan menjadi Stasiun Kontrol Utama (Primary Satellite Center) dan Pusat Jaringan (Network Operation Center), “Tempat ini yang akan menjadi pusat pengendali SATRIA-1 ketika mengorbit dan menghubungkan antara satelit dengan bumi,’’ kata Menkominfo Johnny.

Sementara itu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan akan dibangun Stasiun Kontrol Cadangan (Back-up Satellite Control Center). Pemerintah juga menyiapkan 10 lokasi stasiun bumi lainnya atau gateway di Batam, Pontianak, Tarakan, Kupang, Manado, Ambon, Manokwari, Timika, dan Jayapura – yang statusnya masih berada di tahap penyediaan lahan.

Keberadaan stasiun pengendali ini diperlukan untuk mengawasi pergerakan SATRIA-1. Selain itu juga melakukan manajemen jaringan agar sesuai dengan standar kestabilan layanan serta menjadi sarana komunikasi data antara satelit dengan bumi.

Perakitan satelit SATRIA-1 dilakukan atas kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Thales Alenia Space, perusahaan manufaktur satelit yang berbasis di Perancis. Sedangkan untuk produksi roketnya sebagai peluncur satelit berada di Amerika Serikat. Pemerintah menggandeng Space Exploration Technologies Corporation atau SPACEX - perusahaan transportasi luar angkasa swasta Amerika Serikat yang didirikan oleh Elon Musk.

Proyek Satelit SATRIA-1 dibangun melalui skema perjanjian kerja sama pemerintah dengan badan usaha atau KPBBU. Proyek ini membutuhkan investasi senilai US$545 juta.

Struktur pembiayaan satelit terdiri dari porsi ekuitas (22 persen) US$114 juta dan porsi pinjaman (78 persen) US$431 juta. Porsi pinjaman berasal dari sindikasi Bank Kredit Ekspor Prancis (BPI France) dan dukungan antara lain HSBC Continental Europe, Banco Santander dan The Korea Development Bank.

Penanggung jawab proyek ini adalah Kementerian Kominfo bersama Badan Aksesibilitas Telekomunikias Informasi (BAKTI). Sedangkan badan usaha pelaksananya ialah PT Satelit Nusantara III. Adapun proyek ini telah menunjuk konsultan pengawas independen, yakni PT Surveyor Indonesia dan penjamin infrastruktur melalui PT Penjamin Infrastruktur Indonesia.

Dalam proses pembangunan satelit, konsorsium juga telah menunjuk China Great Wall Industry Corporation (CGWIC) untuk pembangunan gateway. Sebagai kontraktor monitoring, perusahaan Kratos Defense & Security Solutions, Inc dari Inggris akan dilibatkan dalam proyek. Adapun perusahaan HUGHES asal Amerika Serikat akan menjadi kontraktor untuk pembangunan IP Hub.

Mengurangi Kesenjangan Digital

Menurut Menkominfo Johnny, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, gunung, bukit, lembah, sungai, ngarai, selat, dan laut yang luas dengan beragam tantangan dalam penyediaan jaringan terestrial.

“Ini menjadi salah satu pertimbangan dalam pilihan teknologi satelit sebagai solusi telekomunikasi dalam usaha bersama untuk memperkecil kesenjangan akses broadband internet to bridge digital divide,” ujarnya.

Maka Presiden Joko Widodo telah menetapkan SATRIA-1 sebagai salah satu proyek strategis nasional untuk mendukung konektivitas digital dan sekaligus menjadi fondasi transformasi digital untuk kemajuan bangsa. Nantinya, satelit SATRIA-1 yang akan diluncurkan pada orbit di atas wilayah Indonesia, akan memenuhi kebutuhan jaringan internet di daerah 3T dan 150.000 titik dari total 501.112 titik layanan publik dapat dipenuhi.

Adapun titik layanan publik di berbagai sektor itu yang akan mendapatkan akses dari jaringan satelit ini antara lain sarana pendidikan, pemerintah daerah, administrasi pertahanan dan keamanan, dan fasilitas Kesehatan, “Ini sekaligus mewujudkan Indonesia sebagai bangsa digital atau a Digital Nation,” tambah Menteri Johnny

Pembagian 150.000 titik layanan publik itu, dialokasikan masing-masing 93.900 titik untuk sekolah dan pesantren dalam upaya mendukung pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan ujian berbasis compute. Lalu ada 3.700 titik untuk puskesmas dan rumah sakit, serta layanan kesehatan lainnya untuk menyokong kebutuhan database kesehatan yang terintegrasi dan terpusat.

Di sektor keamanan, Menkominfo Johnny menyebutkan ada 3.900 titik untuk layanan keamanan masyarakat di markas Polisi dan TNI - khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sehingga dapat mendukung kebutuhan keamanan yang dapat diandalkan – yang selama ini sulit dijangkau dengan kabel optik.

“Juga ada 47.900 titik untuk layanan kantor desa/kelurahan, kecamatan, dan pemerintah daerah lainnya, agar dapat mengoptimalkan pelayanan sistem pemerintah berbasis elektronik (SPBE/e-government) secara efisien dan efektif, serta 600 titik layanan publik lainnya,” tambah Menteri Johnny lagi.

Lebih jauh Menteri Johnny juga menyampaikan bahwa penyediaan infrastruktur ini merupakan prayasarat awal yang krusial untuk mewujudkan percepatan transformasi digital Indonesia. Dengan berbasis pada human-centred approach, diharapkan penyelenggaraan infrastruktur dapat memberikan manfaat besar sekaligus membuka peluang-peluang digital bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Mari kita jadikan momentum (ground breaking) ini sebagai titik lompatan besar untuk terus bertransformasi, terus bertumbuh dan tangguh menuju Indonesia Terkoneksi: Semakin digital, Semakin maju!” imbuhnya.(ts)



Silahkan Komentar Anda

Tampilkan


Berita Terkini


Kilas Pendidikan



Berita Seputar Desa

DEWAN KARAWANG

+

PERTANIAN

+

DUNIA OLAHRAGA

+
X
X
×
BERITA UTAMA TERKINI