×

Iklan

Indeks Berita

Pengumuman! Ada Larangan Bagi Jemaah Haji Diminta Tidak Asal Merokok di Saudi

6 Jun 2022 | Senin, Juni 06, 2022 WIB Last Updated 2022-06-06T14:31:52Z

Ada banyak tanda larangan merokok di Madinah, baik di hotel maupun tempat lainnya. Untuk itu, jemaah haji Indonesia diminta tidak sembarangan merokok di Tanah Suci.

Calon Jemaah haji Indonesian asal Karawang

"Jangan sampai merokok di pelataran masjid nanti ditangkap. Dan kalau di penginapan itu harus dijaga karena di kamar ada alarmnya," ujar Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Amin Handoyo, saat ditemui di Kantor Daker Madinah, Arab Saudi, Senin (6/6/2022).

Amin mengatakan, pada dasarnya Saudi sangat ketat dengan larangan merokok. Itu sebabnya, Amin meminta jemaah lebih peka ketika ingin melakukan aktivitas merokok.

"Merokok di Saudi dilarang," katanya.

Amin berharap jemaah benar-benar memahami aturan yang berlaku selama di Saudi. Fasilitas hotel juga dilengkapi dengan alat pendeteksi asap.

"Kalau nanti bunyi, yang lain jadi panik. Jangan sampai ganggu orang lain dan keamanan diri sendiri," kata Amin memberi pesan.

Menyediakan makanan dengan cita rasa nusantara bagi jemaah haji Indonesia menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Agama. Langkah yang dilakukan adalah memastikan konsumsi jemaah dimasak oleh chef asal Tanah Air.

Salah satu chef tersebut adalah Muhammad Efendi (29). Pria asal Lombok Tengah NTB ini bertugas meracik citarasa makanan khusus untuk jemaah haji 2022. Ia sudah lima tahun berada di Madinah Arab Saudi bekerja menjadi chef. Awalnya memang seorang TKI. Ia bersyukur makanan racikannya bisa dinikmati oleh para tamu Allah.

Efendi, begitu karib disapa, bekerja di perusahaan atau Dapur Al Ahmadi Catering Madinah, yang sudah berdiri sejak tahun 2000. "Awalnya saya asisten Chef. Alhamdulillah, sekarang chef," kata Efendi saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) Daker Madinah di sela-sela kegiatan memasak untuk Jemaah Haji Indonesia, Senin (6/6/2022).

"Saya khusus untuk mantau tangani sayur mayur," sambungnya.

Dia mengaku, bisa melayani makan para tamu Allah menjadi kebanggaan tersendiri. "Saya sangat senang sekali bisa melayani makan jemaah haji. Saya berkomitmen akan memberikan pelayanan memuaskan. Mereka adalah tamu Allah," katanya berkaca-kaca.

Sebelumnya, Efendi pernah melaksanakan tugas yang sama pada 2017. Saat itu, dia juga menjadi juru masak bagi jemaah haji Indonesia. "Berkahnya saat itu, saya sekaligus bisa melaksanakan haji. Karena masak makanan saat jemaah haji berada di Arafah dan Mina," jelasnya.

Tahun ini, Efendi memang tidak bisa haji. Karena memang tidak ada jatah untuk bagian katering. "Alhamdulillah, saat ini tetap bisa melayani tamu Allah untuk makanannya," ujarnya.

Secera rinci, Efendi menyampaikan bahwa di perusahaan Al Ahmadi Catering itu, karyawan asal Indonesia ada enam orang. Total ada 60 orang dari beberapa negara. Ada dari NTB, dua orang asal Madura. "Yang paling lama kerja di Madinah, ada yang sudah 10 tahun. Kalau saya baru 5 tahun," katanya.

"Harapan saya, semoga bisa memberikan pelayanan yang memuaskan. Sehingga tamu Allah merasa senang," lanjutnya.

Sementara itu, Perusahaan Al Ahmadi Catering, milik dari beberapa orang pengusaha katering. Di antara pemiliknya adalah, Abu Bakar Al Ahmadi, Ubaidillah dan Yaser.

Menurut Abu Bakar, Kebutuhan karyawan di perusahaan atau Dapur miliknya tergantung pada pesanan atau jumlah jemaah haji atau umrah yang pesan. Jika banyak, otomatis menambah karyawan. "Karyawan tergantung banyak pesanan atau melayani jemaah. Kondisional," katanya.

Makanan jemaah haji yang ditangani oleh Al Ahmadi Catering, adalah makan pagi dan siang. "Makan pagi dengan siang saja. Pagi jam 6 pagi. Siang jam 12.00. sebelum jam itu sudah harus ada di hotel. Sudah harus didistribusikan ke hotel," terangnya.

Kekuatan makanan hanya mampu 4 sampai 6 jam saja. Mayoritas bumbu dan citarasanya harus khas makanan Indonesia. Rempah-rempah banyak dari Indonesia. "Tahun ini ketentuan dari Indonesia sangat bagus sekali. Sudah terinci menunya harus seperti ap. Bagus Indonesia," kata pria yang kini tinggal di Singapura.

Abu Bakar menambahkan, pihaknya juga tidak mau ambil pesanan katering banyak untuk JCH Indonesia. Biar bisa berbagi dengan katering lainnya. "Saya disini betul-betul jaga kualitas. Makanannya bisa dinikmati sendiri. Tahun ini saya hanya menangani 13 ribu jemaah. Dari tanggal 6 sampai 28 Juni. Kita harus berbagi biar berkah," kata pria kelahiran Malaysia itu. (Nag)

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS