BGN Minta Kerusakan Sekolah Tak Dikaitkan dengan Program MBG
Jakarta : Badan Gizi Nasional (BGN) meminta masyarakat tidak mengaitkan kerusakan infrastruktur sekolah dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, kondisi sekolah yang rusak sudah ada sebelum program tersebut dijalankan.
![]() |
| Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) saat konferensi pers di Jakarta (Foto: Humas BGN) |
“Sekolah rusak sudah ada sebelum Program MBG berjalan, kini pemerintah melalui Presiden mulai memperbaiki fasilitas pendidikan. Kami mengajak masyarakat menilai persoalan secara objektif dan tidak mengaitkan kerusakan sekolah dengan pelaksanaan Program MBG,” kata Kepala BGN Sudaryono dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Pernyataan itu merespons foto viral siswa menyantap Program MBG di depan ruang kelas roboh SDN Tanggirejo, Grobogan. Foto tersebut memicu perhatian publik terhadap kondisi infrastruktur sekolah di Jawa Tengah.
Sudaryono mengajak masyarakat melaporkan temuan sekolah rusak melalui mekanisme resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Ia menilai langkah tersebut lebih tepat dibandingkan membandingkan kondisi bangunan sekolah dengan pelaksanaan Program MBG.
“Kalau ada sekolah rusak yang kau temukan, itu cukup lapor, ada portalnya di Dikdasmen, pasti diperbaiki. Ini kan masalahnya enggak fair,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sudaryono mengatakan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, menurutnya, kritik sebaiknya disampaikan secara proporsional agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap program yang sedang berjalan.
“Ini sesuatu yang menurut saya tidak fair. Tapi enggak apa-apa, itu bagian dari dinamika kita berdemokrasi, enggak ada masalah,” ucapnya.
Sudaryono menegaskan BGN memastikan penyelenggaraan Program MBG memenuhi standar kebersihan dapur, kualitas makanan, dan kecukupan gizi. Seluruh peserta didik menjadi prioritas utama penerima manfaat Program MBG.
“Kami memastikan dapur SPPG bersih, higienis, makanan yang dihasilkan sesuai kandungan gizinya dan disukai anak-anak. Dampaknya, anak-anak terbebas dari stunting, tumbuh dengan baik, dan memperoleh manfaat yang optimal,” katanya.
Sudaryono mengimbau masyarakat melaporkan kerusakan sekolah kepada Kemendikdasmen agar segera ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku. Ia meminta persoalan tersebut tidak dikaitkan dengan pelaksanaan Program MBG.
“Kalau Anda temukan sekolah rusak, ya sudah difoto dan dilaporkan saja. Enggak perlu dibandingkan dengan dapur MBG karena enggak nyambung, mohon maaf,” kata Sudaryono.(*)
