Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Inilah Tanda -Tanda Udara Kamar Tidur Sudah Tak Layak

Jakarta: Kamar itu seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas.

Inilah Tanda -Tanda Udara Kamar Tidur Sudah Tak Layak
Inilah Tanda -Tanda Udara Kamar Tidur Sudah Tak Layak

Tetapi, jika udara di dalamnya terasa pengap, berbau, apek atau terlalu lembap, kenyamanan bukan satu-satunya yang terganggu.

Kondisi tersebut juga bisa menjadi tanda kualitas udara di dalam kamar sudah menurun dan berpotensi berdampak pada kesehatan.

Melansir dari World Health Organization (WHO), kualitas udara dalam ruangan yang buruk, terutama akibat kelembapan berlebih dan pertumbuhan jamur (mould), dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, alergi, hingga memperburuk asma.

Bahkan, sebagian orang bisa mengalami keluhan hanya karena terlalu lama berada di dalam ruangan tersebut.

Melansir dari berbagai sumber, (7/8/26), berikut sederet tanda untuk mengenali jika udara di kamar sudah tidak lagi sehat, antara lain:

1. Kamar terasa pengap meski cuaca tidak panas

Pernah masuk ke kamar dan langsung merasa sesak atau udara terasa 'berat', padahal suhu ruangan sebenarnya tidak terlalu panas? Kondisi ini bisa menjadi pertanda ventilasi yang kurang baik.

Saat sirkulasi udara minim, udara segar dari luar sulit masuk, sementara berbagai polutan di dalam ruangan terus menumpuk. Akibatnya, ruangan terasa pengap meski pendingin ruangan atau kipas angin tetap menyala.

2. Muncul bau apek atau lembap

Bau apek sering kali dianggap hal biasa, apalagi saat musim hujan. Padahal, aroma tersebut merupakan salah satu indikator paling umum adanya kelembapan berlebih di dalam bangunan.

Kelembapan yang terus-menerus tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi jamur dan mikroorganisme lain untuk berkembang.

Jika bau apek tidak kunjung hilang meski kamar sudah dibersihkan, bisa jadi penyebabnya bukan sekadar pakaian lembap atau kasur yang jarang dijemur.

3. Ada bercak lembap atau jamur di dinding dan langit-langit

Dinding yang mulai menghitam, menguning, atau muncul bercak kehijauan sebaiknya tidak diabaikan. WHO menyebut, jamur yang tumbuh akibat kelembapan dapat melepaskan spora dan partikel mikroskopis ke udara. Partikel inilah yang kemudian terhirup dan berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Paparan jamur dalam jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan saluran pernapasan, alergi, hingga asma.

4. Mata, hidung, atau tenggorokan sering terasa perih

Melansir ulasan WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Dampness and Mould yang dipublikasikan di NCBI, jika mata mudah berair, hidung terasa gatal, atau tenggorokan sering tidak nyaman setiap kali berada di kamar, kualitas udara patut dicurigai.

Polutan biologis maupun kimia di dalam ruangan dapat memicu iritasi, terutama jika ventilasi tidak memadai.

Keluhan biasanya muncul tanpa disadari dan sering dianggap sebagai gejala flu biasa atau efek kelelahan.

5. Batuk atau alergi sering kambuh di kamar

Batuk yang tak kunjung reda, bersin-bersin saat bangun tidur, atau alergi yang hanya muncul ketika berada di kamar juga bisa menjadi sinyal adanya masalah pada kualitas udara.

Lingkungan yang lembap memudahkan berkembangnya tungau debu, jamur, dan mikroorganisme lain yang diketahui dapat memicu reaksi alergi. Pada orang yang memiliki riwayat asma atau alergi, gejala bahkan bisa menjadi lebih berat.

6. Keluhan membaik setelah keluar kamar

Salah satu petunjuk yang sering luput disadari adalah gejala yang hilang ketika meninggalkan ruangan. Misalnya, hidung tersumbat, mata gatal, atau batuk mulai berkurang saat berada di luar rumah, tetapi kembali muncul setelah masuk ke kamar.

Pola seperti itu dapat menjadi indikasi bahwa sumber masalah berasal dari lingkungan di dalam ruangan, bukan dari kondisi tubuh semata.

7. Kamar selalu lembap atau jendela sering berembun

Embun yang terus muncul di kaca jendela atau kamar yang terasa lembap sepanjang hari juga tidak boleh dianggap sepele. Kelembapan yang menetap merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan jamur, bakteri, dan mikroorganisme lain.

Semakin lama kondisi tersebut dibiarkan, semakin besar pula peluang kualitas udara di dalam kamar menurun.(*)

Hide Ads Show Ads