Lukisan Wanita Bergaun Lurik
PELITAKARAWANG.COM-. Tak ada Istana Kepresidenan yang berperan begitu penting di masa revolusi kemerdekaan kecuali Istana Yogyakarta. Ketika Belanda melakukan agresi militer pada 3 Januari 1946 untuk menduduki kembali bekas jajahannya, pemerintahan Republik Indonesia terpaksa mengungsi ke Yogyakarta, dimana Presiden Soekarno dan keluarganya menempati sebuah rumah yang pernah menjadi kediaman resmi residen Belanda.
Bangunan itulah yang kini menjadi Istana Yogyakarta atau yang lebih terkenal dengan sebutan Gedung Agung. Di dalam Gedung Agung, terdapat banyak sekali hasil karya seni dari seniman-seniman lokal ternama. Salah satunya adalah lukisan berjudul Wanita Bergaun Lurikkarya alm. Nasjah Djamin.
Terletak di sayap kiri Ruang Induk, tepatnya di kamar Wakil Presiden, lukisan ini menggambarkan sosok wanita yang sedang mengenakan busana bermotif lurik bernuansa hitam dan coklat dengan arah garis vertikal dan horizontal. Uniknya, jika lukisan-lukisan di masa itu kerap menampilkan busana tradisional atau daerah, di lukisan tersebut sang wanita nampak mengenakan gaun tanpa lengan yang sering digunakan oleh para wanita di masa kini.
Lengkap dengan rambut panjang dan hitam yang terurai, serta riasan di wajahnya, wanita di lukisan tersebut dapat mewakili sosok wanita Indonesia pada umumnya. Motif kain lurik yang digunakan wanita dalam lukisan tersebut juga masih mengikuti motif lurik gaya kuno, yaitu bergaris-garis dengan warna dasar hitam dan coklat. Saat ini kain lurik sudah mengalami proses pewarnaan yang lebih modern, dengan warna-warna yang juga beragam, seperti merah muda, hijau, dan biru.
Kata lurik sendiri berasal dari bahasa jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis. Kain lurik berkembang di Pulau Jawa khususnya Jepara,Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Kain tradisional ini diperkirakan ada sejak jaman kerajaan Mataram yang dibuktikan dengan adanya prasasti yang mengenakan kain lurik.
Lurik merupakan jenis bahan khas nusantara yang juga melewati proses penenunan dalam pembuatannya. Awalnya , kain lurik ini dibuat seperti selendang yang fungsinya sebagai kemben atau penutup dada wanita dengan motif yang sederhana. Dengan berkembangnya zaman, banyak motif lurik yang muncul, diantaranya adalah yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, polos abang, polos putih, dan masih banyak lagi.
Pelukis Wanita Bergaun Lurik, Nasjah Djamin lahir di Perbaungan, Deli, Sumatera Utara 24 September 1924 dan wafat pada 4 September 1997. Ia belajar melukis di bawah bimbingan Kartono Yudhokusumo di Yogyakarta. Gaya melukis yang sederhana, membuat alm. Nasjah Djamin menerima hadiah dan penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada tahun 1950 dan diikutsertakan dalam pameran 19 Pelukis Indonesia di Singapura dan Malaysia, pameran bersama di Sao Paolo, Brazil dan India.
Untuk perawatan lukisan tersebut, staf bidang Dekorasi dan bidang Seni Istana Yogyakarta, Elia Gupita menjelaskan bahwa perawatan dilakukan secara berkala. “Selama lukisan masih bagus dan tidak berjamur, lukisan hanya dibersihkan saja. Bagian belakang dan pigura dibersihkan menggunakan kuas dan lap atau kain kering”, ujar Eli.
Berdasarkan pelukisnya, terdapat dua golongan lukisan yang ada di Istana Yogyakarta, yaitu golongan Master Kelas A dan golongan Masterpiece. Lukisan karya Alm. Nasjah Djamin ini digolongkan ke dalam golongan Mater Kelas A, sehingga penempatan lukisan pada umumnya di kamar-kamar utama Ruang Induk, Istana Yogyakarta, sedangkan untuk lukisan golongan Masterpiece diletakkan di museum. (yor) www.pelitakarawang.com