Joget "Sawer" Pengurus Saat Konkerkab PGRI Karawang, Ini Faktanya !

Kejadian saweran dan joget dangdutan sejumlah pengurus PGRI saat Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) Jadi viral ditengah pandemi Covid_19. Pasalnya, selain dianggap tidak elok karena masih berseragam batik PGRI, kegiatan saweran tersebut di juga di sebut kurangnya simpati beberapa pemangku pendidikan di tengah ambruknya beberapa gedung sekolah baru-baru ini di Karawang.

Seksi Acara Saat Konkerkab PGRI Kabupaten Karawang Heni Heryani Saat Memberikan Keterangan

Namun, apa fakta sebenarnya yang terjadi saat acara yang dihadiri semua pengurus PGRI se Kabupaten Karawang di Hotel Akhsaya tersebut? 

Di ungkapkan Seksi Acara Konkerkab PGRI, Heni Heryani S.pd, aktivitas joged dan saweran yang viral tersebut sama sekali tidak masuk rundown acara dan di luar agenda inti Konkerkab. Bahkan, dirinya sebagai seksi acara, juga tidak "ngeuh" ada kegiatan dangdutan, sebab sebut Heni, itu dilakukan setelah acara konkerkab selesai, bahkan panitia, pengurus dan tamu undangan sudah pulang dan tidak ada di lokasi lagi. 
Sebab, pengetatan prokes covid_19 dan kegiatan sangat besar di perhatikan panitia dan tim,termasuk swab yang jadi SOP Hotel setempat.

"Jadi dangdutan itu spontanitas di luar kegiayan konkerkab, kami tidak mengundang organ kecuali untuk musik tampilan seni dan juga upacara adat penyambutan Bupati saja. Setelah selesai acara, ya kami bubar bersama pengurus juga. Bahkan sebelum dan selama acara, prokes benar-benar ketat kok, baik teguran di protokol pemkab maupun dari provinsi saat acara. Dan itu kami jalankan, " Tandasnya, Senin (8/11).

Adanya dangdutan itu, sambung Heni selain spontanitas, kemungkinan juga memang sumbangan dan atau salah kamar. Jadi, guru dan atau bukan, melihat pelaku seni bernyanyi spontan, tidak begitu harus di usir. Jadi dari sudut pandang seni, saweran sebagai wujud apresiasi dan selama tidak melakukan hal-hal senonoh, baginya itu wajar-wajar saja. Dan tidak ada korelasinya jika menyebut guru yang berjoget itu di pandang tidak baik dalam kesehariannya di sekolah. 

"Yang jelas kami tidak mengundang (Organ_red), tidak juga mempersilahkan manggung dan lainnya, karena itu di luar acara inti, jadi kalau ada orang profesi apapun melihat pelaku seni, bentuk apresiasinya juga beda-beda, termasuk juga guru mungkin dengan saweran itu. Selain hanya dilakukan 4 orang (guru) saja dan gak lebih dari 1-2 lagu, juga selama tidak bersikap senonoh, mungkin dari sudut pandang seni, sah-sah saja kan, " Ungkapnya. 

Ketua PD PGRI Karawang Drs H Nandang Mulyana mengatakan, paska viral pihaknya langsung menegur sejumlah pengurus yang kedapatan berjoget dangdut dengan melepas masker, bahkan meminta semua cabang PGRI di tiap kecamatan untuk tidak menggelar kegiatan rame-rame dalam menyongsong hari guru karena kondisinya masih pandemi. Untuk itu, ia sebagai Ketua PGRI memohon maaf kepada semua masyarakat, apabila apa yang di lakukan para guru dan atau pengurus itu, mungkin kurang berkenan, ada kekeliruan dan lainnya. 

"Mohon di maafkan, apabila yang viral selama ini ada yang kurang berkenan dan dianggap kurang baik, namun saya pastikan sudah melakukan teguran dan meminta semua cabang juga untuk tidak menggelar kegiatan hari guru secara jor-joran dan keramaian di tengah pandemi, " Pintanya. (Rd)

0 Komentar

X
X