Fenomena tanah bergerak dan longsor terjadi di wilayah Kecamatan Bojongmangu Bekasi, Jawa Barat pada Minggu (25/2). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengatakan, fenomena tanah bergerak diakibatkan hujan dengan intensitas tinggi.

Fenomena Tanah Bergerak di Bekasi, Ini Penyebabnya

"Hujan deras mengakibatkan permukaan tanah turun. Serta amblas dengan kedalaman bervariasi antara 30 centimeter sampai satu meter pada radius sekitar 100 meter," kata Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis.

BPBD langsung meninjau titik pergerakan tanah yang mengakibatkan longsor di Kampung Legok Cariu RT12 RW06, Desa Sukamukti Kecamatan Bojongmangu, Selasa (27/2). Longsor tersebut mengakibatkan 5 unit rumah warga mengalami rusak ringan, 7 rumah rusak berat, serta 4 rumah kontrakan dan satu bangunan mushala rusak ringan.

Muchlis menyebutkan, selain melakukan pendataan serta pelaporan dari lokasi kejadian, petugas juga melakukan koordinasi dengan aparatur pemerintahan setempat. Hal ini untuk menindaklanjuti hasil peninjauan melalui upaya pencegahan dan penanganan.

Salah seorang pemilik bangunan, Miki Andri (49) menuturkan, kejadian pergerakan tanah sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak satu bulan lalu. Warga pun khawatir bangunan yang mereka tempati bakal roboh karena terdampak pergerakan tanah.

"Awalnya tidak sampai 10 centimeter, sekarang sudah ada yang satu meter. Itu setiap hujan amblesnya bertahap dan ini sudah hampir sebulan," katanya.

Diketahui puluhan rumah terdampak bencana tanah bergerak di wilayah tersebut. Dan dalam dua pekan terakhir belum ada bantuan untuk rumah yang terdampak.

Fenomena geologi itu juga menyebabkan ruas jalan penghubung dua desa yakni Sukamukti, dan Sukabungah rusak. Diduga, pergeseran tanah itu dipicu oleh hujan yang deras sejak beberapa hari terakhir. 

Selain itu, fenomena tanah bergerak di Bekasi diduga terjadi karena bergesernya tebing penyangga akibat hujan deras belakangan. Karena untuk diketahui, beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki puncak musim hujan yang terjadi pada Januari-Februari 2024.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga menduga gerakan tanah yang terjadi berbentuk retakan-retakan. Yang mana retakan tersebut menyerupai likuifaksi, di mana terjadi akibat tarikan sungai.(*)