Waspada Leptopirosis, di Garut Empat Orang Meninggal
Garut : Jika ada warga yang menderita semacam penyakit kuning atau mirip penyakit hepatitis dengan demam tinggi maka harus diwaspadai. Bisa saja penyakit tersebut merupakan gejala penyakit leptopirosis.
Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Garut Asep Surahman mengatakan, dari 18 kasus penyakit leptopirosis ini 4 orang meninggal dunia dan tersebar di 13 Kecamatan.
"Leptopirosis ini penyakit yang ditularkan melalui air kencing atau urine tikus,"katanya, Rabu (27/8/2025) di Garut.
Ia menyampaikan, siklus penularannya leptopirosis ini bisa dirumah dan paling rentan di saluran air selokan atau got yang sudah terkontaminasi oleh urine tikus tersebut.
"Leptopirosis ini cukup mematikan dan melebihi dari ambang batas 1 persen, dengan ditemukannya 4 meninggal dunia ambang batasnya saat ini diangka 7.2 persen bahaya dsri pada virus covid,"ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan uji laboratorium, dari 20 sampel tikus yang diambil ditemukan bakteri leptopyra penyebab leptopirosis. "Kami melakukan pembedahan terhadap puluhan tikus dan diambil ginjalnya serta dilakuka uji lab dan hasilnya ditemukan bakteri mematikan,"katanya.
Ia menyampaikan, leptopirosis ini bahayanya menyerang organ vital seperti lambung, lever dan jantung sehingga cukup mematikan apabila tidak segera tertangani. Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya preventif termasuk menyiapkan fasilitas medis dan sosialisasi kepada masyarakat.
"Bakteri leptopyra ini belum ada vaksin penangkalnya, sehingga diperlukan penanganan serius dalam pengobatannya,"ujarnya.Ia menghimbau kepada masyarakat untuk membiasakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dilingkungannya masing-masing, sebagai cara efektif untuk menghindari penyakit leptopyrosis tersebut.
"Metode pencegahan yang standar namun efektif yaitu dengan pola PHBS dilingkungan masyarakat,"ujarnya.(*)
