Amerika Serikat Pisahkan Gaza Zona Hijau Merah Dibawa Pengawasan Israel
Karawang : Dokumen perencanaan militer Amerika Serikat (AS) yang dilihat oleh The Guardian mengungkap rencana jangka panjang Washington untuk membagi Gaza menjadi dua wilayah.
"Zona Hijau" di bawah kendali militer Israel dan internasional untuk memulai rekonstruksi, dan "Zona Merah" yang sebagian besar akan dibiarkan hancur tanpa rencana pembangunan kembali.
Rencana yang bersifat eksklusif ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen AS terhadap pembentukan penyelesaian politik yang langgeng, dengan pemerintahan Palestina di seluruh Gaza, seperti yang sebelumnya dijanjikan oleh Presiden Donald Trump.
Pembagian Gaza di Bawah Garis Kendali Israel
Menurut dokumen dan sumber yang mengetahui rencana AS, pasukan asing awalnya akan ditempatkan bersama tentara Israel di timur Gaza.
Hal ini akan membelah wilayah yang hancur tersebut oleh "Garis Kuning" yang saat ini dikendalikan oleh Israel.
"Idealnya Anda ingin membuatnya utuh, bukan? Tapi itu bersifat aspiratif," kata seorang pejabat AS yang berbicara tanpa menyebut nama,
merujuk pada reunifikasi Gaza. "Ini akan memakan waktu. Itu tidak akan mudah."
Hampir seluruh warga Palestina yang mengungsi lebih dari 2 juta orang saat ini berdesakan di Zona Merah, sebuah jalur sempit di sepanjang pantai yang mencakup kurang dari separuh luas wilayah Gaza.
Pasukan Internasional di Zona Hijau
Inti dari rencana AS ini adalah pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF/International Stabilisation Force) yang diharapkan akan diberikan mandat resmi melalui resolusi Dewan Keamanan PBB minggu depan.
Dokumen perencanaan militer regional Komando Centcom AS sebelumnya mencantumkan rincian yang "delusional" tentang rencana menempatkan pasukan Eropa termasuk ratusan tentara Inggris, Prancis, dan Jerman sebagai inti ISF.
Namun, seorang pejabat AS kemudian menyatakan bahwa angka-angka tersebut mengandung "banyak ketidakakuratan" dan Washington tidak lagi mengharapkan Eropa menjadi inti utama.
"Langkah pertama adalah kita harus mendapatkan [resolusi]," ujar pejabat AS tersebut.
"Negara-negara tidak akan memberikan komitmen tegas sampai mereka benar-benar melihat bahasa yang telah disahkan."
Trump sendiri telah menegaskan bahwa AS tidak akan menempatkan tentara di lapangan untuk memuluskan penarikan Israel, atau mendanai rekonstruksi.
"AS sangat jelas bahwa mereka ingin menetapkan visi dan tidak membayarnya," ungkap sumber diplomatik.
Rencana tersebut memperkirakan ISF akan beroperasi "hanya di zona hijau," dan akan "dimulai dari skala kecil" dengan beberapa ratus pasukan sebelum diperluas perlahan hingga kekuatan penuh 20.000 di seluruh area tersebut.
ISF tidak akan beroperasi di sisi barat "Garis Kuning," di mana Hamas disebut tengah mendapatkan kembali kendali.
Rekonstruksi Sebagai Umpan?
Pihak perencana militer AS juga melihat rekonstruksi di dalam Zona Hijau sebagai bagian dari jalan yang samar-samar menuju penyatuan kembali Gaza.
Tujuannya adalah meyakinkan warga sipil Palestina untuk pindah melintasi garis kendali Israel.
"Seiring kemajuan dan Anda menciptakan kondisi untuk adanya kemajuan signifikan dalam rekonstruksi, Anda [akan] melihat warga sipil Gaza pindah ke sana dan mulai makmur," kata pejabat AS itu. "Orang-orang akan berkata 'hei kami menginginkan itu', dan jadilah itu berkembang ke arah sana. Tidak ada yang berbicara tentang operasi militer untuk memaksanya."
Namun, rencana untuk menggunakan bantuan sebagai umpan untuk menarik populasi Gaza ke wilayah di bawah kendali Israel, setelah dua tahun perang, menuai perbandingan dengan kebijakan bencana AS di Iraq dan Afghanistan.(*)


