Awas dan Waspada! Bagi Masyarakat Sekitar Bantaran Sungai Berhulu Gunung Merapi
Sleman: Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai berhulu Gunung Merapi diminta meningkatkan kewaspadaan. Selain mewaspadai peningkatan aktivitas vulkanik, warga diminta mewaspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
![]() |
| Ilustrasi - Gunung Merapi mengalami erupsi berupa lontaran abu vulkanik yang terlihat dari Pos Pengamatan Babadan di Magelang, Jawa Tengah (Foto: PVMBG) |
Hal ini buntut hujan yang dilaporkan mengguyur puncak Gunung Merapi sejak Sabtu (27/12/2025) pukul 05.45 WIB. “Wspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi,” tulis Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
BPPTKG menyatakan hingga saat ini belum ada perubahan rekomendasi daerah bahaya. Sektor selatan–barat daya masih menjadi wilayah paling rawan.
Rincian daerah potensi bahaya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Kemudian, sektor tenggara Sungai Woro maksimal 3 kilometer, serta Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya tersebut. Selain itu, warga juga diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif.
“Tetap tenang, patuhi rekomendasi dari pemerintah daerah setempat. Dan selalu pantau perkembangan aktivitas Merapi melalui kanal resmi,” kata BPPTKG.
Sementara itu, aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan peningkatan visual. Pada pengamatan Sabtu, Merapi tercatat meluncurkan guguran lava sebanyak tiga kali dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter ke arah Kali Sat/Putih.
Berdasarkan laporan periodik BPPTKG Yogyakarta periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, status Gunung Merapi masih Level III atau Siaga. Penyusun laporan BPPTKG, Rachmad Widyo Laksono, menyebutkan kegempaan di tubuh Merapi masih cukup tinggi.
“Tercatat 36 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–29 mm serta 16 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang memicu potensi awan panas guguran di dalam daerah bahaya,” katanya.
Secara visual, gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu terpantau tertutup kabut tipis hingga tebal dengan cuaca mendung. Angin bertiup tenang ke arah barat, suhu udara sekitar puncak tercatat 20 derajat Celsius, dan kelembapan mencapai 99 persen.(*)
