Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Akhir Pekan, Kenaikan IHSG Berlanjut ke Level 8.936

Jakarta: Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup naik 0,13 persen atau 11 poin ke level 8.936,74.
Suasana Main Hall Bursa Efek Indonesia dengan papan elektronik berisi informasi pergerakan indeks harga saham

Hari ini, sebanyak 359 saham harganya naik, 318 saham harganya turun dan 137 saham stagnan. “Saham sektor bahan baku, barang sekunder dan saham sektor energi naik paling kuat, sehingga mendorong kenaikan IHSG,” kata Tim Phillip Sekuritas Indonesia, Jumat (9/1/2026).

Meskipun dalam perdagangan hari ini, terjadi arus keluar modal asing, dengan jual bersih saham oleh investor asing sebesar Rp58,94 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual adalah saham BUMI, BMRI, AMMN, BBNI dan BULL.

Selain, sentimen pasar hari ini dipengaruhi oleh rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) oleh Bank Indonesia. IKK bulan Desember 2025 berdasarkan survei konsumen BI, turun tipis ke level 123,5 dari sebelumnya di level 124.

“IKK bulan November sebesar 124, merupakan level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir,” ucap Tim Phillip Sekuritas. Meski IKK menurun pada bulan Desember, masih di level optimis karena indeksnya di atas 100.

Dalam perdagangan di BEI hari ini, volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 57,02 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan sebanyak 3,46 juta kali transaksi. 

Sedangkan total nilai perdagangan mencapai Rp27,45 triliun. Sehingga kapitalisasi pasar hingga akhir pekan ini sebesar Rp16.330 triliun.

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia, hari ini mayoritas ditutup menguat. Pelaku pasar mencermati data inflasi Tiongkok yang naik sebesar 0,8 persen di bulan Desember.

“Kenaikan itu menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023. Sebelumnya, di bulan November, laju inflasi Tiongkok naik 0,7 persen,” ujar Tim Phillip Sekuritas.

Kenaikan inflasi di Tiongkok, disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan dan lonjakan harga sayuran serta buah segar. Secara keseluruhan, inflasi Tiongkok tahun 2025 tidak tumbuh dan lebih rendah dari target inflasi 2 persen.

“Hal tersebut menjadi sinyal bahwa kebijakan paket stimulus yang digulirkan pemerintah Tiongkok kurang berhasil. Paket stimulus belum mampu mendongkrak permintaan,” kata Tim Phillip Sekuritas.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads