Dibalik Kemegahan Masjid Istiqlal dalam Peringatan Isra Mikraj, Ini Komentar Jammah
Jakarta : Langit Jakarta tampak kelabu sejak pagi, menyelimuti kawasan Masjid Istiqlal dalam suasana teduh. Gerimis yang turun sesekali justru menghadirkan kesyahduan pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
![]() |
| Jemaah memadati ruang utama Masjid Istiqlal, Jakarta, saat peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Sabtu, 17 Januari 2026. (Foto) |
Tak jauh dari sana, rombongan jamaah dari Pandeglang tampak memadati pelataran masjid. Sainah bersama puluhan anggota pengajian berangkat sejak dini hari demi menimba ilmu dan ketenangan.
Ia merasakan suasana sejuk akibat hujan justru membuat ibadah terasa lebih nyaman. Bagi Sainah, peringatan Isra Mikraj di Istiqlal menghadirkan ketenangan yang sulit tergantikan.
Langkah-langkah jemaah terus mengalir dari berbagai penjuru. Mereka datang membawa doa, harap, dan kerinduan akan makna perjalanan Rasulullah SAW.
Di antara kerumunan itu, Yani Hizriani tiba dari Kabupaten Bogor dengan wajah penuh syukur. Perjalanan panjang ia tempuh demi merasakan langsung peringatan Isra Mikraj di masjid kebanggaan bangsa.
![]() |
| Jemaah asal Kabupaten Bogor, Yani Hizriani saat ditemui RRI, di pelataran Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026. (Foto) |
Bagi Yani, Masjid Istiqlal bukan sekadar bangunan megah. Ia memaknainya sebagai ruang spiritual yang menghadirkan rasa sakral dan ketenangan batin.
"Karena Istiqlal ini memang masjid terbesar di Indonesia, momen banget ya. Jadi memang pengen bisa kesini,” kata Yani, Sabtu, 17 Januari 2026.
Gerimis yang turun seolah mengiringi doa-doa yang ia panjatkan. “Kalau belum sampai Tanah Suci, Istiqlal ini ibarat miniatur Tanah Suci,” ucap Yani, lirih.
Kekhusyukan ibadah membuatnya larut dalam refleksi. Isra Mikraj, menurutnya, menjadi pengingat tentang makna salat sebagai tiang kehidupan seorang muslim.
“Kayaknya memang banyak banget hikmah yang dari Isra Mikraj gitu ya. Terutama ibadah salat kita,” ujarnya.
Tak jauh dari sana, rombongan jemaah dari Pandeglang tampak memadati pelataran masjid. Sainah bersama puluhan anggota pengajian berangkat sejak dini hari demi menimba ilmu dan ketenangan.
Meski lelah, suasana sejuk akibat hujan membuatnya merasa nyaman berada di dalam masjid. Bagi Sainah, memperingati Isra Mikraj di Masjid Istiqlal memberikan pengalaman batin yang berbeda.
“Saya ingin memperdalam ilmu perjalanan Nabi Muhammad SAW. Menurut saya, suasana di Masjid Istiqlal pagi ini dingin ya,” ujar Sainah.
Sementara itu, Muhammad Sya’ban datang ke Istiqlal dengan niat bersilaturahmi sekaligus mengikuti peringatan Isra Mikraj. Pertemuan dengan sahabat lama ia rasakan semakin bermakna di tengah suasana religius.
“Pertama saya bersilaturahmi sama teman-teman itu sudah janjian di Istiqlal. Jadi, ada beberapa poin lah kemudian yang kita dapatkan gitu, silaturahmi Isra Mikraj,” ujar Sya’ban.
Di balik kekhusyukan ibadah, aktivitas ekonomi kecil tetap berjalan di sekitar kawasan masjid. Para pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berusaha bertahan meski cuaca kurang bersahabat.
Pedagang asal Situbondo Jawa Timur, Taufik Rahman, tetap membuka lapak selama peringatan Isra Mikraj berlangsung. Ia mengamati jumlah jamaah tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya akibat hujan yang turun.
“Peringatan Isra Mikraj di Istiqlal kemarin cukup bagus, cukup berjalan dengan lancar. Hanya saja kendalanya kemarin dengan cuaca,” ujar Taufik, seperti dikutip dari RRI.
Pedagang asal Situbondo Jawa Timur, Taufik Rahman, tetap membuka lapak selama peringatan Isra Mikraj berlangsung. Ia mengamati jumlah jamaah tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya akibat hujan yang turun.
“Peringatan Isra Mikraj di Istiqlal cukup bagus, cukup berjalan dengan lancar. Hanya saja kendalanya kemarin dengan cuaca,” ujar Taufik.
Menurutnya, kondisi cuaca turut memengaruhi jumlah pembeli yang datang ke lapaknya. Meski terjadi penurunan, ia tetap bersyukur karena penjualan masih berjalan.
“Kondisi penjualan juga sama, tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kondisi penjualan pada tahun ini ada penurunan, tapi tidak terlalu drastis,” kata Taufik.
Ia menyebut makanan ringan menjadi produk yang paling diminati jamaah di tengah suasana hujan. Taufik menilai momen keagamaan seperti ini sangat membantu keberlangsungan usaha kecil di kawasan Istiqlal.
“Sangat membantu, sangat membantu sekali. Syukur-syukur bisa ditingkatkan banyak acara-acara yang lebih bisa mendukung kegiatan UMKM selama ini,” ucap Taufik.
Bagi Taufik, kegiatan keagamaan bukan sekadar peristiwa spiritual, tetapi juga sumber penghidupan. Ia berharap ke depan kegiatan serupa terus digelar dengan dukungan yang lebih baik bagi pedagang.
“Harapan kami sangat besar ya, supaya bisa menambah omzet pendapatan kami. Hal ini dikarenakan setiap bulan biaya yang kami keluarkan cukup besar,” ujar Taufik.
Di bawah langit mendung Jakarta, Masjid Istiqlal menjadi ruang pertemuan doa, harapan, dan perjuangan hidup. Hujan ringan yang turun seolah menyatukan ibadah, silaturahmi, dan denyut UMKM dalam satu suasana penuh makna.(*)



